Mimpi Kuliah di Amerika Terkoyak Krisis: Kampus Tutup, Dosen Di-PHK
-
Mahasiswa AS
Pars Today - Masalah keuangan universitas-universitas di Amerika kini bukan lagi sekadar urusan para pengelola dan neraca keuangan lembaga pendidikan; pemotongan anggaran, penurunan jumlah pendaftar, dan pengurangan tenaga pengajar secara langsung merusak kehidupan dan masa depan mahasiswa.
Di saat banyak universitas terpaksa menghapus program studi, mengurangi staf, dan membatasi layanan demi bertahan, kebijakan pemerintah Donald Trump pun turut menambah tekanan pada pendidikan tinggi.
Melansir ISNA yang mengutip The Guardian, Rabu, 09 September 2026, contoh nyata dari situasi ini adalah Universitas Lynchburg, tempat di mana Nalia Motz, mahasiswa bioteknologi, memulai studinya pada tahun 2022 dengan tujuan menjadi dokter. Namun, penghapusan 12 program studi pada tahun 2024 dan pengurangan jumlah dosen membuatnya khawatir bahwa ia membutuhkan tambahan dua tahun untuk menyelesaikan studinya. Pada akhirnya, masalah keuangan dan pengurangan layanan kampus memaksanya untuk pindah ke universitas lain.
Lynchburg bukan satu-satunya. Analisis data pendidikan tinggi AS selama satu dekade menunjukkan bahwa ratusan universitas menghadapi tanda-tanda serius krisis keuangan. Dari sekitar 1.900 universitas yang diteliti, hampir 1.100 universitas antara tahun 2019 hingga 2024 mengalami penurunan pendaftaran setidaknya selama tiga tahun, universitas-universitas yang secara total memiliki sekitar 6,4 juta mahasiswa. Pendapatan dari uang kuliah juga menurun di sekitar 1.500 universitas, dan hampir 960 institusi kehilangan lebih dari 75.000 tenaga pendidik dalam periode yang sama.
Masalah menjadi lebih serius karena pengurangan jumlah dosen tidak selalu sebanding dengan penurunan jumlah mahasiswa. Universitas swasta nirlaba yang lebih bergantung pada uang kuliah, dalam banyak kasus, memangkas tenaga kerja lebih cepat daripada penurunan jumlah mahasiswa mereka. Akibatnya: kelas lebih sedikit, akses ke dosen dan konselor lebih terbatas, dan jalur kelulusan semakin sulit bagi mahasiswa.
Dampak krisis tidak hanya terbatas pada ruang kelas. Beberapa universitas mengurangi jam operasional perpustakaan, menutup layanan makanan atau apotek kampus, dan menaikkan biaya kuliah serta paket makan. Berkurangnya jumlah konselor akademik juga menyebabkan sebagian mahasiswa mengalami keterlambatan kelulusan atau kesulitan dalam memilih dan menyelesaikan mata kuliah yang diperlukan.
Penurunan pendaftaran juga merupakan masalah yang meluas dan terus bertambah. Pada tahun 2019, sekitar 53 persen universitas yang diteliti mengalami penurunan pendaftaran, angka ini meningkat hingga 58 persen pada tahun 2024. Universitas negeri pun berada di bawah tekanan yang lebih besar, dan satu dari tiga universitas negeri kehilangan setidaknya 10 persen mahasiswanya antara tahun 2019 hingga 2024.
Prospek demografis juga tidak memberikan kabar baik bagi universitas. Berkurangnya jumlah lulusan sekolah menengah atas dalam beberapa tahun ke depan berarti persaingan yang lebih ketat antar institusi untuk merekrut mahasiswa, hal yang dapat semakin menekan keuangan universitas-universitas kecil.
Di tengah situasi ini, universitas-universitas juga mengandalkan perekrutan mahasiswa internasional untuk menutupi penurunan pendapatan, mahasiswa yang biasanya membayar uang kuliah penuh. Namun, kebijakan pemerintah Trump yang mempersulit proses perolehan visa bagi mahasiswa asing mengancam salah satu sumber pendapatan universitas.
Para pakar memperingatkan bahwa efisiensi dan pengecilan skala universitas mungkin membantu menyeimbangkan anggaran dalam jangka pendek, tetapi biaya riilnya mungkin harus ditanggung oleh mahasiswa yang menghadapi kelas lebih sedikit, dosen lebih sedikit, layanan yang lebih buruk, dan bahkan keterlambatan kelulusan.
"Ratusan universitas di AS menghadapi krisis keuangan serius yang ditandai dengan penurunan pendaftaran, pemotongan anggaran, dan pengurangan dosen secara besar-besaran. Dampaknya langsung dirasakan mahasiswa: kelas lebih sedikit, akses ke dosen terbatas, layanan kampus dipangkas (perpustakaan, makanan, apotek), biaya kuliah naik, dan kelulusan tertunda. Krisis ini diperparah oleh kebijakan Trump yang mempersulit visa mahasiswa asing, padahal mereka menjadi sumber pendapatan penting. Prospek demografis juga buruk karena jumlah lulusan SMA terus menurun, sehingga persaingan antar kampus semakin ketat."(Sail)