Senator AS: Publik Amerika Tolak Perang dengan Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i186022-senator_as_publik_amerika_tolak_perang_dengan_iran
Pars Today – Seorang senator Amerika menyatakan publik negaranya menentang perang dengan Iran dan tidak menginginkan Washington terlibat dalam konflik baru di kawasan Asia Barat.
(last modified 2026-02-24T01:14:47+00:00 )
Feb 24, 2026 08:13 Asia/Jakarta
  • Andy Kim, senator dari New Jersey
    Andy Kim, senator dari New Jersey

Pars Today – Seorang senator Amerika menyatakan publik negaranya menentang perang dengan Iran dan tidak menginginkan Washington terlibat dalam konflik baru di kawasan Asia Barat.

Melaporkan dari ISNA, Selasa, 24 Februari 2026, Andy Kim, senator dari New Jersey, merespons ancaman terbaru Presiden AS Donald Trump terhadap Iran di platform media sosial X. Ia menulis, "Opini publik Amerika tidak mendukung opsi militer. Pekan lalu saya bertanya kepada warga New Jersey apakah mereka ingin menyerang Iran? Tak satu pun menjawab ya."

Perang dengan Iran dalam beberapa hari terakhir menjadi salah satu topik diskusi di ranah politik AS. Hal ini dipicu pernyataan ancaman Trump tentang kemungkinan aksi militer jika kesepakatan nuklir tidak tercapai. Kim, seraya membagikan ulang laporan The New York Times tentang ancaman ini, menegaskan, "Rakyat Amerika tidak menginginkan perang dengan Iran."

Senator ini sebelumnya juga mengkritik pendekatan pemerintahan Trump. Menanggapi laporan CNN tentang kesiapan potensial AS untuk aksi militer, ia menulis, "Apa yang akan diperoleh dari perang dengan Iran? Apakah itu akan membuat Anda lebih aman? Apakah itu akan mempermudah membayar tagihan? Trump menyeret negara kita ke ambang perang tanpa alasan, tanpa rencana, dan tanpa mempedulikan Anda."

Pernyataan bernada perang dari pejabat AS ini muncul sementara pejabat Republik Islam Iran berulang kali menegaskan hak sah Iran atas energi nuklir damai. Mereka juga menyatakan setiap tindakan militer terhadap Iran akan berhadapan dengan respons tegas dan keras. Tehran menekankan diplomasi dan negosiasi berdasarkan rasa hormat, serta menilai kebijakan tekanan dan ancaman tidak efektif.(sl)