Cina: Kehadiran Armada AS di Laut Cina Selatan Meresahkan
-
USS Carl Vinson
Cina menegaskan bahwa mereka menghormati kebebasan navigasi tetapi tidak akan mengizinkan negara-negara lain untuk menggunakan prinsip tersebut untuk melemahkan kedaulatannya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Geng Shuang, Selasa (21/02/2017) mengatakan, "Cina selalu menghormati kebebasan navigasi dan semua negara berhak menikmatinya sesuai hukum internasional ... namun kami secara konsisten menentang negara yang secara relevan mengancam dan merusak kedaulatan serta keamanan negara dengan alasan kebebasan navigasi."
Ditambahkannya bahwa negaranya berharap negara-negara lain akan berbuat lebih banyak untuk menjaga perdamaian dan stabilitas regional.
Pernyataan Geng ini merupakan reaksi resmi pertama Cina atas pengumuman Angkatan Laut AS pada hari Sabtu bahwa unit serangan, meliputi kapal induk USS Carl Vinson, akan beroperasi rutin di Laut Cina Selatan.
Pekan lalu, Cina memperingatkan AS soal segala bentuk aktivitas militer di Laut Cina Selatan, menyusul laporan bahwa Washington berencana untuk melakukan patroli maritim di wilayah yang disengketakan itu.
Laut Cina Selatan adalah subyek sengketa teritorial antara Cina dan beberapa negara-negara regional. Vietnam, Taiwan, Filipina, Malaysia, dan Brunei masing-masing memiliki klaim atas wilayah di Laut Cina Selatan. Namun negara-negara tersebut tampaknya berhasil mengelola sengketa tersebut dengan lancar.
Di lain pihak, AS memanfaatkan sengketa tersebut untuk meningkatkan ketegangan dengan Cina melalui kehadiran militernya di Laut Cina Selatan, untuk menyoal klaim kedaulatan Beijing atas wilayah perairan tersebut. Oleh karena itu Cina menuding Washington ikut campur dalam isu-isu regional.(MZ)