AS Mendesak Raksasa Minyak untuk Berinvestasi Besar-besaran di Venezuela
-
Mural tentang industri minyak di Venezuela
Pars Today - Kantor Berita Reuters menulis bahwa para pejabat Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri telah memberi tahu para eksekutif raksasa minyak AS dalam beberapa pekan terakhir bahwa jika mereka meminta kompensasi atas penyitaan aset mereka di Venezuela, mereka harus segera kembali ke negara kaya minyak itu dan melakukan investasi besar-besaran untuk menghidupkan kembali industri minyak negara anggota OPEC itu.
Menurut laporan IRNA pada hari Senin (05/01/2026), Reuters menyatakan, Pada dekade pertama abad ke-21, Caracas menyita aset beberapa perusahaan minyak internasional yang menentang permintaan Presiden Hugo Chavez saat itu untuk meningkatkan kendali operasional atas perusahaan minyak milik negara Venezuela.
Raksasa minyak AS Chevron termasuk di antara perusahaan yang bernegosiasi untuk tetap berada di negara itu dan membentuk proyek bersama dengan perusahaan negara Venezuela, bahkan ketika para pesaingnya, Exxon Mobil dan ConocoPhillips, meninggalkan Venezuela dan mengajukan gugatan.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada 3 Januari, hanya beberapa jam setelah Presiden Nicolas Maduro ditangkap dan digulingkan oleh pasukan AS, bahwa perusahaan-perusahaan AS siap untuk kembali ke Venezuela dan berinvestasi dalam menghidupkan kembali industri minyak negara ini.
Dalam pembicaraan baru-baru ini di Washington dengan para eksekutif perusahaan minyak mengenai Venezuela pasca-Maduro, para pejabat pemerintahan Trump mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan minyak AS harus menyediakan modal yang dibutuhkan untuk membangun kembali industri minyak Venezuela. Itu akan menjadi prasyarat bagi pemerintah untuk membayar klaim yang timbul dari penyitaan aset mereka.
Investasi ini akan mahal bagi perusahaan seperti ConocoPhillips, kata sumber tersebut. Conoco telah berupaya selama bertahun-tahun untuk memulihkan sekitar $12 miliar aset yang dinasionalisasi di Venezuela. Exxon Mobil juga telah mengajukan gugatan di pengadilan internasional untuk memulihkan $1,65 miliar.
Apakah perusahaan-perusahaan itu akan kembali ke Venezuela, itu bergantung pada bagaimana para eksekutif, dewan direksi, dan pemegang saham menilai risiko investasi kembali di Venezuela, kata sumber tersebut.
Bahkan jika perusahaan-perusahaan itu setuju untuk kembali, mungkin dibutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum terjadi peningkatan produksi minyak yang signifikan. Negara Amerika Selatan ini memiliki salah satu cadangan nominal terbesar di dunia, tetapi produksi telah menurun tajam dalam beberapa dekade terakhir karena salah urus, kurangnya investasi, dan sanksi AS.
Para analis mengatakan kepada Reuters bahwa selain ketidakpastian seputar kerangka kerja keseluruhan dari setiap kesepakatan untuk beroperasi di Venezuela, perusahaan yang ingin berbisnis di negara ini juga harus mempertimbangkan masalah keamanan, infrastruktur yang lemah, legalitas operasi AS untuk menggulingkan Maduro, dan kemungkinan ketidakstabilan politik jangka panjang.
Venezuela, anggota pendiri OPEC, memproduksi 3,5 juta barel minyak per hari pada tahun 1960-an, yang menyumbang lebih dari 7 persen dari produksi global pada saat itu. Produksinya turun di bawah 2 juta barel per hari selama dekade kedua abad ke-21 dan rata-rata sekitar 1,1 juta barel per hari tahun lalu, atau hanya 1 persen dari produksi global.(sl)