Polemik TTIP antara AS dan Uni Eropa
https://parstoday.ir/id/news/world-i23902-polemik_ttip_antara_as_dan_uni_eropa
Kanselir Austria, Christian Kern menyatakan negaranya tidak sepakat dengan perjanjian perdagangan bebas Kerja Sama Investasi dan Perdagangan Transatlantic (TTIP) antara Uni Eropa dan AS dengan mempertimbangkan hasil perundingan dan program yang ada saat ini.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 23, 2016 15:31 Asia/Jakarta
  • Polemik TTIP antara AS dan Uni Eropa

Kanselir Austria, Christian Kern menyatakan negaranya tidak sepakat dengan perjanjian perdagangan bebas Kerja Sama Investasi dan Perdagangan Transatlantic (TTIP) antara Uni Eropa dan AS dengan mempertimbangkan hasil perundingan dan program yang ada saat ini.

Kern mengungkapkan, kini saatnya meninjau ulang kebijakan perdagangan Uni Eropa. Ditegaskannya, pihaknya tidak tertarik lagi untuk membahas masalah ini seperti kesepakatan perdagangan bebas dengan Kanada ketika terlambat untuk memperjelas masalah utamanya.

Dalam pertemuan tingkat tinggi Uni Eropa di Brussel terjadi friksi pandangan yang sangat tajam mengenai perdagangan bebas antara Uni Eropa dan AS. Selain masalah tersebut, antaranggota Uni Eropa memiliki perbedaan pandangan terkait masalah krisis imigran hingga penanganan terorisme.

Di tubuh Uni Eropa sendiri, Kerja Sama Investasi dan Perdagangan Transatlantic (TTIP) antara Uni Eropa dengan AS memecah perhimpunan negara-negara Eropa ini dalam dua kutub besar, pendukung dan penolak perdagangan bebas. Negara-negara kuat Uni Eropa menyerukan supaya kesepakatan tersebut ditandatangani secepatnya. Salah satunya ditegaskan Kanselir Jerman, Angela Merkel. Tapi di Jerman sendiri tidak seluruh pejabat setuju. Sigmar Gabriel, Menteri Ekonomi dan wakil kanselir Jerman menentangnya. Gabriel menilai perundingan kesepakatan perdagangan bebas dengan AS telah gagal, dan penyebabnya adalah Washington.

Penentangan sebagian pejabat tinggi negara-negara Eropa terhadap perjanjian perdagangan bebas bertumpu pada dampak dari kesepakatan tersebut terhadap investor, industri, sektor pertanian, dan layanan sosial terhadap warga di negara-negara Eropa. Kanselir Austria termasuk yang pihak yang menegaskan masalah tersebut. Kern khawatir jika kesepakatan tersebut dijalankan perilaku terhadap investor Austria dan Eropa lebih buruk dari investor AS.

Meski demikian, di tengah tingginya gelombang kritik terhadap proses perundingan perdagangan bebas antara Uni Eropa dan AS, Komisi Eropa tetap menekankan berlanjutnya perundingan tentang masalah tersebut. Presiden Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker dalam hal ini menyatakan, perjanjian ini sangat penting dan menjadi prioritas bagi Eropa.

Pada saat yang sama AS mendukung berlanjutnya perundingan hingga mencapai kesepakatan final. Duta Besar AS untuk Jerman, John Emerson menilai hingga akhir tahun ini akan tercapai kesepakatan antara kedua belah pihak.

Sejak sekitar tiga tahun lalu, AS dan Uni Eropa berunding mengenai perjanjian perdagangan bebas. Para pengkritik perdagangan bebas mengkhawatirkan terjadinya pelemahan hak konsumen dan standar Eropa sebagai dampak dari kesepakatan tersebut. 

Selain itu, penentang perjanjian perdagangan bebas juga mengemukakan alasan seperti pencemaran lingkungan, dan kerugian di sektor pertanian dan hilangnya sebagian lapangan kerja di negara-negara Eropa. Selain politisi negara-negara Eropa, para aktivis lingkungan dan sejumlah perusahaan Eropa juga menentang perjanjian perdagangan  bebas dengan AS.

Sebaliknya, pendukung perjanjian perdagangan bebas menilainya dengan optimisme. Menurut mereka, jika perjanjian perdagangan bebas ini antara Uni Eropa dan AS diterapkan, maka hubungan perdagangan antara kedua belah pihak akan meningkat. Diprediksi, penerapan perjanjian perdagangan bebas ini akan menggenjot neraca perdagangan hingga 100 miliar euro pertahun.

Sejatinya, hingga kini perjanjian perdagangan bebas masih kontroversial di kalangan pejabat tinggi negara-negara anggota Uni Eropa sendiri. Bahkan di AS sendiri perjanjian tersebut memicu gelombang kritik terhadap Barack Obama.