Penempatan Unit-unit Militer Cina di Perbatasan dengan India
Ketika Cina dan India diharapkan untuk mengurangi ketegangan dan menyelesaikan konflik perbatasan, militer Cina dilaporkan menempatkan unit-unit kendaraan lapis bajanya di wilayah Tibet yang dekat dekat perbatasan India.
Televisi Cina dalam sebuah laporan baru-baru ini menyebutkan bahwa negara ini menempatkan tank-tanknya di Tibet sebagai bentuk upaya untuk mencegah pengaruh India dan penguatan militer negara ini di wilayah otonomi khusus tersebut.
Cina dan India saling mengklaim atas kepemilikan sejumlah wilayah. Di antara wilayah yang disengketakan adalah Zanganan yang berada di bawah kontrol India, di mana Cina menyebutnya sebagai Tibet selatan. Pemerintah New Delhi menilai daerah tersebut sebagai bagian dari Negara Bagian Arunachal Pradesh.
Pada tahun 1962, Cina dan India saling bentrok atas kedaulatan wilayah tersebut, namun kedua negara sejak sekitar dua dekade lalu memulai upaya untuk menyelesaikan konflik dan perselisihan perbatasannya dengan membentuk sebuah komite yang diketuai oleh para penasihat keamanan nasional kedua negara. Namun sayangnya, hingga sekarang upaya tersebut belum mencapai hasilnya.
Tibet bagi Cina merupakan wilayah yang sangat penting mengingat penempatan Dalai Lama, pemimpin Budha Tibet yang diasingkan di Dharamsala, India. Baru-baru ini juga dikabarkan bahwa pasukan Cina dan India saling berhadap-hadapan di bagian wilayah Kashmir yang berada di bawah kontrol pemerintah Beijing.
Yang lebih sensitif bagi India terkait dengan persoalan wilayah perbatasan dengan Cina adalah program pemerintah Beijing untuk menghidupkan kembali Jalur Sutra Baru yang dikenal dengan One Belt, One Road (OBOR), di mana bagian koridor-Cina-Pakistan-nya melewati Kashmir yang dikontrol India. Oleh karena itu, New Delhi menentang program ekonomi tersebut.
India menilai Kashmir sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari wilayahnya, dan negara ini menentang segala bentuk langkah untuk mengakui kepemilikan Pakistan di Kashmir yang berada di bawah kontrolnya. Oleh karena itu, India tidak memiliki partisipasi signifikan dalam Forum Kerjasama Internasional Tingkat Tinggi yang dikenal dengan "One Belt, One Road" (OBOR) yang digelar di Beijing.
Sebelumnya, Cina dan India –disebabkan kekhawatiran atas kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan dan perluasan cakupan geografis NATO serta untuk pencapaian pasar-pasar bersama dan penggunaan potensi finansial dan teknologi– sepakat untuk memperluas hubungan ekonomi dan kerjasama di sektor keuangan dan industri dengan mengabaikan konflik wilayah perbatasan kedua negara.
Namun baru-baru ini, persaingan antara Cina dan India untuk memperkuat posisi regional dan internasional dan mengambil pangsa lebih dari pasar-pasar, mengemuka kembali dan konflik perbatasan kedua negara kembali memanas.
India yang menganggap Cina sebagai pesaing nuklir dan ekonominya tidak berminat untuk berpartisipasi dalam program-program ekonomi dan keuangan pemerintah Beijing. Oleh karena itu, India menentang koridor ekonomi Cina-Pakistan yang melewati wilayah Kashmir yang dikontrolnya. Penentangan India tersebut di masa mendatang akan menimbulkan tantangan dan persoalan bagi pelaksanaan program ekonomi Cina.
Pada dasarnya, Cina merupakan mitra perdagangan terbesar bagi India, di mana nilai perdagangan kedua negara diperkirakan mencapai 70 miliar dolar pertahun. Ini merupakan pasar yang menarik bagi Cina dan India. Dari luar, tampaknya kedua negara tidak bersedia untuk fleksibel dalam posisinya. Penempatan pasukan di perbatasan dinilai sebagai unjuk kekuatan dan upaya untuk menunjukkan bahwa keduanya sensitif terkait dengan wilayah perbatasan. (RA)