Trump, Militerisme AS dan NATO
https://parstoday.ir/id/news/world-i32501-trump_militerisme_as_dan_nato
Sikap terbaru presiden AS, Donald Trump mengenai dukungan Washington terhadap Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) berseberangan dengan slogan kampanye pilpresnya di tahun lalu.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 07, 2017 07:54 Asia/Jakarta
  • Trump, Militerisme AS dan NATO

Sikap terbaru presiden AS, Donald Trump mengenai dukungan Washington terhadap Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) berseberangan dengan slogan kampanye pilpresnya di tahun lalu.

Gedung Putih menyatakan, Presiden AS, Donald Trump dalam kontak telpon dengan Sekjen NATO, Jens Stoltenberg sepakat untuk melanjutkan kerja sama dan menjalin koordinasi lebih erat untuk menghadapi tantangan keamanan yang dihadapi aliansi militer yang berpusat di Brussel itu.

Berdasarkan statemen Gedung Putih, Trump menyatakan akan berpartisipasi dalam pertemuan tingkat tinggi NATO yang akan digelar Mei mendatang. Selain itu, pembicaraan Trump dan Stoltenberg juga membahas masalah mekanisme untuk mendorong anggota NATO menjalankan komitmennya mengenai anggaran pertahanan aliansi militer tersebut.

Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa NATO sudah tidak relevan dalam kondisi dewasa ini. Tidak hanya itu, ia juga menilai keterlibatan Washington dalam alinasi militer ini hanya membebani keuangan AS. Tapi tampaknya, Trump mulai mengubah sikapnya dengan menunjukkan dukungan militer AS terhadap NATO dalam statemen terbarunya yang disampaikan kepada Stoltenberg.

Kritik terhadap anggota NATO yang tidak menjalankan komimen mereka terhadap anggaran alianasi militer barat ini tidak hanya muncul di era Trump, tapi presiden AS sebelumnya, Barack Obama juga menyampaikan masalah senada. Intinya, pemerintah AS berupaya memanfaatkan NATO untuk kepentingannya di dunia dengan dukungan dana dari negara-negara Eropa yang menjadi anggota aliansi militer itu.

Di sisi lain, menteri pertahanan AS, James Mattis di awal pelantikannya menegaskan dukungan Pentagon terhadap NATO. Masalah ini menunjukkan bahwa presiden baru AS yang menunjuknya sebagai menhan, memandang penting NATO dan perannya untuk mewujudkan kepentingan Gedung Putih di dunia.

Meskipun Trump di era kampanye pilpres tahun lalu menyuarakan isu pemulihan hubungan dengan Rusia, dan pengurangan tensi friksi dengan Moskow, tapi setelah resmi menjabat sebagai presiden AS, Trump mengubah sikapnya. MIliter AS bersama negara-negara Barat lainnya yang tergabung dalam aliansi NATO tetap mengirimkan pasukannya di sekitar perbatasan Rusia. Bahkan, menurut pengakuan Menhan Rusia, Sergei Shoigu, pasukan NATO yang ditempatkan di perbatasan barat negara ini meningkat delapan kali lipat.

Pada saat yang sama, kementerian pertahanan AS mengirimkan usulan ke Kongres negara ini mengenai penambahan jumlah pasukan di Suriah. Padahal, Trump di masa kampanye pilpresnya mengkritik Obama berkaitan dengan pengerahan pasukan AS di Suriah. Oleh karena itu, strategi militer Obama dan Trump dalam masalah intervensi militernya di Timur Tengah tidak mengalami perubahan signifikan. Lebih dari itu, Trump justru menambahkan tensi konfrontasinya dengan mengeluarkan instruksi larangan kunjungan warga dari tujuh negara Muslim ke AS. 

NATO meningkatkan kehadiran pasukannya di kawasan timur  Eropa dengan dalih menghadapi ancaman Rusia. Aliansi militer barat ini mengirimkan pasukannya ke berbagai negara dunia dan mengobarkan api perang dengan alasan menumpas terorisme. Kesamaan kepentingan interventif inilah yang membuat Trump memutuskan untuk tetap mendukung NATO. Bagaimanapun, sikap terbaru Trump mendukung militer AS terhadap NATO menunjukkan berlanjutnya strategi militerisme negara ini di dunia.(PH)