Ketika Amerika Lebih Memilih Diplomasi dengan Korea Utara
Di tengah kemungkinan perang di Semenanjung Korea Utara, Menteri Pertahanan Amerika menyerukan solusi diplomatik untuk krisis ini.
James Mattis, Menteri Pertahanan Amerika mengatakan, "Washington sedang mencoba untuk menemukan solusi diplomatik untuk ketegangan Korea Utara."
Ucapan ini disampaikan ketika sebelumnya, Donald Trump, Presiden Amerika secara tidak langsung mengancam Korea Utara dengan serangan nuklir. Beberapa hari lalu Trump mengatakan, "Bila ancaman terhadap Amerika terus berlanjut, maka Korea Utara akan menghadapi kemarahan dan api, dimana dunia hingga kini belum pernah menyaksikan yang seperti ini.”
Media-media menjelaskan ucapan ini sebagai ancaman serangan nuklir oleh Presiden Amerika terhadap Korea Utara.
John McCain, ketua Komite Angkatan Bersenjata Amerika di Senat mengritik pernyataan provokasi Donald Trump seraya mengatakan, "Ini retorika tidak berdasar dan tidak akan membantu penurunan tensi antara kedua negara. Karena retorika kekerasan dan arogan tidak dapat membantu kondisi tegang antara Amerika dan Korea Utara."
Tentu saja, segera setelah ucapan Presiden Amerika yang tidak biasa dalam ancaman tidak langsung untuk menyerang Korea Utara dengan senjata nuklir, para menteri dan penasihat Trump langsung berusaha melunakkan sikap Trump. Rex Tillerson, Menteri Luar Negeri Amerika mengatakan, "Trump berbicara dengan nada demikian agar pemimpin Korea Utara memahami pesan Washington."
Dia juga meminta warga Amerika untuk tidur dengan tenang. Karena ancaman serangan nuklir Korea Utara tidak serius.
Pernyataan-pernyataan yang bersifat melunakkan situasi pada akhirnya dilengkapi oleh Menteri Pertahanan Amerika. James Mattis mengatakan bahwa pemerintah Amerika komitmen untuk mencari solusi diplomatik atas krisis di Semenanjung Korea.
Para pejabat senior pemerintah Amerika mencoba untuk mencegah Korea Utara membalas ancaman tidak biasa Donald Trump. Pyongyang telah menyatakan rencananya untuk meluncurkan empat rudal secara serentak di seluruh pulau Guam di Samudra Pasifik. Pulau-pulau ini milik Amerika dan digunakan sebagai pangkalan militer paling penting negara ini di Samudera Pasifik.
Penembakan rudal-rudal ke Guam dapat menciptakan perang di Asia Timur yang akan berujung pada tewasnya ratusan ribu manusia dan penghancuran sebagian besar infrastruktur industri dan perdagangan regional.
Sekalipun demikian, tampaknya warga Amerika tidak mau terlibat dalam perang yang seperti ini, sekalipun retorika Trump memprovokasi kondisi yang ada. Secara teoritis, militer Amerika mampu menghancurkan Korea Utara. Tapi kemampuan Korea Utara menjawab serangan Amerika bakal menyeret perang ke Korea Selatan dan Jepang. Puncaknya Cina dan Rusia juga akan terseret dalam pusaran perang ini.
Membayangkan kondisi ini dapat menjadi faktor pencegah petualangan militer Amerika. Itulah mengapa Kementerian Luar Negeri dan Pertahanan Amerika berbicara dengan retorika yang bertentangan dengan retorika Presiden Amerika.