Protes Cina atas Berlanjutnya Politik Agresif AS di Asia Timur
https://parstoday.ir/id/news/world-i42964-protes_cina_atas_berlanjutnya_politik_agresif_as_di_asia_timur
Cina memprotes langkah keliru Amerika Serikat soal Taiwan terkait patroli maritim Laut Cina Selatan dan penempatan sistem rudal THAAD di Korea Selatan, yang menurut Beijing memicu rasa saling tidak percaya antara kedua pihak.
(last modified 2026-05-10T18:00:53+00:00 )
Aug 18, 2017 13:54 Asia/Jakarta

Cina memprotes langkah keliru Amerika Serikat soal Taiwan terkait patroli maritim Laut Cina Selatan dan penempatan sistem rudal THAAD di Korea Selatan, yang menurut Beijing memicu rasa saling tidak percaya antara kedua pihak.

Fang Changlong, Wakil Komisi Pusat MIliter Cina dalam pertemuan dengan Joseph Dunford, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Amerika Serikat di Beijing, menegaskan bahwa Washington dapat membantu pengokohan perdamaian dan ketenangan di kawasan dengan merevisi politik dan berbagai programnya.

Terkait hubungan Cina dan Amerika Serikat, mengemuka berbagai pendapat. Sebagian kelompok politik dan media menilai Cina sebagai rival terpenting Amerika Serikat pada abad 21, yang menantang kekuatan hegemoni Amerika Serikat. Kelompok yang pro pendapat ini menekankan eskalasi tekanan Washington terhadap Beijing sebagai potensi ancaman.

Adapun kelompok lain berpendapat bahwa Cina meski merupakan rival serius Amerika Serikat, akan tetapi melalui partisipasi strategis, Cina dapat dicegah dan dapat dimasukkan dalam koridor politik Washington.

Sebelum era Barack Obama berakhir, perspektif terkait Cina di Gedung Putih saat itu adalah kerjasama strategis. Akan tetapi menyusul munculnya transformasi regional dan internasional termasuk krisis Suriah dan ketidakikutsertaan Cina dengan langkah Amerika Serikat dalam hal ini, membuat Washington menggelindingkan roda politik militerismenya di Asia Timur. Washington berniat memblokade Cina dan mengurungnya di dalam perbatasannya.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga menggunakan sejumlah masalah seperti isu Taiwan dan hak asasi manusia di Cina sebagai sarana untuk menekan Beijing. Akan tetapi Presiden AS Donald Trump sejak masa kampanyenya, sudah mengambil kebijakan agresif terhadap Cina yang berimbas pada gejolak di Asia Timur.

Kehadiran armada laut Amerika Serikat di perairan regional Cina dan intervensi Washington dalam urusan Laut Cina Selatan yang menjadi wilayah sengketa antara Cina dan negara-negara sekitar termasuk Filipina. Tidak hanya itu, Washington juga memperburuk friksi Semenanjung Korea demi mencegah terciptanya perdamaian dan ketenangan di Asia Timur.

Goldman, seorang analis ekonomi global di Amerika Serikat berpendapat bahwa Trump berusaha menyeret friksi dengan Cina menuju sektor perdagangan di mana ini akan sangat berbahaya. Dikatakannya, "Ancaman perang perdagangan antara Cina dan Amerika Serikat sedang meningkat dengan cepat dan hal ini harus disikapi secara serius."

Meski demikian, Cina dengan manajemen krisis yang cukup lihai, mampu membendung politik agresif Amerika Serikat di berbagai bidang keamanan, politik dan ekonomi. Dan masalah ini justru semakin membuat Washington geram.

Televisi CNN dalam menganalisa politik Trump menyebutkan, "Tanpa memperhatikan berbagai halangan potensial dan dengan berbangga diri, Trump menyebarkan berbagai politik ancaman termasuk yang anti-Cina, akan tetapi sekarang dia terbentur oleh kubu di dalam negeri sehingga seluruh politik barunya mendapat penentangan dan kritikan dari masyarakat, media dan berbagai instansi pemerintah."

Bagaimana pun juga, pemerintah Cina berpendapat bahwa satu-satunya solusi untuk krisis Asia Timur adalah non-intervensi Amerika Serikat dan diakhirinya politik militer-keamanan di kawasan ini.(MZ)