Laporan Komunitas Intelijen AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i37550-laporan_komunitas_intelijen_as
Komunitas Intelijen Amerika Serikat telah menerbitkan laporan pertama tentang penilaian ancaman global pada era pemerintahan Donald Trump. Laporan itu juga mengulangi klaim-klaim tak berdasar terhadap Republik Islam Iran dengan retorika baru.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
May 13, 2017 13:01 Asia/Jakarta

Komunitas Intelijen Amerika Serikat telah menerbitkan laporan pertama tentang penilaian ancaman global pada era pemerintahan Donald Trump. Laporan itu juga mengulangi klaim-klaim tak berdasar terhadap Republik Islam Iran dengan retorika baru.

Di bagian ancaman regional laporan tersebut, nama Iran, Rusia, Cina, dan Korea Utara disebutkan di samping ancaman-ancaman non-negara. Di bagian senjata pemusnah massa dan proliferasi, Komunitas Intelijen AS mengklaim bahwa rudal balistik Iran secara inheren mampu membawa hulu ledak senjata pemusnah massal.

Sebelum laporan itu diterbitkan, Komite Intelijen Senat AS pada Kamis lalu menggelar sebuah pertemuan dengan tema "Ancaman Global." Pertemuan ini dihadiri oleh para pejabat Komunitas Intelijen AS termasuk direkturnya, Daniel R. Coats. Pada kesempatan itu, Coats menyebut Iran sebagai salah satu ancaman yang dihadapi AS.

"Di Teluk Persia, Iran sedang memasang ranjau laut yang canggih, mengoperasikan perahu-perahu bunuh diri tanpa awak, dan mengerahkan torpedo canggih dan rudal anti-kapal," ujarnya.

Komunitas Intelijen AS menggunakan laporan itu untuk menyudutkan Iran, padahal realitas saat ini di Timur Tengah menunjukkan bahwa krisis regional dan dunia merupakan dampak dari kebijakan agresif dan campur tangan AS. Perilaku AS telah menjadi alasan utama munculnya terorisme dan ekstremisme.

Beberapa pejabat Amerika termasuk mantan Menlu Hillary Clinton bahkan mengakui keterlibatan Washington dalam menciptakan dan mendukung kelompok-kelompok teroris seperti, Al Qaeda dan Daesh.

AS dan sekutunya dengan menciptakan konflik di kawasan telah menyediakan ruang untuk kegiatan teroris dan perang yang tak berkesudahan. Para pejabat Washington dengan mendistorsi fakta berusaha mengesankan AS sebagai tokoh protagonis dalam perimbangan regional dan dunia dan sedang menjalankan perannya sebagai polisi yang baik, sementara pihak lain merupakan sumber ancaman.

Faktanya, AS telah menyeret dunia dalam krisis yang diciptakan oleh mereka sendiri dan kemudian ingin memanfaatkan situasi itu. Para pengamat politik dan negara-negara pengkritik kebijakan AS yaitu Rusia dan Cina, memandang laporan tersebut sebagai petualangan baru AS di era Trump.

Seorang intelektual asal Amerika, Noam Chomsky baru-baru ini menanggapi komentar para pejabat Washington, yang memperkenalkan Iran sebagai ancaman terbesar bagi AS.

"Pekerjaan ini sudah dilakukan AS sejak bertahun-tahun. Di sepanjang era Barack Obama, Iran juga dicap sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian dunia dan pernyataan ini terus diulang. Namun strategi Iran adalah pertahanan dan pencegahan," kata Chomsky.

Chomsky menambahkan, "Lalu siapa yang dapat khawatir dengan sebuah kebijakan pertahanan?"

Laporan pertama Komunitas Intelijen AS di era Trump hanya berisi pengulangan klaim-klaim tak berdasar terhadap Iran. Republik Islam telah memperjelas sikapnya bahwa ia tidak akan menerima intervensi asing dalam urusan pertahanan negara. (RM)