Protes Anti Amerika Rakyat Korea Selatan
Rakyat Korea Selatan menggelar aksi demo besar-besaran di berbagai wilayah negara ini khususnya di kota Seoul menuntut dihentikannya penempatan sistem anti rudal THAAD Amerika serta dicabutnya militeralisasi negara adidaya ini dari Semenanjung Korea.
Mengingat bahwa pemerintah baru Korea Selatan juga tidak menunjukkan minat besar atas penempatan sistem anti rudal ini, protes warga menolak sistem anti rudal THAAD semakin meningkat. Sebelumnya warga juga berkumpul di sekitar lokasi penempatan sistem ini di kota Seongju, 300 km dari kota Seoul menuntut pencabutan sistem anti rudal milik AS.
Protes warga Korea Selatan terhadap penempatan sistem rudal THAAD Amerika dapat dicermati dari sejumlah sisi. Pertama, dari sudut pandang lingkungan hidup, penempatan sistem ini merusak lingkungan hidup di sekitarnya. Kedua, menurut pengamat Cina dan Rusia, THAAD bukan sebuah sistem anti rudal yang sempurna yang mampu menjamin keamanan nasional Korea Selatan dan sekedar mengeruk dana dan keamanan negara ini.
Oleh karena itu, pengacara Korea Selatan, Kim Jin-hyung meminta asosiasi Minbyun menyatakan secara hukum akan mempersoalkan sistem anti rudal THAAD, karena menjadi ancaman bagi keamanan nasional Korea Selatan. Ia menambahkan, asosiasi Minbyun memutuskan akan mempersoalkan udang-undang dasar dan memulai gugatannya, karena konstitusi Korea Selatan menekankan seluruh warga negara ini berhak memiliki lingkungan hidup yang sehat, padahal penempatan sistem anti rudal Amerika bertentangan dengan undang-undang dasar dan hak lingkungan hidup yang sehat bagi warga.
Alasah ketiga penentangan rakyat Korsel atas penempatan sistem rudal THAAD di negara mereka adalah penentangan luas di tingkat regional dan internasional, di mana mendorong hubungan Korsel dengan tetangganya termasuk Cina semakin keruh. Cina dalam protesnya dilaporkan memberlakukan sanksi ekonomi dan pariwisata terhadap Korsel, di mana hal ini sangat merugikan sektor ekonomi serta pariwisata Seoul.
Mengingat rentannya Korsel terhadap serangan potensial Korut, rakyat negara ini meyakini bahwa tujuan Amerika menempatkan sistem anti rudal THAAD lebih dari ancaman Pyongyang. Sementara itu, Cina seraya memahami realita ini, mengambil sikap keras terkait penempatan THAAD di Korsel dan menolak menunjukkan sikap lunak terkait kasus ini. Untuk menghapus alasan Amerika tekait ketakutan terhadap Korut dan memperkuat militernya di sekitar Semenanjung Korea, Cina meminta Pyongyang mempersiapkan kondisi yang diperlukan untuk kembali ke meja perundingan guna menyelesaikan isu Semananjung Korea.
Sheng Shiliang, pengamat dan ketua riset bidang internasional di pemerintahan Cina meyakini, “Pejabat Beijing berusaha membujuk rekannya dari Pyongyang mengakhiri sikap konfrontatif dengan imbalan janji bantuan ekonomi. Ini artinya Cina tidak puas atas uji coba rudal beruntun Korea Utara dan militeralisasi Amerika Serikat di kawasan.”
Mengingat ketergantungan ekonomi dan kebijakan ekspor negara-negara Asia Timur, mereka tidak condong memperkeruh krisis dan Cina dengan mengontrol krisis berusaha mematahkan strategi ketakutan terhadap Beijing dan Korea Utara yang dilancarkan Amerika di kawasan serta mengembalikan stabilitas dan ketenangan di Asia Timur dan Semenanjung Korea.
Sepertinya Korea Selatan juga berharap Cina dengan membujuk Korea Utara menghentikan uji coba rudal dan nuklirnya, mempersiapkan penurunan kehadiran militer AS di kawasan khususnya Semananjung Korea. Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in berkuasa dengan slogan menyelesaikan friksi dengan Cina serta berinteraksi dengan Korea Utara.
Kerjasama Beijing dan Seoul sepertinya mampu merealisasikan slogan presiden baru Korea Uara dan membuat proses interaksi serta dialog regional menggantikan tensi serta konfrontasi politik dan militer di mana hasilnya adalah penarikan pasukan dan peralatan perang Amerika dari kawasan. (MF)