Pejabat AS Kembali Umbar Klaim Anti-Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i35268-pejabat_as_kembali_umbar_klaim_anti_iran
Amerika Serikat harus mempertimbangkan menggunakan “cara militer” terhadap Iran, kata pejabat militer AS, Jenderal Joseph Votel, yang menyebut Republik Islam sebagai “ancaman jangka panjang terbesar bagi stabilitas” di Timur Tengah.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Mar 30, 2017 15:46 Asia/Jakarta
  • Jenderal Joseph Votel
    Jenderal Joseph Votel

Amerika Serikat harus mempertimbangkan menggunakan “cara militer” terhadap Iran, kata pejabat militer AS, Jenderal Joseph Votel, yang menyebut Republik Islam sebagai “ancaman jangka panjang terbesar bagi stabilitas” di Timur Tengah.

Votel, yang mengepalai Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), mengemukakan pernyataan itu saat berbicara di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Kongres AS, Rabu (29/3/2018).

 

“Saya percaya bahwa Iran beroperasi dalam apa yang saya sebut zona abu-abu, dan itu adalah wilayah persaingan normal antaranegara - dan itu hanya singkat dari konflik terbuka,” katanya kepada panel.

 

Votel kemudian menuduh Iran “mendestabilisasi” kawasan melalui “melalui bantuan mematikan,” menggunakan “kekuatan proxy” dan operasi cyber.

 

Pernyataan jenderal AS itu sejalan dengan retorika anti-Iran Presiden AS Donald Trump, yang menuduh Iran mendukung terorisme dan mengatakan bahwa semua opsi ada di atas meja" dalam merespon program rudal Republik Islam.

 

Sebagai Komandan CENTCOM, Votel bertugas memimpin operasi dan tugas militer Washington di Asia Tengah dan Timur Tengah. Lebih dari 80.000 tentara AS ditempatkan di seluruh daerah di bawah komando Votel.

 

CENTCOM juga mengawasi serangan udara koalisi pimpinan AS dan operasi militer lain terhadap sasaran teroris yang diklaim dalam wilayah Suriah dan Irak. Kampanye udara yang dimulai pada tahun 2014 dan menelan nyawa banyak warga sipil.

 

Komentar Votel itu mengemuka kurang dari dua pekan setelah serangan pasukan koalisi menewaskan lebih dari 200 warga sipil di kota Irak Mosul.

 

Pentagon mengaku melakukan serangan “tidak disengaja” terhadap target sipil di Suriah, Afghanistan, Pakistan dan juga Yaman.

 

Selain itu, Washington juga mengabaikan tekanan terhadap sekutunya seperti Arab Saudi, yang menimbulkan kerusakan dan pertumpahan darah di Yaman dan juga atas dukungannya terhadap kelompok-kelompok ekstremis.(MZ)