Kegagalan Kunjungan Tillerson ke Moskow
https://parstoday.ir/id/news/world-i35974-kegagalan_kunjungan_tillerson_ke_moskow
Rusia kembali memveto draf resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Keputusan ini diambil beberapa saat setelah pertemuan Rex Tillerson, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Moskow.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Apr 13, 2017 07:41 Asia/Jakarta
  • sidang Dewan Keamanan PBB
    sidang Dewan Keamanan PBB

Rusia kembali memveto draf resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Keputusan ini diambil beberapa saat setelah pertemuan Rex Tillerson, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Moskow.

Dalam draf resolusi yang diusulkan Amerika Serikat, Perancis dan Inggris itu, pemerintah Suriah dituntut untuk bekerjasama dengan Dewan Keamanan PBB untuk menyelidiki insiden serangan kimia di Khan Sheykhun di provinsi Idlib.

 

Disebutkan pula bahwa pemerintah Suriah harus memberikan seluruh informasi soal operasi di hari terjadinya serangan tersebut kepada tim penyelidik Dewan. Poin ini yang diprotes oleh Rusia sehingga memvetonya. Selain Rusia, Bolivia juga menentang draf resolusi tersebut. Namun kali ini, Cina memberikan suara abstain. Dengan demikian, Dewan Keamanan PBB kembali terbukti mandul menyelesaikan krisis Suriah.

 

Saat ini di antara anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa khususnya Rusia, sebagai pemegang hak veto dan tiga anggota tetap lain di Barat di Dewan yaitu Amerika Serikat, Inggris dan Perancis, muncul perselisihan pendapat yang cukup dalam. Negara-negara Barat dengan diiringi sejumlah sekutunya di kawasan Asia Barat termasuk Arab Saudi, Qatar, Turki dan Israel, sedang berusaha menggunakan segala cara untuk keluar sebagai pemenang dalam perang enam tahun di Suriah serta menggulingkan Bashar al-Assad.

 

Koalisi Barat-Arab demi mencapai target tersebut bahkan menjalin kerjasama langsung maupun tidak langsung dengan kelompok-kelompok teroris Takfiri. Sementara di sisi lain, Rusia sebagai sekutu politik utama pemerintah Suriah juga berada di antara anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Rusia dengan kemampuan militernya juga sedang memerangi teroris Takfiri Daesh serta membantu militer Suriah dalam setiap operasinya.

 

Pekan lalu, koalisi Barat-Arab anti-Suriah dengan alasan insiden kimia di kota Khan Sheykhun, berusaha menciptakan jarak antara Moskow dan Damaskus. Awalnya, Amerika Serikat melancarkan serangan rudal ke pangkalan udara Shayrat di Suriah tanpa bukti soal peran militer Suriah dalam serangan kimia di Khan Sheykhun. Kemudian Rex Tillerson, dengan misi yang sama berkunjung ke Moskow. Sebelum bertolak menuju Moskow, Tillerson menyatakan bahwa Rusia harus memilih antara Washington dan Bashar al-Assad.

 

Adapun Rusia tetap menekankan tekadnya untuk memberantas Daesh dan berulangkali menyatakan bahwa upaya Barat untuk menggulingkan pemerintahan sah dan terpilih Assad, akan menguatkan posisi teroris.

 

Alhasil, kunjungan Tillerson ke Moskow untuk menciptakan perselisihan antara Rusia dan Suriah. Bersamaan dengan proses tukar-menukar pernyataan dingin dan tidak bersahabat antara para pejabat Amerika Serikat dan Rusia di Moskow, para perwakilan kedua negara di Dewan Keamanan juga saling berselisih pendapat soal konten draf resolusi Dewan Keamanan PBB.

 

Menyusul gagalnya upaya Barat di Dewan Keamanan PBB, diprediksi para perancang insiden serangan kimia mencurigakan di kota Khan Sheykhun sedang merencanakan serangan baru di Suriah yang akan dijadikan alasan untuk mengulang serangan rudal Amerika Serikat ke Suriah.(MZ)