Kesepakatan Pertahanan Baru AS dan UEA
-
Donald Trump
Pentagon mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab (UEA) telah menandatangani kesepakatan pertahanan baru. Kesepakatan ini akan menggantikan perjanjian sebelumnya yang dicapai pada tahun 1994.
Perjanjian 1994 telah mendorong peningkatan hubungan militer dan keamanan antara AS dan UEA. Sejak masa itu, para pejabat tinggi politik dan militer kedua negara aktif melakukan penjajakan dan konsultasi.
Berdasarkan perjanjian tersebut, AS membuka sebuah kantor hubungan militer di UEA dan memperoleh kemudahan untuk membangun pangkalan angkatan laut di negara Teluk Persia itu. Angkatan Laut AS telah membangun instalasi militer di pelabuhan Jebel Ali, Dubai, dan Fujairah.
Hubungan militer dan keamanan antara Washington dan Abu Dhabi terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan mereka telah menandatangani sejumlah kontrak penjualan senjata. AS juga menempatkan mesin-mesin perang di Pangkalan Udara Al Dhafra seperti, pesawat tempur F-22. Pangkalan ini menjamu 3.500 tentara dan jet-jet tempur Amerika.
Alasan AS memperkuat kehadirannya di Teluk Persia dan menandatangani sejumlah kesepakatan militer dengan beberapa negara regional adalah karena klaim adanya ancaman dari sisi Iran terhadap negara-negara Arab.
Di wilayah Teluk Persia, AS dan sekutunya di Barat selalu mengangkat isu Iranphobia dan memprovokasi negara-negara Arab untuk memusuhi Iran. Dengan cara ini, AS dapat menjual senjatanya ke negara-negara Arab dan melanjutkan kehadirannya di Teluk Persia.
Belanja besar-besaran senjata oleh UEA dalam beberapa tahun terakhir telah menempatkan negara itu pada posisi kedua – setelah Arab Saudi – sebagai negara pemborong senjata di wilayah Teluk Persia.
Propaganda dan tuduhan tak berdasar AS dan sekutunya seperti, Inggris dan Perancis terhadap Iran atau dengan kata lain kampanye Iranphobia, telah menciptakan persepsi negatif terhadap Republik Islam Iran di tengah sebagian negara Arab.
Saat ini Abu Dhabi dan sekutu regionalnya seperti Riyadh mengadopsi pendekatan konfrontatif terhadap Tehran. Oleh karena itu, mereka terus memborong senjata baru dan memperbanyak senjata-senjata ofensif. Mereka menyatakan kekhawatiran atas meningkatnya kekuatan Tehran dan meluasnya pengaruh Iran di kawasan.
Pada dasarnya, UEA dan Arab Saudi – lewat bisikan AS dan rezim Zionis Israel – menganggap Iran sebagai ancaman utamanya dan kemudian secara masif memborong mesin-mesin perang dari Barat termasuk jet tempur dan sistem pertahanan rudal.
Selain itu, AS sebagai sekutu dekat Arab juga sedang melaksanakan proyek bersama seperti, membangun sistem pertahanan rudal terpadu dan menggelar latihan militer gabungan di Teluk Persia.
Di samping memperkuat kekuatan militer negara-negara Arab, AS dan sekutunya di Barat juga meningkatkan kehadiran mereka di kawasan ini. Dengan demikian, AS dan sekutunya telah menjadi penyebab ketidakamanan dan instabilitas di Teluk Persia.
Para pemimpin UEA menilai untuk memecahkan tantangan keamanan adalah dengan memborong senjata dan membangun hubungan yang kuat dengan AS dan negara-negara Barat lainnya. (RM)