Kontradiksi Washington: Antara Menuduh dan Mengaku Program Nuklir Damai Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i186080-kontradiksi_washington_antara_menuduh_dan_mengaku_program_nuklir_damai_iran
Pars Today - Donald Trump kembali melontarkan tuduhan nuklir terhadap Iran. Di depan Kongres, di hadapan kamera, ia bersumpah takkan membiarkan Tehran memiliki bom atom. "Kata-kata ajaib" itu, katanya, tak kunjung diucapkan: kami tidak akan membuat senjata nuklir.
(last modified 2026-02-25T08:01:09+00:00 )
Feb 25, 2026 18:59 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Donald Trump
    Presiden AS Donald Trump

Pars Today - Donald Trump kembali melontarkan tuduhan nuklir terhadap Iran. Di depan Kongres, di hadapan kamera, ia bersumpah takkan membiarkan Tehran memiliki bom atom. "Kata-kata ajaib" itu, katanya, tak kunjung diucapkan: kami tidak akan membuat senjata nuklir.

Namun, di balik retorika keras ini, ada suara lain yang tak bisa dibungkam. Suara dari dalam negerinya sendiri. Suara yang mengatakan: Iran tidak sedang membangun bom.

Dua Wajah Washington

Tulsi Gabbard, Direktur Intelijen Nasional Amerika, dalam laporan resmi Maret 2025 menegaskan: "Komunitas intelijen AS masih meyakini bahwa Iran tidak memproduksi senjata nuklir."

Sebuah pernyataan yang kontras dengan kampanye pencitraan yang terus digulirkan Gedung Putih.

Di satu sisi, pejabat tinggi AS berbicara tentang "ancaman Iran". Di sisi lain, lembaga intelijen mereka sendiri, yang seharusnya paling tahu, mengatakan sebaliknya. Ini bukan sekadar perbedaan pendapat internal. Ini adalah kontradiksi terang-terangan di tingkat kebijakan negara adidaya.

Trump, dalam pidato tahunannya di Kongres pada 24 Februari lalu, berkata: "Saya lebih memilih diplomasi." Namun sehari sebelumnya, ia menambah pasukan militer di kawasan. Ia berbicara soal perundingan, tapi tangannya menggenggam pentungan.

Siapa Sebenarnya yang Butuh "Kata-kata Ajaib"?

Ironisnya, ketika Trump terus mendesak Iran mengucapkan kalimat "tidak akan membuat bom", lembaga intelijennya sendiri sudah membenarkan bahwa Iran memang tidak membuatnya. Lalu, untuk apa kata-kata itu diminta? Untuk konsumsi publik. Untuk membangun narasi. Untuk membenarkan langkah-langkah selanjutnya yang mungkin jauh lebih berbahaya dari sekadar sanksi ekonomi.

Iran, sejak awal, menegaskan program nuklirnya untuk tujuan damai: pembangkit listrik, riset medis, pertanian. Semua ini diawasi Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Dan dalam kerangka Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), hak ini dijamin.

Pengayaan uranium hingga 60 persen, yang disebut-sebut sebagai "pintu menuju bom", dilakukan Iran sebagai respons atas pelanggaran perjanjian oleh pihak Barat sendiri. Saat Amerika menarik diri dari JCPOA dan Eropa gagal memenuhi komitmen ekonominya, apa yang diharapkan?

Bahaya yang Lebih Besar dari Bom

Yang lebih mengkhawatirkan dari tuduhan Trump adalah dampaknya terhadap sistem internasional. Ketika sebuah negara adidaya menuduh tanpa bukti, ketika lembaga intelijennya sendiri dibungkam, ketika tekanan politik mengalahkan fakta, maka yang runtuh bukan hanya kredibilitas satu negara, tetapi legitimasi seluruh tatanan global.

Pasal IV NPT menjamin hak negara untuk menggunakan energi nuklir damai. Tapi jika AS bisa seenaknya mengancam negara lain karena aktivitas yang sah secara hukum, maka perjanjian itu tak lebih dari kertas basah. Standar ganda ini menciptakan preseden berbahaya: siapa pun yang tidak disukai Washington bisa dituduh apa saja, tanpa bukti, tanpa konsekuensi.

Ketika Intelijen Dikalahkan Propaganda

Trump boleh terus mengulang tuduhannya. Ia boleh membangun panggung di mana ia menjadi pahlawan yang "menyelamatkan dunia dari Iran". Namun, laporan intelijen negaranya sendiri adalah saksi bisu yang membantah semua itu.

Iran tidak membuat bom nuklir. Fakta ini diakui oleh mereka yang seharusnya paling tahu. Pertanyaannya kini: untuk apa semua drama ini? Jika bukan untuk mempersiapkan sesuatu yang lebih besar, yang mungkin tak bisa lagi disebut "diplomasi".

Sementara itu, di Tehran, roda program nuklir damai terus berputar. Diawasi, diukur, dan dilaporkan. Bukan untuk bom, tapi untuk masa depan yang lebih terang. Dan dunia mungkin perlu bertanya: siapa sebenarnya yang butuh "kata-kata ajaib" di sini?(sl)