Europol dan Peringatan Ancaman Serangan Teror
https://parstoday.ir/id/news/world-i33018-europol_dan_peringatan_ancaman_serangan_teror
Kepala Badan Kepolisian Eropa (Europol), Rob Wainwright menyatakan bahwa level ancaman teroris di Eropa mencapai titik tertinggi selema satu dekade terakhir. Ia juga mengaku khawatir atas eskalasi upaya kelompok teroris Daesh untuk melancarkan operasi teror di Eropa setelah mengalami kekalahan beruntun di Irak dan Suriah.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 16, 2017 15:29 Asia/Jakarta

Kepala Badan Kepolisian Eropa (Europol), Rob Wainwright menyatakan bahwa level ancaman teroris di Eropa mencapai titik tertinggi selema satu dekade terakhir. Ia juga mengaku khawatir atas eskalasi upaya kelompok teroris Daesh untuk melancarkan operasi teror di Eropa setelah mengalami kekalahan beruntun di Irak dan Suriah.

Peringatan eselon tertinggi polisi Eropa terkait ancaman teroris mengindikasikan potensi besar terjadinya serangan berdarah oleh kelompok teroris khususnya Daesh. Pusat anti terorisme Eropa akhir Juli 2016 menyatakan, sedikitnya 4300 anasir Daesh adalah warga Eropa yang tinggal di Timur Tengah setelah bergabung dengan kelompok ini.

 

Sebastian Kurz, ketua periodik Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE) Januari 2017 menyatakan, sekitar sepuluh ribu warga Eropa bergabung dengan Daesh dan pergi ke Suriah dan Irak. Hal ini menunjukkan peningkatan dua kali lipat dari prediksi sebelumnya.

 

Solusi yang diambil petinggi keamanan Eropa untuk melawan fenomena terorisme Takfiri adalah pengokohan kerjasama kontra terorisme dan di bidang ini sudah terlihat tanda-tanda kemajuan. Menurut kepala Europol, dinas keamanan Eropa di ttahun 2016 bila di banding dengan tahun sebelumnya sepuluh kali lipat memberikan data intelijen kepada Europol.

 

Meski demikian sampai kini dinas keamanan dan polisi Eropa masih menunjukkan sikap pasif atas potensi serangan teror. Negara-negara Eropa dilanda kekhawatiran atas kepulangan warganya yang menjadi anggota Daesh, karena mereka sangat berpotensi melancarkan serangan teror di wilayah ini.

 

François Fillon, kandidat presiden Perancis mengatakan, “Daesh yang datang membantai anak-anak kita di jalan-jalan kota kita. Suriah terkoyak akibat perang internal dan warga sipil menjadi korban bom. Jika kita tidak membentuk sebuah koalisi internasional sejati. Jika kita tidak melangkah untuk menggalang koalisi dengan Rusia, untuk selanjutnya totaliterisme Islam dan pemainnya akan terus menebar bayangan kematian.”

 

Peringatan petinggi keamanan Eropa seperti Rob Wainwright terkait eskalasi ancaman teroris khususnya oleh Daesh muncul ketika sejumlah negara besar Uni Eropa seperti Perancis dan Inggris bersama Amerika Serikat serta sekutu Arabnya memainkan peran penting dan menentukan dalam membentuk dan memperkokoh kelompok teroris Daesh serta kelompok Takfiri lainnya di Suriah.

 

Dampak dukungan mereka terhadap terorisme mulai tampak di negara-negara Eropa. Dampak pertama langkah ini adalah arus migran jutaan warga Suriah, Irak, Afghanistan dan sejumlah negara Afrika yang menjadi korban keganasan teroris ke Eropa dan mengakibatkan kesulitan besar bagi Uni Eropa.

 

Dampak lainnya adalah maraknya aksi teror di negara-negara besar Eropa seperti Perancis dan Jerman serta sejumlah negara kecil seperti Belgia. Pemerintah Eropa tidak pernah menyangka dampak bantuan penuh mereka dalam membentuk dan menyebarkan kelompok teroris di Suriah, suatu hari akan berbalik menimpa mereka.

 

Kini para pejabat keamanan mulai berbicara mengenai ancaman serius teroris Daesh dan ini sama halnya dengan goyahnya keamanan di negara-negara Eropa. Ini merupakan fenomena pertama yang dialami Eropa pasca era perang dingin. (MF)