Pikiran Bunuh Diri Mungkin Tinggalkan Jejak Biologis di Otak
-
Otak manusia
Pars Today - Para peneliti di Netherlands Institute for Neuroscience, dengan memeriksa jaringan otak para donor, menemukan bahwa tingkat reseptor tertentu di sel-sel saraf individu yang meninggal karena bunuh diri secara signifikan lebih tinggi. Temuan ini dapat membantu mengidentifikasi biomarker untuk pencegahan bunuh diri.
Melaporkan IRNA dari TechDaily:
Pikiran bunuh diri yang intens dapat meninggalkan jejak yang dapat dideteksi di otak, dan jejak ini berubah seiring pemulihan individu. Para peneliti di Netherlands Institute for Neuroscience telah mengidentifikasi reseptor yang mungkin terkait dengan perubahan ini, menawarkan cara baru untuk mempelajari ketahanan dan pencegahan bunuh diri.
Di Belanda, sekitar lima orang meninggal karena bunuh diri setiap hari. Untuk setiap orang yang meninggal karena bunuh diri, sekitar dua puluh orang lainnya mencoba bunuh diri tetapi tidak berhasil. Meskipun ada statistik yang mengkhawatirkan ini, para ilmuwan masih memiliki sedikit informasi tentang perubahan biologis yang terjadi di otak individu dengan pikiran bunuh diri. Obat-obatan yang efektif yang secara khusus menargetkan pikiran-pikiran ini sangat dibutuhkan.
Biomarker yang Muncul di Luar Depresi
Lin Zhang, peneliti dalam studi ini, pertama-tama memeriksa jaringan otak para donor di Brain Bank Belanda. Pada tahap pertama, ia membandingkan individu dengan gangguan mood (seperti depresi) dengan mereka yang tidak memiliki gangguan ini, tetapi tidak menemukan perbedaan signifikan di area yang diteliti.
Namun ketika Zhang mengelompokkan para donor berdasarkan cara kematian mereka, pola yang lebih jelas muncul. Jaringan otak individu yang meninggal karena bunuh diri atau kematian dengan bantuan dokter (eutanasia) berbeda dari jaringan mereka yang meninggal secara alami. Menariknya, perbedaan ini terlihat bahkan pada individu yang tidak menderita gangguan mood.
Zhang menjelaskan, "Ini menunjukkan bahwa perubahan biologis yang terkait dengan pikiran bunuh diri yang intens mungkin, sampai batas tertentu, berbeda dari perubahan yang terkait dengan depresi."
Reseptor P2RX7; Biomarker Potensial
Para peneliti kemudian berfokus pada reseptor yang disebut P2RX7, yang berperan dalam bagaimana sel merespons stres, peradangan, dan proses produksi energi. Gambar mikroskopis dari jaringan otak menunjukkan bahwa donor yang meninggal karena bunuh diri atau eutanasia memiliki tingkat reseptor ini yang lebih tinggi di sel-sel saraf mereka.
Zhang, merujuk pada gambar mikroskopis, menjelaskan, "Satu gambar dari donor yang meninggal secara alami hampir tidak menunjukkan tanda, sementara tiga gambar lainnya ditutupi dengan titik-titik biru tua. Donor ini meninggal karena bunuh diri atau kematian dengan bantuan dokter."
Pemulihan; Kembali ke Keadaan Normal
Yang lebih menarik adalah bahwa dalam kelompok kematian alami, beberapa donor pernah mengalami pikiran atau upaya bunuh diri di masa lalu, tetapi pada saat kematian, tingkat reseptor P2RX7 di otak mereka tidak tinggi.
Zhang menjelaskan, "Ada kemungkinan bahwa tingkat P2RX7 pada individu-individu ini tinggi selama puncak pikiran bunuh diri, tetapi dengan pemulihan, kembali normal."
Jika reseptor ini naik dan turun dengan intensitas pikiran bunuh diri, mengukurnya dari waktu ke waktu dapat membantu para peneliti lebih memahami perubahan dalam pikiran-pikiran ini.
Langkah Selanjutnya; Menguji pada Individu Hidup
Langkah penting berikutnya adalah menentukan apakah pola yang sama terlihat pada individu yang hidup dan saat ini mengalami pikiran bunuh diri. Para peneliti di University of Amsterdam berencana untuk menggunakan pemindaian PET untuk mengukur sinyal yang terkait dengan reseptor P2RX7 di otak individu hidup.
Penelitian ini masih dalam tahap awal, dan para ilmuwan belum tahu apakah reseptor ini dapat secara andal menunjukkan keberadaan atau intensitas pikiran bunuh diri.
Zhang menyimpulkan, "Saya berharap reseptor ini dapat menjadi biomarker yang berguna, tetapi pertama-tama kita harus melihat apakah kita dapat mengamati pola yang sama pada individu hidup."
Dia, yang menerima pesan dari orang-orang yang pernah mengalami pikiran bunuh diri, menyampaikan pesan penuh harapan ini kepada mereka, "Otak Anda lebih mencintai Anda daripada yang Anda kira. Setiap sel dalam tubuh Anda berusaha melawan pikiran bunuh diri Anda. Bahkan jika Anda tidak merasa baik saat ini, pemulihan masih mungkin."
"Penelitian dari Netherlands Institute for Neuroscience ini mengungkapkan bahwa pikiran bunuh diri yang intens dapat meninggalkan jejak biologis di otak, yang berpotensi diukur melalui reseptor P2RX7.
Temuan Utama: Tingkat reseptor P2RX7 lebih tinggi di otak individu yang meninggal karena bunuh diri atau eutanasia, dibandingkan dengan mereka yang meninggal secara alami. Perbedaan ini tidak hanya terkait dengan depresi.
Potensi Biomarker: Reseptor P2RX7 dapat bertindak sebagai biomarker untuk pikiran bunuh diri, karena tingkatnya tampaknya menurun seiring pemulihan.
Implikasi: Temuan ini menawarkan harapan baru untuk pencegahan bunuh diri, karena dapat mengarah pada metode untuk mengidentifikasi dan memantau individu yang berisiko, serta mengembangkan pengobatan yang menargetkan jalur biologis spesifik ini.
Penelitian Lanjutan: Para peneliti sekarang berencana untuk menguji apakah pola yang sama terlihat pada individu hidup yang mengalami pikiran bunuh diri, menggunakan pemindaian PET.
Pesan Harapan: Penelitian ini menekankan bahwa pemulihan dari pikiran bunuh diri mungkin tercermin dalam perubahan biologis, menawarkan harapan bahwa otak dapat pulih dan bahwa intervensi dapat efektif."(Sail)