Siaga Penuh Militer Korea Utara
Di saat krisis Semenanjung Korea masih tetap berlanjut, Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menginstruksikan militernya siaga penuh untuk setiap serangan rudal.
Kim Jong-un di sidang dengan para komandan militer Korea Utara terkait rencana serangan ke perairan di sekitar Pulau Guam. Di pertemuan ini ditekankan Amerika harus memilih opsi yang benar untuk mencegah bentrokan dengan Pyongyang.
Pulau Guam berpenduduk sekitar 160 ribu orang dan terletak di barat Samudera Pasifik serta dikelola oleh Amerika Serikat. Washington memiliki dua pangkalan laut dan udara di Pulau Guam. Pulau ini berjarak 3500 km dengan Korea Utara. Pemilihan perairan sekitar Pulau Guam oleh Korut sebagai target serangan rudal balistik sangat penting dari beberapa sisi.
Pertama, Korea Utara memiliki rudal yang mampu menarget jarak tersebut. Kedua, Korea Utara memiliki keberanian dan kemampuan menarget langsung pangkalan militer Amerika, bahkan di titik yang jauh dari wilayahnya. Ketiga, Korut menggulirkan level tensi dan ancaman langsung dengan Amerika sehingga negara ini mampu menarik lebih bersar simpati elit dunia. Keempat, tujuan Korut menggulirkan serangan ke sekitar perairan Pulau Guam adalah mempertanyakan kebijakan Donald Trump, presiden AS terkait krisis Semenanjung Korea.
Sementara itu, maraknya kritik terhadap Donald Trump di dalam negeri serta di tingkat regional mengindikasikan keberhasilan propaganda Korea Utara dan stratetgi cerdas Pyongyang.
Bruce Klingner, mantan pensihat Dinas Rahasia AS (CIA) dan pengamat Asia di Heritage Foundation mengatakan, "Kata-kata Trump tidak bermanfaat. Ungkapan yang ia gunakan terhadap Korea Utara dimaksukan untuk mencari dukungan internasional terhadap Washington dan ini tidak benar. Presiden negara ini di ancamannya telah melampaui sebuah pernyataan biasa."
Upaya Trump untuk menarik simpati internasional terkait sikap Gedung Putih terhadap Pyongyang bukan saja gagal, bahkan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menolak untuk mendukung Amerika terkait serangan potensial kepada Korea Utara.
Sementara Korea Selatan, sebagai sekutu utama Amerika memperingatkan dampak dari ancaman verbal Trump terhadap Korea Utara. Perilaku seperti ini hanya dinilai sekedar upaya menutup pintu perundingan dengan Pyongyang.
Jeffrey Lewis, seorang pakar Amerika di bidang nonproliferasi nuklir menandaskan, "Dengan adanya ancaman Donald Trump, peluang perundingan untuk melucuti nuklir Korea Utara, mengingat kemajuan negara ini, sepenuhnya musnah. Realitanya adalah kita harus mengakui Korea Utara dengan rudal balistiknya."
Ini artinya garis merah yang digambarkan Trump bagi Korea Utara –penggapaian rudal balistik/antar benua- telah gagal. Ini merupakan kegagalan lain Gedung Putih. Korea Utara dengan melanjutkan peningkatan kemampuan defensifnya terhadap Amerika, bukan saja menolak mundur dari ancaman Washington, bahkan berencana memaksa Amerika untuk menerima program rudal dan nuklirnya. (MF)