Filipina, Arena Persaingan AS dan Rusia
https://parstoday.ir/id/news/world-i29773-filipina_arena_persaingan_as_dan_rusia
Filipina menerima usulan Rusia mengenai penjualan kapal selam dan pesawat tanpa awak serta alutsista dan persenjataan dari Moskow di tengah semakin renggangnya hubungan Manila dengan Washington.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Jan 01, 2017 14:41 Asia/Jakarta
  • Filipina, Arena Persaingan AS dan Rusia

Filipina menerima usulan Rusia mengenai penjualan kapal selam dan pesawat tanpa awak serta alutsista dan persenjataan dari Moskow di tengah semakin renggangnya hubungan Manila dengan Washington.

Menteri pertahanan Filipina Delfin Lorenzana mengatakan Rusia menawarkan peremajaan alutsista Filipina. Lorenzana juga mengungkapkan kemungkinan dibatalkannya pembelian kapal selam, karena pertimbangan harga yang mahal, dan saat ini Filipina tidak membutuhkannya.

Usulan militer Rusia tersebut disampaikan sekitar sebulan lalu ketika presiden Filipina Rodrigo Duterte mengunjungi Moskow. Terkait hal ini, menteri luar negeri Filipina mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan usulan Moskow mengenai penjualan alutsista kepada sejawatnya dari Filipina, Rodrigo Duterte.

Sebelum Rusia menyampaikan tawarannya kepada Filipina, Cina telah mengungkapkan usulan serupa kepada negara kawasan Asia Tenggara itu. Beijing menawarkan senjata api dan perahu cepat senilai 14 juta dolar kepada Manila untuk mendukung program pemerintahan Duterte dalam menumpas narkotika dan terorisme. Prakarsa tersebut disampaikan Cina tidak lama setelah hubungan Manila dan Washington memanas, dan AS membatalkan penjualan 26 ribu pucuk senjata api ke Filipina.

Presiden Filipina secara terbuka menyampaikan tekad Manila untuk meningkatkan hubungan dengan Moskow. Duterte menegaskan, Perang Dingin telah memisahkan hubungan antara kedua negara, karena Filipina selama ini selalu diasosiasikan sebagai sekutu Barat. Namun, Duterte berjanji semua itu akan diakhiri ketika ia memimpin Filipina. Sejak dilantik pada akhir Juni lalu, Duterte kerap meluncurkan kritik tajam kepada presiden petahana AS Barack Obama, serta mengancam memutuskan aliansi militer kedua negara, dan mencoba merapatkan hubungan dengan Cina dan Rusia.

Semakin dekatnya hubungan Filipina dengan Rusia dan Cina berlangsung di saat hubungan Manila dan Washington semakin menjauh dipicu intervensi AS terhadap kebijakan pemerintahan Duterte dalam pemberantasan narkotika. Tampaknya, peningkatan hubungan yang dilakukan Cina dan Rusia terhadap Manila memiliki motif yang berbeda.

Rusia menawarkan penjualan alutsista dan persenjataannya kepada Filipina demi memperluas kerja sama strategis dengan Manila. Sementara itu, Cina memiliki motif lain mempererat hubungannya dengan Filipina. Friksi kedua negara dalam konflik kepulauan di laut Cina Selatan menjadi salah satu isu yang mendekatkan kedua negara saat ini. Berbeda dengan pendahulunya Duterte mengambil sikap cenderung lebih kompromis dengan Cina dalam masalah tersebut.

Meskipun demikian, Cina dan Rusia memiliki kesamaan kepentingan dalam meningkatkan hubungannya dengan Filipina untuk meredam pengaruh AS di kawasan Asia Tenggara. Tampaknya, indikasi ke arah sana sudah terlihat jelas. Tapi, apakah dinamika ini akan berubah seiring terjadinya transisi kekuasaan di AS di bawah kepemimpinan Donald Trump yang melihat Duterte tidak seperti Obama memandangnya. Pastinya, persaingan perebutan pengaruh antara AS dan Rusia di kawasan Asia Tenggara akan semakin jelas.(PH)