Keinginan Sekjen NATO Berunding dengan Rusia
https://parstoday.ir/id/news/world-i25897-keinginan_sekjen_nato_berunding_dengan_rusia
Sekjen Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Jens Stoltenberg menginginkan dialog dengan pejabat Rusia.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 16, 2016 11:53 Asia/Jakarta
  • Keinginan Sekjen NATO Berunding dengan Rusia

Sekjen Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Jens Stoltenberg menginginkan dialog dengan pejabat Rusia.

Jens Stoltenberg Selasa (15/11) sebelum berunding dengan menteri pertahanan anggota Uni Eropa di Brussels mengatakan, Rusia tetangga terbesar NATO, dan oleh karena itu, organisasi ini menghendaki perundingan dengan Moskow.

 

Menurut Stoltenberg, ketika tensi antara NATO dan Rusia meningkat, dan kedua pihak menghadapi beragam kendala keamanan, maka dialog dapat meredam tensi tersebut.

 

Sepertinya permintaan sekjen NATO sebagai organisasi pertahanan dan keamanan Barat terbesar kepada Moskow untuk berunding terkait berbagai isu yang disengketakan seperti transformasi terbaru yang dihadapi organisasi ini dengan Uni Eropa. Isu terpenting dalam hal ini adalah berkuasanya Donald Trump sebagai presiden baru Amerika Serikat dan mengingat sikap sebelumnya terkait peninjauan ulang hubungan AS dengan sekutu Eropanya di NATO telah membangkitkan kekhawatiran mendalam di Eropa.

 

Meski Stoltenberg di luarnya yakin atas kinerja Trump dan komitmen AS terhadap NATO, serta menjelaskan bahwa Trump adalah pelindung besar bagi organisasi ini, namun realitanya lebih dari ini. Di balik berbagai statemen petinggi politik dan militer Eropa dapat dicermati betapa dalam kekhawatiran mereka terkait hal ini.

 

Prospek pemulihan hubungan AS dan Rusia menyusul berkuasanya Trump, mengingat sikap positifnya terhadap Moskow serta pandangan positif Kremlin khususnya Presiden Vladimir Putin terkait presiden baru AS, telah mendorong sekjen NATO memilih gerakan selaras dengan presiden terpilih Amerika dan menghendaki dialog dengan Rusia.

 

Sebelum krisis Ukraina dan memanasnya hubungan Rusia dan NATO, kedua pihak memiliki hubungan dalam bentuk Dewan NATO dan Rusia. Dewan ini dibentuk tahun 2002 dan sidang terakhir dewan ini digelar Juni 2014. Sejak saat itu, selama dua tahun dialog antara Rusia dan NATO terhenti hingga digelar perundingan pada Mei dan Juli 2016 di Berussels yang gagal mereduksi friksi keduanya.

 

Krisis Ukraina mengakibatkan krisis parah di hubungan Rusia dan Barat serta mendorong jurang pemisahan yang kian lebar antara keduanya. Seiring dengan memanasnya tensi ini, kedua pihak mulai unjuk kekuatan dan dalam hal ini NATO sebagai alat militer Barat lebih condong ke arah ofensif dan mengancam Rusia.

 

Sejak tahun 2014 hingga kini, NATO terus memperkuat kehadiran militernya di negara-negara Eropa timur yang bertetangga dengan Rusia. Eskalasi kehadiran NATO di negara-negara Eropa timur terjadi di saat Rusia berulang kali memperingatkan langkah tersebut.

 

Kebijakan NATO pasca tumbangnya Uni Soviet di tahun 1991 adalah ekspansi ke Eropa timur dan menggaet negara tersebut sebagai anggota. Negara-negara Eropa tengah pun menjadi target NATO. Kebijakan NATO ini menuai penentangan keras dari Rusia. Menurut pandangan Rusia, langkah NATO ini dimaksudkan untuk menekan Rusia dan mengucilkan negara ini.

 

Dengan demikian kebijakan ekspansif NATO ke arah timur masih menjadi salah satu ancaman potensial bagi Rusia. Strategi permusuhan NATO dan berlanjutnya upaya untuk melebarkan sayap ke Eropa timur membuat Moskow di doktrin kebijakan keamanan nasionalnya menjadikan NATO sebagai ancaman keamanan nasional Moskow.

 

Pejabat Moskow meyakini bahwa permusuhan Barat terhadap Rusia bukan fenomena yang cepat berlalum namun sebauh strategi berkelanjutan oleh NATO dan Amerika dalam memusuhi Rusia. Mengingat masalah ini dan pertimbangan atas prakarsa sekjen NATO, meski memiliki potensi direaksi positif oleh Rusia, namun tidak ada harapan besar untuk menyelesaikan friksi di antara kedua pihak. (MF)