Perang Ekonomi AS vs Iran: Akankah Kali Ini Berhasil?
-
Menteri keuangan AS
Pars Today - Sementara perang AS dan rezim Zionis melawan Iran telah mencapai jalan buntu dan kampanye militer tidak mampu mencapai tujuan-tujuan yang ditentukan, Washington telah mengubah strateginya dan memindahkan poros konfrontasi dari medan militer ke arena ekonomi.
Menurut laporan Pars Today, dengan kegagalan militer AS di hadapan Iran, Scott Bessent, Menteri Keuangan AS, Senin (24/8) dalam sebuah konferensi pers, dengan perintah langsung Trump, mengumumkan "Operasi Pengucilan Ekonomi Iran" (Operation Economic Outcast). Ia mengumumkan dimulainya operasi yang tujuannya dinyatakan sebagai "pencekikan ekonomi" Iran dan pemutusan semua jalur vital keuangan Iran.
Bessent menyamakan tindakan-tindakan ini dengan "hari invasi besar" ekonomi dan invasi finansial terbesar yang pernah direncanakan terhadap musuh, dan memperingatkan bahwa setiap negara yang memiliki hubungan dagang dengan Iran, "akan berbagi dalam isolasi Iran" dan "tidak ada seorang pun yang berada di luar jangkauan sanksi AS." Ia memperingatkan negara-negara di dunia (termasuk Tiongkok) bahwa sanksi-sanksi sekunder akan diberlakukan terhadap setiap lembaga yang berperan dalam memfasilitasi transaksi minyak Iran, dan tidak ada seorang pun yang kebal dari hukuman Washington.
Sanksi-sanksi baru ini menargetkan lima bidang utama yaitu aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan transportasi laut, dan selain itu, lebih dari 60 lembaga, individu, dan kapal di seluruh dunia dikenai sanksi. Pemerintahan Trump juga telah menyatakan bahwa setiap fasilitasi pencucian uang untuk kepentingan Iran, akan mengakibatkan pengusiran dari sistem dolar.
Namun demikian, apa yang menghadapkan strategi baru Washington dengan tantangan serius, adalah penurunan signifikan dukungan publik AS terhadap kelanjutan perang dengan Iran. Berdasarkan survei terbaru Reuters/Ipsos yang dirilis pada hari Senin, hanya 31 persen warga AS yang mendukung tindakan-tindakan militer AS terhadap Iran; angka yang turun dari 37 persen pada bulan Maret dan 34 persen pada awal bulan ini.
Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan dukungan di kalangan Republik; di mana tingkat dukungan terhadap perang turun dari 77 persen pada bulan Maret menjadi 69 persen. Sementara itu, tingkat popularitas Donald Trump juga berada pada tingkat terendah selama masa kepresidenannya, dan hanya 33 persen responden yang menyetujui kinerjanya. Selain itu, 83 persen warga AS percaya bahwa perang ini "akan berlangsung untuk waktu yang lama." Angka-angka ini menunjukkan bahwa tidak hanya basis sosial perang yang tergerus, tetapi Gedung Putih juga menghadapi masalah delegitimasi kebijakannya di dalam negeri.
Di sisi lain, Iran, dengan mengandalkan pengalaman hampir lima dekade dalam menghadapi sanksi-sanksi AS, telah mengadopsi strategi-strategi yang beragam dan didasarkan pada pemahaman mendalam tentang kekuatan dan kelemahannya sendiri. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam sebuah pernyataan menyebut ekonomi sebagai "medan utama pertempuran" dengan musuh, dan menekankan koordinasi semua lembaga yang bertanggung jawab di bidang ekonomi, perdagangan, minyak, industri, pertanian, perbankan, dan diplomasi untuk menetralisir efek sanksi. Juga, Mohammad Mokhber, Penasihat dan Asisten Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, telah menyatakan bahwa Iran telah menyiapkan "rencana kontra" untuk semua tindakan permusuhan AS, termasuk tekanan ekonomi.
Kartu truf utama Iran dalam menghadapi blokade laut dan perang ekonomi, adalah posisi geopolitiknya yang unik di Selat Hormuz. Iran secara praktis telah melembagakan kontrol atas lalu lintas di jalur air strategis ini. Juga, pejabat-pejabat senior Iran, termasuk Mohsen Rezaei, Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, telah secara tegas memperingatkan bahwa jika perang ekonomi meningkat, tidak ada minyak yang akan diekspor dari Selat Hormuz dan bahkan Teluk Persia; sebuah ancaman yang dapat menyebabkan guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada pasar energi global. Selain itu, Iran, dengan memanfaatkan "armada bayangan," transportasi darat, dan jalur-jalur alternatif, berupaya mempertahankan ekspor minyak dan pasokan barang-barang pokok sebanyak mungkin.
Di tingkat regional, Iran juga menggunakan strategi "kartu regional"; pemberian izin khusus kepada kapal-kapal Irak dan kesepakatan dengan Oman tentang jalur-jalur pelayaran, adalah contoh-contoh upaya Tehran untuk menciptakan perpecahan di front negara-negara yang sejalan dengan AS dan mendorong mereka menuju pendekatan yang lebih rasional. Meskipun perang dan blokade laut telah memberikan tekanan berat pada ekonomi Iran, namun para ahli percaya bahwa mengingat sejarah panjang Iran dalam bertahan melawan sanksi dan memiliki berbagai alat kontra, tekanan ekonomi AS belum tentu akan menyebabkan keruntuhan ekonomi atau perubahan perilaku Tehran.
Di sisi lain, apa yang membuat medan konfrontasi AS dan Iran lebih kompleks, adalah kontradiksi nyata antara strategi ekonomi ofensif Washington dan penurunan dukungan internal terhadapnya.
Pemerintahan Trump memulai operasi invasi ekonomi besar terhadap Iran sementara telah mencapai jalan buntu dalam perang militer melawan Iran dan juga telah kehilangan dukungan publik AS secara signifikan.
Di sisi lain, Iran, meskipun ada tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya, memiliki kartu-kartu strategis seperti Selat Hormuz, pengalaman akumulasi ekonomi perlawanan, dan kemampuan untuk menimbulkan biaya yang tak tertahankan bagi musuh. Apa yang akan terjadi dalam beberapa minggu dan bulan mendatang, bukan hanya ujian bagi ekonomi Iran yang selama beberapa dekade telah melawan tekanan dan sanksi ekonomi Washington, tetapi juga ujian bagi efektivitas strategi "pencekikan ekonomi" AS. Itu terjadi dalam kondisi di mana basis politik Donald Trump di dalam AS sendiri juga sangat goyah. (MF)