Kuota Minyak dan Sidang OPEC
https://parstoday.ir/id/news/world-i26836-kuota_minyak_dan_sidang_opec
Menjelang digelarnya sidang OPEC, menteri energi Aljazair dan menteri perminyakan Iran menggelar pertemuan di Tehran untuk membahas perkembangan terbaru pasar minyak global.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Nov 27, 2016 18:54 Asia/Jakarta
  • Kuota Minyak dan Sidang OPEC

Menjelang digelarnya sidang OPEC, menteri energi Aljazair dan menteri perminyakan Iran menggelar pertemuan di Tehran untuk membahas perkembangan terbaru pasar minyak global.

Noureddine Boutarfa dalam pertemuan dengan Bijan Zanganeh menyampaikan prakarsa Aljazair mengenai penurunan produksi minyak anggota OPEC sebesar 1,1 juta barel.

Menteri energi Aljazair kepada wartawan di Tehran mengatakan, Jika anggota OPEC dalam pertemuan Wina bersepakat, maka harga minyak di tahun depan berada di kisaran 50 hingga 55 dolar perbarel, dan di akhir tahun bisa mencapai 60 dolar perbarel.

Beberapa bulan sebelumnya, anggota OPEC dalam pertemuan di Aljazair bersepakat untuk menurunkan 750.000 barel dari produksi sebesar 32,5 hingga 33 juta barel perhari. Kesepakatan yang pertama kali dicapai sejak tahun 2008 ini memberi sedikit perubahan pada harga minyak di pasar global.

Setelah sidang tersebut, para pejabat anggota OPEC dalam pertemuan di Wina dengan Rusia, selaku produsen minyak terbesar non-OPEC, membahas mekanisme penerapan prakarsa penurunan produksi minyak untuk mendorong peningkatan harga di pasar global. Kini, muncul tanda-tanda yang menunjukkan pemulihan harga di pasar dunia.

Berlanjutnya kondisi tersebut akan membantu menata kembali harga minyak yang sempat terperosok jatuh akibat perang minyak yang dilancarkan Arab Saudi. Terwujudnya tujuan tersebut kembali kepada komitmen seluruh produsen minyak, dan implementasi kesepakatan yang telah dicapai, termasuk dengan negara non-OPEC seperti Rusia.

Sidang OPEC akan digelar pada 30 November 2016. Pertemuan ini akan membahas agenda komitmen anggota OPEC terhadap implementasi kesepakatan yang dicapai. Pasalnya, sejumlah negara seperti Arab Saudi melancarkan kebijakan menahan produksi sesuai tingkat produksi Januari 2016, bahkan menggelar pertemuan di Doha, Qatar mengenai masalah tersebut. Tujuannya untuk menekan Iran dengan tingkat produksi minyaknya sebesar satu juta barel perhari.

Padahal, jumlah tersebut berkaitan dengan periode penurunan produksi akibat sanksi yang tidak adil. Tapi kini, sanksi telah dicabut, dan tidak ada alasan bagi negara manapun untuk menekan Iran supaya tidak menggunakan kuotanya dalam produksi minyak sebelum sanksi diberlakukan. Pada saat yang sama Arab Saudi memproduksi minyak melebihi kuotanya dengan tingkat kelebihan sebesar 1, 5 juta barel dan dijual dengan harga murah ke pasar global.

Iran dalam pertemuan di Aljazair dikecualikan dari penurunan produksi, dan negara ini bisa memproduksi minyaknya sesuai tingkat produksi sebelum sanksi diberlakukan.

Pandangan mata para investor dan pelaku pasar minyak tertuju ke arah pertemuan Wina; apakah pertemuan OPEC akan berujung pada keputusan yang dijalankan oleh seluruh anggota atau tidak. Apakah Arab Saudi tetap akan menjalankan kebijakannya sendiri.

Sejak Januari hingga Mei lalu, Arab Saudi rata-rata memproduksi minyak sebesar 10 juta 200 ribu barel perhari. Sepak terjang rezim Al Saud tersebut menyebabkan anjloknya harga minyak di pasar dunia dari 115 dolar pada Juni 2014 menjadi kisaran 30 hingga 50 dolar perbarel. Angka tersebut menimbulkan masalah bagi negara-negara yang bergantung terhadap pendapatan minyak.

Kini sebagian negara produsen minyak anggota OPEC dan non-OPEC menghadapi krisis finansial. Arab Saudi sendiri yang melancarkan skenario perang minyak saat ini menghadapi defisit anggaran, dan terpaksa sedikit melunak untuk mencegah berlanjutnya penurunan harga minyak di pasar global.

Bulan lalu, OPEC mengesahkan sebuah strategi jangka panjang yang menegaskan kembali peran strategis organisasi pengekspor minyak itu terhadap manajemen produksi minyak di pasar global. Masalah ini meningkatkan harapan terhadap pertemuan Wina. Tapi hingga kini, tidak ada yang bisa memastikan apakah Arab Saudi akan mematuhi komitmennya dan tidak mengulang penerapan skenario destruktif perang minyak sebelumnya.(PH)