Operasi "Firehose of Falsehood": Kampanye Disinformasi Melawan Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i192092-operasi_firehose_of_falsehood_kampanye_disinformasi_melawan_iran
Pars Today - Bersamaan dengan dimulainya perundingan Iran dan Amerika di Zurich, sekali lagi gelombang narasi dan penyebaran berita yang belum terverifikasi terbentuk di media sosial dan beberapa media Barat. Sebuah proses yang oleh pejabat-pejabat Iran digambarkan sebagai bagian dari "kampanye informasi palsu" dengan tujuan mempengaruhi opini publik dan ruang perundingan.
(last modified 2026-06-26T08:06:47+00:00 )
Jun 26, 2026 15:01 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Donald Trump
    Presiden AS Donald Trump

Pars Today - Bersamaan dengan dimulainya perundingan Iran dan Amerika di Zurich, sekali lagi gelombang narasi dan penyebaran berita yang belum terverifikasi terbentuk di media sosial dan beberapa media Barat. Sebuah proses yang oleh pejabat-pejabat Iran digambarkan sebagai bagian dari "kampanye informasi palsu" dengan tujuan mempengaruhi opini publik dan ruang perundingan.

Melansir Mehr News Agency, 26 Juni 2026, dalam beberapa hari terakhir, klaim-klaim telah beredar tentang persetujuan Iran untuk inspeksi segera atas fasilitas-fasilitas nuklir yang rusak, pertemuan pejabat-pejabat Iran dengan Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional, pembebasan aset-aset Iran yang dibekukan, dan bahkan perubahan sikap Tehran dalam perundingan, tetapi dalam waktu singkat, sebagian signifikan dari klaim-klaim ini disangkal oleh pejabat-pejabat resmi Republik Islam Iran.

Penyangkalan Klaim Kesepakatan dengan IAEA

Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri, dalam reaksi terhadap berita-berita yang diterbitkan tentang kesepakatan Iran dengan Badan Tenaga Atom Internasional mengumumkan, "Di Swis, tidak ada pertemuan dengan Rafael Grossi, meskipun atas permintaannya. Juga tidak ada rencana untuk akses ke fasilitas-fasilitas yang telah diserang dan bahan-bahan nuklir."

Ia juga dengan merujuk pada rekayasa media seputar masalah ini menulis, "Anda tidak bisa dengan kebisingan media, melanjutkan kebijakan 'Firehose of Falsehood'."

Pernyataan Gharibabadi disampaikan beberapa jam setelah Rafael Grossi mengatakan bahwa inspeksi-inspeksi IAEA terhadap fasilitas-fasilitas nuklir Iran akan dilanjutkan, meskipun ia tidak memberikan waktu spesifik untuk itu. Direktur Jenderal Badan juga mengklaim bahwa nota kesepahaman antara Iran dan Amerika menegaskan bahwa aktivitas-aktivitas nuklir Iran akan berada di bawah pengawasan IAEA.

Perbedaan nyata antara narasi resmi Tehran dan pernyataan Direktur Jenderal Badan ini, sekali lagi menonjolkan peran media dan media sosial dalam mengubah spekulasi menjadi "berita pasti".

Narasi Berbeda Iran tentang Perundingan Zurich

Salah satu sumbu operasi media lainnya adalah cara penyelenggaraan perundingan empat pihak di Swis.

Ketua delegasi perunding Iran dalam menguraikan rincian pertemuan ini mengumumkan bahwa Republik Islam sejak awal telah menentang kehadiran dalam satu bingkai gambar bersama dengan delegasi Amerika, dan masalah ini juga telah disampaikan kepada para mediator.

Menurutnya, di tengah perundingan, setelah Donald Trump mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang mengancam terhadap Iran, Presiden, dan tim perunding, delegasi Iran menghentikan perundingan dan meninggalkan pertemuan.

Ghalibaf menegaskan, "Berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani, prinsip pertama perundingan adalah tidak adanya ancaman dan paksaan; tetapi ketika Presiden Amerika secara bersamaan dengan perundingan mengancam Iran, kami menganggap kelanjutan perundingan bertentangan dengan nota kesepahaman itu sendiri dan tidak kembali ke pertemuan."

Menurut kepala delegasi Iran, setelah keluarnya Tehran dari pertemuan, pihak Amerika berusaha dengan mediasi Qatar dan Pakistan untuk melanjutkan perundingan, tetapi Iran hanya berbicara dengan para mediator dan tidak bersedia melakukan perundingan langsung dengan perwakilan Amerika.

Klaim Vance tentang Aset Iran: Narasi yang Disangkal

Dalam contoh lain dari berita-berita kontroversial, JD Vance, Wakil Presiden Amerika, mengklaim bahwa jika aset-aset Iran dibebaskan, sumber-sumber keuangan ini selain akan membuat petani-petani Amerika lebih kaya, juga akan menyediakan pangan bagi rakyat Iran.

Klaim ini menghadapi reaksi cepat dari pejabat-pejabat Iran, dan baik Mohammad Bagher Ghalibaf maupun Abdolnaser Hemmati menyangkalnya dan menganggapnya tidak memiliki dasar nyata.

Pola Berulang Perang Narasi

Kajian terhadap perkembangan terbaru menunjukkan bahwa bersamaan dengan setiap putaran perundingan atau peningkatan ketegangan politik, volume penyebaran berita-berita yang belum terverifikasi, kutipan-kutipan yang tidak lengkap, gambar-gambar di luar konteks, dan analisis-analisis yang berpihak di media sosial, juga oleh pejabat-pejabat tinggi Amerika, dari Trump hingga Vance dan Rubio, meningkat.

Dalam banyak kasus, pertama sebuah klaim dikemukakan oleh seorang pejabat politik atau media, kemudian ratusan akun di media sosial menyebarkannya kembali, dan setelah persepsi publik terbentuk, sanggahan-sanggahan resmi diterbitkan; tetapi jangkauan penyebaran berita awal biasanya jauh lebih luas dari koreksi-koreksi berikutnya.

Para pakar komunikasi menganggap metode ini sebagai salah satu taktik "operasi informasi" yang paling dikenal. Sebuah pola di mana tujuan utamanya adalah menanamkan sebuah narasi dalam pikiran audiens, bahkan jika kemudian terbukti tidak benar. Dalam literatur media, metode ini disebut "lontarkan dan biarkan menetap" atau Firehose of Falsehood (selang kebakaran kebohongan); yaitu produksi simultan sejumlah besar narasi yang terkadang kontradiktif untuk menciptakan kebingungan, mengikis kepercayaan publik, dan mempengaruhi pengambilan keputusan politik. Hasil dari operasi ini adalah bahwa sebagian masyarakat Iran mempercayai kebohongan-kebohongan ini dan terkadang mengkritik tim perunding dengan sangat keras.

Media Sosial: Medan Utama Perang Kognitif

Berbeda dengan masa lalu ketika media-media resmi memainkan peran utama dalam penyebaran berita, hari ini media sosial telah berubah menjadi landasan terpenting operasi psikologis. Kecepatan penyebaran konten, penggunaan akun-akun anonim, kecerdasan buatan untuk memproduksi teks dan gambar, dan aktivitas jaringan-jaringan terkoordinasi, telah menyediakan kemungkinan untuk membentuk opini publik dengan cepat.

Dalam kondisi seperti ini, para pakar menekankan bahwa verifikasi berita, merujuk pada sumber-sumber resmi, dan menghindari penyebaran kembali berita-berita yang belum terverifikasi, adalah solusi terpenting untuk menghadapi perang narasi dan kampanye-kampanye informasi palsu.

Penyangkalan klaim-klaim tentang inspeksi IAEA, narasi berbeda Iran tentang perundingan Swis, dan penolakan pernyataan-pernyataan pejabat Amerika tentang aset-aset Iran, hanyalah contoh-contoh dari pertentangan dua narasi di ruang media hari-hari terakhir. Tampaknya bersamaan dengan setiap perkembangan diplomatik, pertempuran utama tidak hanya berlangsung di belakang meja perundingan; melainkan di media sosial dan lapangan opini publik juga terbentuk kompetisi ketat untuk menanamkan narasi yang dominan; kompetisi di mana kecepatan penyebaran berita terkadang melampaui ketepatan dan kebenarannya, dan "perang kognitif" telah berubah menjadi salah satu dimensi terpenting perselisihan politik dan internasional.

Analisis ini menyingkap dinamika perang narasi yang sangat canggih di era digital. Istilah "lontarkan dan biarkan menetap" (atau Firehose of Falsehood) adalah konsep yang berasal dari literatur operasi informasi Rusia, tetapi kini diterapkan secara universal. Logikanya sederhana tapi efektif: banjiri audiens dengan begitu banyak klaim, bahkan yang kontradiktif, sehingga mereka tidak bisa lagi membedakan mana yang benar. Ketika koreksi datang, sudah terlambat: narasi palsu sudah "menetap" di pikiran. Yang paling menarik adalah pengakuan bahwa operasi ini tidak hanya dilakukan oleh akun-akun anonim, tapi juga oleh pejabat-pejabat tinggi Amerika, dari Trump hingga Vance dan Rubio. Ini menunjukkan bahwa disinformasi bukan lagi "operasi gelap", tetapi telah menjadi bagian dari diplomasi terbuka. Dan dampaknya nyata: sebagian masyarakat Iran percaya kebohongan ini dan mengkritik tim perunding mereka sendiri. Ini adalah kemenangan perang kognitif yang paling berbahaya: ketika musuh berhasil membuatmu melawan dirimu sendiri.(Sail)