Tensi Cina dan Kore Selatan Kian Memanas
https://parstoday.ir/id/news/world-i33900-tensi_cina_dan_kore_selatan_kian_memanas
Menyusul berlanjutnya penentangan Cina atas manuver perang gabungan Korea Selatan dan Amerika Serikat serta penempatan sistem anti rudal THAAD Washington di Korsel, hubungan Seoul dan Beijing semakin memanas serta berdampak negatif terhadap kerjasama ekonomi dan pariwisata mereka.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Mar 04, 2017 16:47 Asia/Jakarta
  • Tensi Cina dan Kore Selatan Kian Memanas

Menyusul berlanjutnya penentangan Cina atas manuver perang gabungan Korea Selatan dan Amerika Serikat serta penempatan sistem anti rudal THAAD Washington di Korsel, hubungan Seoul dan Beijing semakin memanas serta berdampak negatif terhadap kerjasama ekonomi dan pariwisata mereka.

Korsel seraya menyesalkan potensi agen pariwisata Cina menangguhkan program koordinasi tour ke Korsel, menilainya sebagai aksi balasan dan menekankan hal ini tidak seharusnya mencegah proses kunjungan warga di antara kedua negara. Sepertinya penangguhan kunjungan wisatawan Cina ke Korea Selatan selain penting menurut Seoul dari sisi pertukaran manusia, juga cukup signifikan dari siis ekonomi.

 

Hal ini karena di tahun 2016 tercatat lebih dari delapan juta wisatawan Cina berkunjung ke Korsel dan pendapatan dari sektor ini mencapai lebih dari 9,6 miliar dolar. Mengingat kondisi ekonomiwarga Cina mulai pulih, setiap tahun jumlah wisatawan negara ini terus meningkat dan Korea Selatan sepertinya tidak bersedia kehilangan pasar wisatawan Cina. Meski demikian menurut pandangan pemerintah Beijing, pengembangan ekonomi dan pertukaran manusia membutuhkan ketenangan dan keamanan permanen di kawasan.

 

Sementara Korsel dengan menggelar latihan perang dengan Amerika bukan saja merusak ketenangan ini, bahkan memicu kekhawatiran regional terkait masa depan transformasi di kawasan. Manuver perang beruntun Korea Selatan dan Amerika Serikat serta penempatan sistem rudal THAAD di wilayah Korsel, kondisi keamanan di kawasan Asia Timur semakin tak menentu.

 

Dampak dari kondisi ini mendorong berbagai negara untuk membentuk koalisi dan front menghadapi sesama tetangga mereka. Kesepakatan Cina dan Rusia untuk menggalang kerjasama anti rudal THAAD AS juga ditujukan untuk menghadapi kondisi ini.

 

Mengingat negara-negara Asia Timur bertumpu pada sektor ekspor dan menarik investor asing, eskalasi tensi tidak akan menguntungkan pihak mana pun di kawasan. Khususnya pasar Cina sangat penting bagi industri produksi Korsel dan Jepang. Dorongan setiap negara di kawasan menjatuhkan sanksi ekonomi sebagai sarana untuk mengontrol pihak lawan, akan memicu krisis ekonomi regional.

 

Adapun separuh dari wisatawan asing yang berkunjung ke Korsel adalah warga Cina dan pendapatan dari sektor ini sangat penting bagi Seoul, maka negara ini harus menunggu dampak dari instabilitas di kawasan atas kebijakannya memperluas kerjasama militer dengan Amerika Serikat.

 

Washington yang mengejar kebijakan mengontrol Cina memanfaatkan Korsel dan Jepang sebagai alat untuk merealisasikan ambisinya dan pengiriman pesawat F-35 dan kapal induk USS Carl Vinson untuk bergabung dengan manuver perang saat ini dengan Korea Selatan sepenuhnya mengindikasikan bahwa Washington berusaha mengobarkan instabilitas di kawasan dan menjustifikasi kehadiran militernya di Korsel serta Jepang.

 

Amerika menempatkan sekitar 90 ribu tentaranya di Korsel dan Jepang beserta peralatan logistiknya. Sementara menurut pandangan Cina, kondisi keamanan Asia Timur bukan saja aman,bahkan negara-negara kawsan memiliki kemampuan yang diperlukan untuk menerapkan keamanan. Kehadiran pasukan asing menurut Beijing memicu tensi dan Korea Selatan dengan menyadari kondisi dan realita yang ada tidak seharusnya memandang kebijakan konvergensi regional dari satu dimensi saja. (MF)