Trump Klaim Dialog Konstruktif, Janji Tak Serang Iran Sebelum Pemilu
-
Presiden AS Donald Trump
Pars Today - Donald Trump, Presiden Amerika, dalam kelanjutan kontradiksinya mengklaim: Kami sedang melakukan pembicaraan konstruktif dengan Iran.
Melansir IRNA, Kamis, 08 Oktober 2026, Trump pada hari Kamis waktu setempat di media sosial Truth Social miliknya dengan mengulangi klaim, retorika, dan tuntutan berlebihan Washington mengklaim, "Kami sedang melakukan pembicaraan konstruktif dengan Republik Islam Iran. Saya ingin memperjelas kepada semua orang bahwa, meskipun Iran berada dalam situasi yang sangat buruk secara ekonomi dan militer dan meskipun blokade akan terus berlanjut dengan segala intensitas dan sepenuhnya, tetapi pada saat yang sama, minyak melintasi Selat Hormuz dengan rekor yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hanya tadi malam 22 juta barel minyak melintasi selat ini."
Presiden Amerika yang gemar berperang, yang bergulat dengan konsekuensi ekonomi perang terhadap Iran di ambang pemilihan paruh waktu Kongres pada 3 November, mengklaim, "Kami tidak akan menyerang Iran pada momen apa pun sebelum pemilihan paruh waktu Amerika, yang akan digelar 3 November. Iran tidak akan mendapatkan senjata nuklir!"
Klaim Trump muncul di tengah ia hingga kini dua kali menyerang Iran di tengah perundingan dan juga melanggar Nota Kesepahaman Islamabad. Ia bersamaan dengan klaim kemenangan berulang kali menuntut perundingan untuk mencapai tuntutan berlebihan Washington yang tidak mampu ia capai di medan perang militer.
Karena itu, kebingungan telah menjadi salah satu kelemahan terpenting politik luar negeri pemerintahan Trump terhadap Iran dan tidak adanya "tujuan strategis yang tetap" diajukan sebagai salah satu poros kebingungan ini oleh politisi dan media Amerika.
Perilaku kontradiktif Trump di ambang pemilihan paruh waktu Kongres Amerika menunjukkan bahwa ia lebih mencari narasi tentang kemenangan yang diklaimnya dalam agresi tanpa alasan terhadap Iran, kebijakan yang secara praktis berujung pada pendalaman ketidakpercayaan Tehran dan penghindaran berulang Washington dari memenuhi komitmen dalam kesepakatan yang ditandatangani oleh presiden negara ini.
Pendekatan Trump terhadap Iran menyebabkan kekecewaan sebagian Republik yang lelah perang, kelompok yang pada beberapa kesempatan juga mencakup JD Vance, Wakil Presiden, dan sejumlah aktivis politik dan khawatir tentang berkepanjangannya perang dan konsekuensinya terhadap harga bahan bakar dan pemilihan paruh waktu.
“Donald Trump dalam unggahan di Truth Social mengklaim sedang melakukan pembicaraan konstruktif dengan Iran. Ia menyatakan meskipun Iran dalam situasi buruk secara ekonomi dan militer dan blokade akan terus berlanjut, minyak melintasi Selat Hormuz dengan rekor belum pernah terjadi sebelumnya, hanya tadi malam 22 juta barel minyak melintasi selat ini.”(Sail)