Kekhawatiran akan Memburuknya Hubungan AS-Rusia
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump beberapa jam setelah menandatangani RUU yang disahkan Kongres terkait sanksi baru anti tiga negara Republik Islam Iran, Rusia dan Korea Utara mengaku khawatir atas rusaknya hubungan Washington dengan Moskow.
Trump di laman Twitternya menulis, "Hubungan kami dengan Rusia berada di level terendah dan kondisi ini sangat berbahaya."
Seiring dengan diratifikasinya undang-undang anti tiga negara tersebut dengan suara mayoritas anggota Kongres dan kemudian ditandatangani presiden, untuk pertama kalinya Rusia mendapat sanksi Amerika secara spesifik. Sebelumnya, sanksi Amerika terhadap Rusia dengan dalih intervensi Moskow di transformasi Ukraina dan aneksasi Crimea oleh Rusia. Sanksi tersebut menarget sejumlah individu dan perusahaan yang dekat dengan pemerintah Moskow. Namun kali ini, industri minyak dan gas Rusia yang menjadi sumber pendapatan utama Moskow menjadi target sanksi Washington.
Scott Bennett, mantan perwira perang psikologis militer AS saat diwawancarai Press TV mengatakan, "Sanksi baru anti Rusia sepenuhnya disusun berdasarkan data keliru, propaganda dan makar terkait intervensi Moskow di pemilu presiden 2016 AS. Padahal tidak ada bukti kuat terkait klaim tersebut."
Sementara itu petinggi Rusia secara transparan mengatakan bahwa sanksi ini tidak akan membuat Moskow bertekuk lutut. Meski demikian, Kremlin sepertinya akan meningkatkan aksi balas dendamnya dalam menyikapi sikap ofensif Washington. Aksi balas dendam ini bisa mencakup aksi politik, ekonomi dan keamanan. Rusia memiliki senjata nuklir di arsenalnya yang tak kalah dengan Amerika serta memiliki hak Veto di Dewan Keamanan PBB.
Selain itu, Rusia memiliki kemampuan besar dalam mempengaruhi ekonomi energi global khususnya terkait dengan sekutu Washington di Eropa. Melalui jalur ini, Rusia secara tidak langsung dapat menekan Amerika. Oleh karena itu, Trump meski menandatangani keputusan anti Rusia yang diratifikasi Kongres, berbicara mengenai ketidakefektifan dan kemandulan sanksi tersebut. Bahkan ia menuding Kongres sebagai pihak yang bertanggung jawab di krisis hubungan Washington-Moskow.
Pejabat pemerintah Amerika khawatir bahwa eskalasi atmosfer anti Rusia di Amerika yang dinilai Rusia sebagai "Kegilaan Anti Rusia" pada akhirnya akan keluar dari kontrol dan menciptakan benturan di antara kedua negara."
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson mengatakan, "Sejak berakhirnya era Perang Dingin hingga kini, hubungan Amerika dan Rusia berada di level terendah. Kondisi sangat buruk dan berpotensi lebih buruk lagi. Sementara itu, gerakan kuat ini masih menilai belum cukup menyikapi Rusia dan berusaha memaksa pemerintah Amerika keluar dari traktat kontrol senjata nuklir dengan Rusia. Jika tuntutan ini terealisasi, dunia akan mengalami era baru perlombaan senjata nuklir dan kehancuran sendi-sendi 70 tahun perjanjian larangan penyebaran senjata pemusnah massal. Langkah ini pada akhirnya akan membahayakan keamanan nasional Amerika sendiri." (MF)