Gigi Emas Lumumba dan Ribuan Tengkorak Bisu di Museum Barat
https://parstoday.ir/id/news/world-i186048-gigi_emas_lumumba_dan_ribuan_tengkorak_bisu_di_museum_barat
Pars Today - Di era kolonial, negara-negara Eropa tidak hanya melakukan genosida terhadap penduduk asli Afrika, tetapi juga mengubah jenazah korban menjadi alat untuk penelitian rasis.
(last modified 2026-02-24T09:49:07+00:00 )
Feb 24, 2026 18:47 Asia/Jakarta
  • Tengkorak di museum
    Tengkorak di museum

Pars Today - Di era kolonial, negara-negara Eropa tidak hanya melakukan genosida terhadap penduduk asli Afrika, tetapi juga mengubah jenazah korban menjadi alat untuk penelitian rasis.

Belgia memenggal Patrice Lumumba, pemimpin nasional Kongo, lalu mencabut gigi emasnya. Jerman mengirim ratusan tengkorak dari kamp konsentrasi di Namibia ke institut penelitian di Berlin. Prancis dan Inggris menjadikan tulang-belulang "subjek kolonial" sebagai koleksi museum. Ini bukan cerita fiksi. Ini adalah lembaran kelam sejarah kolonial yang hingga kini masih tersimpan rapi di etalase-etalase kaca museum-museum Eropa.

Ketika Ilmu Penjadi Alat Pembenaran Kejahatan

Kolonialisme Eropa di Afrika tidak hanya tentang pembagian wilayah dan eksploitasi sumber daya. Di balik itu semua, ada ambisi lain yang tak kalah biadab: membuktikan superioritas ras kulit putih melalui "riset ilmiah".

Jerman, Prancis, Inggris, dan Belgia, negara-negara ini secara sistematis mengoleksi jenazah, terutama tengkorak, dari korban pembantaian di koloni mereka. Para antropolog dan dokter Eropa berbondong-bondong ke Afrika, bukan untuk menyelamatkan nyawa, tetapi untuk mengambil ukuran kepala, memotret, dan mengoleksi bagian tubuh yang dianggap "primitif".

Tujuannya? Membangun narasi ilmiah palsu tentang hierarki ras. Mereka ingin "membuktikan" bahwa orang kulit putih lebih unggul secara biologis. Dan untuk membuktikan kebohongan ini, mereka rela membunuh ribuan manusia, lalu memamerkan tulang-belulang mereka sebagai "spesimen".

Jerman dan Kamp Maut di Pulau Hiu

Nama "Pulau Hiu" (Shark Island) mungkin tidak setenar Auschwitz. Namun, di Namibia, tempat ini adalah simbol keganasan kolonial Jerman. Pada awal abad ke-20, Jerman melakukan genosida terhadap suku Herero dan Nama di Afrika Barat Daya (sekarang Namibia).

Pulau Hiu adalah kamp konsentrasi di mana ribuan pria, wanita, dan anak-anak ditahan dalam kondisi mengerikan. Mereka kelaparan, kehausan, dan dipaksa kerja paksa hingga mati. Yang selamat ditembak atau digiring ke padang pasir untuk dihabisi.

Tapi Jerman tidak puas hanya dengan membunuh. Setelah kematian mereka, jenazah para korban dikirim ke Jerman. Para ilmuwan seperti Eugen Fischer, seorang dokter dan antropolog, menggunakan tengkorak-tengkorak ini untuk "penelitian" rasialnya. Fischer ingin membuktikan bahwa orang Herero dan Nama adalah ras inferior. Ironisnya, teori-teori rasis Fischer kemudian menginspirasi kebijakan egenetika Nazi Jerman.

Yang lebih mengerikan, para perempuan tahanan di Pulau Hiu dipaksa membersihkan jenazah suami dan anak-anak mereka sendiri. Mereka harus mencuci tengkorak dan tulang-belulang, lalu mengirimkannya ke Berlin. Sebuah kejahatan yang berlapis: pertama mereka dibunuh, lalu jenazahnya dijadikan objek penelitian, dan keluarga mereka sendiri yang harus menyiapkan "spesimen" itu.

Pameran Tulang di Museum Prancis dan Inggris

Prancis juga tidak kalah biadab. Sepanjang abad ke-19 dan awal ke-20, para ilmuwan dan tentara Prancis mengoleksi ribuan tengkorak dari koloni mereka di Afrika, terutama Aljazair, Madagaskar, dan Senegal. Tengkorak-tengkorak ini dikirim ke Paris untuk dipelajari di Museum Sejarah Alam dan lembaga penelitian lainnya. Mereka diukur, diteliti, dan dikategorikan berdasarkan "ras".

Di Inggris, praktik serupa terjadi. Para antropolog Inggris mengoleksi jenazah dari seluruh penjuru imperium. Tengkorak dari Australia, Selandia Baru, Afrika, dan India berjejer di rak-rak museum, menjadi saksi bisu bagaimana ilmu pengetahuan bisa menjadi alat dehumanisasi.

Yang lebih tragis, banyak dari tengkorak ini kemudian dipajang di museum-museum Eropa selama puluhan tahun, bahkan hingga abad ke-21. Pengunjung museum bisa melihatnya dengan santai, tanpa pernah tahu bahwa mereka sedang melihat sisa-sisa manusia yang dibunuh, lalu dijadikan "koleksi".(sl)