Ancaman Jerman untuk Pemimpin Turki
https://parstoday.ir/id/news/world-i37756-ancaman_jerman_untuk_pemimpin_turki
Pemerintah Ankara baru-baru ini menolak kunjungan delegasi komite pertahanan Parlemen Jerman untuk bertemu dengan sekitar 270 tentara negara tersebut di pangkalan udara Incirlik, Turki.
(last modified 2026-02-03T09:42:30+00:00 )
May 17, 2017 16:34 Asia/Jakarta

Pemerintah Ankara baru-baru ini menolak kunjungan delegasi komite pertahanan Parlemen Jerman untuk bertemu dengan sekitar 270 tentara negara tersebut di pangkalan udara Incirlik, Turki.

Dalam merespon penolakan itu, Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan, Berlin dapat memindahkan tentaranya ke negara lain jika Ankara tidak memberikan izin kepada komite pertahanan Parlemen Jerman untuk mengunjungi personel yang sedang bertugas dalam misi NATO untuk memerangi Daesh.

"Penting bagi anggota parlemen untuk dapat mengunjungi 270 tentara Jerman yang bertugas di Incirlik," tegas Merkel.

Ini adalah kasus ketegangan terbaru antara Jerman dan Turki dalam satu tahun terakhir. Pada dasarnya, hubungan kedua pihak dipengaruhi oleh interaksi Uni Eropa dan Turki selama satu tahun lalu yang sarat dengan perkembangan negatif.

Dua isu utama telah memperburuk ketegangan hubungan antara Uni Eropa dan Turki dan kemudian menyeret Jerman di dalamnya. Pertama; kudeta gagal pada 15 Juli di Turki mendorong para pejabat Ankara melontarkan kritikan pedas atas sikap pasif Uni Eropa termasuk Jerman. Kemudian, blok Eropa dan Jerman mengkritik keras perilaku pemerintah Turki terhadap para pelaku kudeta. Mereka juga menuduh Ankara melanggar komitmennya dalam proses keanggotaan Turki di Uni Eropa.

Dan kedua; pelaksanaan referendum perubahan konstitusi di Turki pada April 2017 telah mengundang kritik tajam dari Uni Eropa dan para pejabat Eropa lainnya termasuk Angela Merkel dan menteri luar negeri Jerman.

Jerman memandang referendum itu sebagai sebuah kemunduran besar di Turki. Berlin bahkan menghalangi kunjungan para pejabat tinggi Turki ke Jerman untuk kampanye menggalang dukungan bagi referendum. Larangan ini memantik kemarahan para pejabat Turki khususnya Presiden Recep Tayyip Erdogan. Dalam sebuah retorika yang keras, Erdogan bahkan membanding-bandingkan Jerman dengan Nazi.

Setelah munculnya wacana untuk menghidupkan kembali undang-undang eksekusi mati di Turki, Partai Sosial Demokrat dan Partai Uni Demokrat Kristen di Jerman mengancam akan mengeluarkan Turki dari Dewan Eropa jika aturan itu berlaku kembali.

Dalam pandangan mereka, penerapan eksekusi mati sama artinya dengan penarikan diri Turki dari proses keanggotaan di Uni Eropa, dan berakhirnya keanggotaan negara itu di Dewan Eropa.

Oleh karena itu, hubungan Jerman dan Turki sekarang berada pada situasi yang sangat buruk. Ketegangan baru terkait rencana kunjungan delegasi Parlemen Jerman ke Incirlik, tentu akan memperparah perseteruan kedua pihak.

Jika Turki bersikeras pada pendiriannya, Jerman mengancam akan mencari alternatif lain untuk menempatkan pasukannya dan salah satu pilihan mereka adalah Yordania.

Sumber-sumber di Berlin mengatakan, sebuah delegasi militer Jerman akan berkunjung ke Amman untuk membahas kemungkinan menempatkan pasukan Jerman di Yordania. Menurut mereka, Yordania menjadi alternatif prioritas di samping Siprus dan Kuwait.

Jika Jerman benar-benar melaksanakan ancamannya, ini akan menjadi sebuah pukulan bagi posisi Turki di NATO, dan koalisi internasional anti-Daesh juga akan memandang Ankara sebagai perusak upaya menumpas kelompok teroris tersebut. (RM)