Kunjungan Presiden Korsel ke Amerika
https://parstoday.ir/id/news/world-i40292-kunjungan_presiden_korsel_ke_amerika
Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in yang tengah berada di Amerika Serikat mengkonfirmasikan potensi pemberian sejumlah konsesi kepada Korea Utara sebagai imbalan dari penghentian program nuklir Pyongyang.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Jun 30, 2017 14:25 Asia/Jakarta

Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in yang tengah berada di Amerika Serikat mengkonfirmasikan potensi pemberian sejumlah konsesi kepada Korea Utara sebagai imbalan dari penghentian program nuklir Pyongyang.

Moon Jae-in menyatakan, Korea Selatan dan Amerika harus memulai perundingan tanpa prasyarat dengan Korea Utara terkait aktivitas nuklir dan rudal negara ini. Hari Kamis, Moon Jae-in bertemu dengan sejawatnya dari Amerika, Donald Trump di Washington.

Di saat Presiden Korsel melawat Amerika, muncul berbagai kendala dan isu regional dan hubungan kedua pihak. Krisis nuklir Korut, penempatan sistem anti rudal Thaad Amerika di Korsel, penempatan pasukan Amerika di negara serta hubungan perdagangan bilateral termasuk isu dan kendala tersebut.

Sejatinya Moon Jae-in membawa segudang harapan saat berkunjung ke Washington dan optimis mampu menemukan solusi friksi regional selama bertemu dengan sejawatnya dari Amerika. Terkait Korut, presiden baru Korsel tidak sepenuhnya setuju dengan sikap Amerika anti Pyongyang, sebaliknya Seoul menuntut solusi Semananjung Korea melalui jalur damai dan dialog dengan Korut, bahkan jika harus memberi konsesi kepada Pyongyang.

Di sisi lain, Amerika sampai kini bukan saja tidak mengumumkan strategi tertentu untuk menyelesaikan krisis Korea Utara, bahkan Washington dengan mengirim armada perangnya ke perairan sekitar Semenanjung Korea malah mendorong krisis di kawasan semakin panas. Sesuai dengan slogan Moon Jae-in selama kampanye pemilu presiden terakhir soal upayanya menyelesaikan krisis Semenanjung Korea melalui jalur politik, ia akan menghadapi kondisi sulit untuk meyakinkan Trump dalam kasus ini.

Richard Weitz, pengamat politik Amerika dan Direktur Pusat Analisis Politik-Militer di Hudson Institut meyakini, "Amerika tidak memiliki rencana pasti dan program terencana untuk menyelesaikan krisis di Semanjung Korea. Pyongyang untuk waktu yang panjang dan dengan kesabaran tinggi mampu memperkuat potensi rudal dan nuklirnya. Kondisi ini membuat upaya melaksanakan setiap rencana menjadi sangat sensitif."

Dalam hal ini, rakyat Korea Selatan menuntut pencabutan penempatan sistem anti rudal Thaad Amerika dari negara mereka dan Moon Jae-in sepertinya memiliki proposal kepada Amerika untuk memperhatikan catatan Beijing demi meredam protes opini publik dan tensi di hubungan Korea Selatan dengan Cina yang tercatat sebagai pihak penentang utama penempatan sistem rudal ini.

Hal ini mengingat Cina sebagai bentuk penentangan, berani menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Korea Utara dan kondisi ini telah menimbulkan kerugian besar bagi sektor industri pariwisata dan perdagangan Korea Selatan. Di kondisi seperti ini, presiden Korsel berharap Amerika mengalokasikan lebih besar pasarnya bagi industri produksi dan pariwisata Korsel sehingga kerugian akibat sanksi Cina dapat ditutupi.

Salah satu kendala lain yang dihadapi presiden Korea Selatan adalah penempatan 40 ribu pasukan Amerika di negaranya yang menimbulkan kendala sosial dan keamanan bagi rakyat Korsel. Rakyat Korea Selatan menuntut penarikan pasukan Amerika dari negaranya, sementara di sisi lain, Amerika mencoba mengobarkan kepanikan dengan isu Cina dan Korea Utara demi menjustifikasi kehadiran militernya di Seoul.

Pengamat regional meyakini selama Korea Selatan dan Utara tidak bergerak ke arah persatuan, maka tidak akan ada prospek yang jelas bagi solusi friksi di Semenanjung Korea. Sementara itu Amerika terus berusaha mencegah terjadinya persatuan di antara dua Korea.

Edward Lozansky, pendiri universitas Amerika di Moskow terkait hal ini meyakini, "Kemungkinan terbesar solusi krisis di Semanjung Korea adalah Korsel dan Korut menandatangani perjanjian damai dan AS, Cina serta Rusia menjadi penjamin bagi implementasi kesepakatan tersebut. Namun mengingat alasan politik tertentu, petinggi Washington menolak opsi ini."

Bagaimana pun juga mengingat bahwa kebijakan makro Amerika adalah memperkuat kehadiran militernya di Asia Timur dan perairan sekitar Korea Utara untuk memblokade negara ini dan Cina, kecil kemungkinan presiden Korsel di lawatannya ke Washington mampu membuka solusi politik bagi krisis Semanjung Korea, khususnya AS menentang keras atas pemberian konsesi kepada Pyongyang. (MF)