Rezeki Nomplok dari Perang Iran Tersangkut di Tenggorokan Gedung Putih
-
Gedung Putih
Pars Today - Kantor berita Anadolu dalam sebuah laporan menulis bahwa meskipun kenaikan harga minyak akibat perang Iran telah melipatgandakan keuntungan raksasa-raksasa minyak Amerika, lonjakan harga bensin yang signifikan menjelang pemilihan umum paruh waktu Kongres AS justru telah menjadi kekhawatiran utama rakyat negara itu.
Sebagaimana dilaporkan IRNA pada Sabtu malam, 11 Juli 2026, Anadolu dalam laporannya menulis, "Lonjakan harga minyak diperkirakan akan meningkatkan laba perusahaan-perusahaan energi besar AS secara signifikan pada kuartal kedua tahun ini. Namun, pendapatan tak terduga ini sekaligus memperkuat tekanan politik terhadap Gedung Putih, karena kenaikan harga bensin menjelang pemilihan paruh waktu bulan November telah menjadi salah satu isu sentral bagi para pemilih.
Meskipun kenaikan harga minyak mentah telah mendorong pendapatan dan ekspektasi laba perusahaan-perusahaan raksasa seperti ExxonMobil, Chevron, dan ConocoPhillips, tren yang sama juga menyebabkan kenaikan biaya bahan bakar bagi konsumen Amerika.
Situasi yang kontradiktif ini menempatkan pemerintahan Donald Trump pada posisi yang sulit, memaksanya untuk mencari keseimbangan antara sektor energi yang diuntungkan oleh booming pasar minyak, dan di sisi lain, upaya pemerintah untuk menekan inflasi serta mengendalikan harga bensin.
Rally Minyak Memperkuat Prospek Laba Perusahaan Migas
Menurut perkiraan London Stock Exchange Group (LSEG), ExxonMobil diperkirakan mencatat laba bersih sebesar 15,7 miliar dolar AS pada kuartal kedua tahun ini, angka yang hampir tiga kali lipat laba kuartal pertama perusahaan, didukung oleh harga minyak yang tinggi selama perang Amerika dan (rezim) Israel melawan Iran, serta peningkatan margin keuntungan kilang.
Chevron juga diproyeksikan mencatat laba bersih 9,9 miliar dolar AS, lebih dari tiga kali lipat laba kuartal pertama. Selain itu, para analis memperkirakan ConocoPhillips juga akan mengalami profitabilitas yang lebih kuat berkat kinerja produksi yang baik.
Perusahaan-perusahaan jasa ladang minyak kemungkinan juga akan menunjukkan kinerja yang lebih baik, diuntungkan oleh peningkatan margin dan pertumbuhan investasi. Para analis meyakini bahwa perusahaan SLB (salah satu perusahaan jasa minyak terbesar di dunia) bisa menjadi salah satu pemenang besar dalam siklus investasi baru, siklus yang didorong oleh pengembangan teknologi digital dan pusat data.
Perusahaan jasa minyak multinasional Halliburton juga diperkirakan akan diuntungkan oleh terbatasnya kapasitas layanan di Amerika Utara.
Kenaikan Harga Bensin Menjadi Tantangan Politik
Seiring dengan merambatnya kenaikan harga minyak mentah ke pasar bahan bakar, harga bensin semakin menekan anggaran rumah tangga Amerika. Tren ini, menjelang pemilihan paruh waktu November, telah menjadi tantangan politik bagi pemerintahan dan sekali lagi menyoroti permintaan berulang Trump untuk menurunkan harga minyak dan bensin. Pada 24 Juni, Trump mengatakan bahwa penurunan harga minyak mentah belum sepenuhnya tercermin dalam harga bensin, dan meminta Departemen Kehakiman AS untuk menyelidiki masalah ini.
Dengan alasan bahwa perusahaan-perusahaan minyak besar gagal meneruskan penurunan biaya minyak mentah kepada konsumen, Trump mengklaim bahwa rakyat Amerika masih harus membayar harga bahan bakar yang "tidak perlu dan tinggi", dan harga bensin harus turun lebih cepat. (Padahal, kenaikan harga bahan bakar di musim semi, baik di AS maupun di negara-negara lain di dunia, adalah konsekuensi langsung dari perangnya terhadap Iran.)
Pernyataan dan klaim ini muncul hanya beberapa bulan sebelum pemilihan yang akan menentukan nasib kendali Kongres AS, tepat ketika ketegangan geopolitik dan intensifikasi sanksi terhadap Iran masih mendukung harga minyak. Namun, harga minyak Brent tetap jauh lebih rendah dari level yang tercatat pada bulan April dan Mei.
"Presiden AS di Tahun Pemilu Tidak Tahan dengan Bensin Mahal"
Usama Rizvi, analis energi dan ekonomi di lembaga Amerika Primary Vision Network, mengatakan kepada Anadolu bahwa kondisi pasar saat ini tepat digambarkan sebagai periode terbentuknya "keuntungan akibat perang", dan tahun 2026 sejauh ini merupakan tahun yang sangat menguntungkan bagi industri minyak.
Namun, ia menambahkan bahwa konsumenlah yang membayar harga dari situasi ini, seraya menunjuk pada melemahnya pasar tenaga kerja dan indeks kepercayaan konsumen yang secara historis rendah dalam ekonomi AS.
Analis energi ini menekankan bahwa dengan mendekatnya pemilihan paruh waktu, kenaikan harga bensin telah menjadi risiko politik yang serius bagi Trump dan Partai Republik. Presiden-presiden AS sangat menyadari bahwa pada tahun pemilu, mereka tidak punya kapasitas untuk menoleransi dua hal, "bensin mahal dan peti mati prajurit." Poin kedua bergantung pada apakah Trump akan melancarkan invasi darat ke Iran atau tidak; dan poin pertama mencerminkan berapa lama AS dapat melanjutkan konflik.
Gedung Putih dan Industri Energi AS; Sekutu atau Lawan?
Ia juga mengingatkan bahwa cadangan bahan bakar sedang menurun dan pasar produk minyak menghadapi kekurangan pasokan, sehingga selisih antara harga minyak mentah dan margin keuntungan produk kilang telah mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Gaurav Sharma, analis pasar minyak independen, mengatakan bahwa "kekhawatiran awal bahwa perang Amerika dan rezim Israel terhadap Iran dapat mendorong harga minyak ke 175–200 dolar per barel, sebagian besar tidak terwujud karena tingginya pasokan minyak AS. Harga di atas 100 dolar per barel secara langsung menguntungkan perusahaan-perusahaan AS karena pembeli Asia mengantre untuk membeli minyak manis ringan AS."
Ia meyakini bahwa "jika harga bensin tetap tinggi hingga pemilihan, Trump kemungkinan akan meningkatkan tekanan pada perusahaan-perusahaan energi. Namun, baik pasar maupun produsen hanya dapat merespons realitas ekonomi dan bertindak berdasarkan itu. Jadi, perselisihan antara Gedung Putih dan industri minyak kemungkinan akan berlanjut, karena Trump terus berupaya memposisikan dirinya sebagai pembela konsumen."
Sharma mengklaim bahwa "di balik layar, hubungan antara Gedung Putih dan industri energi AS tidak pernah sebaik ini. AS kini memiliki posisi yang kuat sebagai salah satu eksportir minyak terbesar dan eksportir gas alam cair terkemuka di dunia."(Sail)