Tekad Presiden Korsel Perbaiki Hubungan dengan Korut
https://parstoday.ir/id/news/world-i43302-tekad_presiden_korsel_perbaiki_hubungan_dengan_korut
Presiden Korea Selatan menekankan pentingnya memperbaiki hubungan dengan Korea Utara dengan tujuan menyelesaikan masalah nuklir Pyongyang. Menurut penuturan Moon Jae-in, Presiden Korea Selatan, perbaikan hubungan dua Korea bakal mengurangi ketegangan di kawasan Semenanjung Korea.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Aug 24, 2017 11:37 Asia/Jakarta

Presiden Korea Selatan menekankan pentingnya memperbaiki hubungan dengan Korea Utara dengan tujuan menyelesaikan masalah nuklir Pyongyang. Menurut penuturan Moon Jae-in, Presiden Korea Selatan, perbaikan hubungan dua Korea bakal mengurangi ketegangan di kawasan Semenanjung Korea.

Moon Jae-in terpilih sebagai Presiden Korea Selatan dalam pemilu dini dengan slogan memperbaiki hubungan dengan Korea Utara dan mengurangi tensi di Semenanjung Korea. Sekalipun demikian, Moon Jae-in pada realitanya tidak memiliki kemampuan dan kekuatan yang diperlukan untuk melaksanakan keinginannya, terutama mempengaruhi kebijakan Amerika terkait masalah Korea Utara. Karena transformasi masalah nuklir dan rudal negara ini lebih dipengaruhi kebijakan dan program Washington.

Amerika berusaha memperluas instabilitas keamanan di kawasan dengan alasan menghadapi ancaman Korea Utara yang tujuan aslinya untuk mengontrol Cina.

Presiden Korsel mengetahui dengan baik bahwa bersamaan dengan digelarnya latihan perang terbesar antara negara ini dengan Amerika di laut dekat Korea Utara bakal mendapat protes keras Pyongyang, Cina dan Rusia. Artinya, Moon Jae-in tidak dapat berbicara soal perbaikan hubungan dengan Pyongyang dan pada saat yang sama memprovokasi Korut. Terlebih lagi ketika di balik bayang-bayang politik ancaman Amerika, krisis Semenanjung Korea telah menjadi masalah internasional dan semua negara di kawasan terlibat di dalamnya.

Mozafar Hassanvand, analis Asia Timur di Tabyin Center mengatakan:

"Krisis Semenanjung Korea di kawasan Asia Timur bagi pemain seperti Amerika, Cina, Rusia, Jepang dan Korea Selatan memiliki urgensi multifaset. Karena masalahnya sudah tidak terbatas pada konflik antara Washington dan Pyongyang. Pada tingkat analisa, masalah pertama sengketa strategis dan keamanan Washington dengan Beijing dan Moskow, sementara di tingkat selanjutnya kembali pada masalah keamanan Tokyo dan Seoul yang khawatir Pyongyang sebagai kekuatan nuklir."

Dengan demikian, sebagaimana Presiden Korea Selatan serius memperbaiki hubungan dengan tetangganya Korea Utara, Moon Jae-in tidak punya pilihan lain untuk lebih berani menghadapi kebijakan intervensif Amerika di kawasan. Setelah itu mengevaluasi aksi-aksi provokatif Seoul dengan tujuan memperbaiki hubungan dua Korea.

James Sherr, penasihat politik di lembaga pemikir Inggris Chatham House mengatakan:

"Memburuknya kondisi di Semenanjung Korea saat ini telah sampai pada level yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak berakhirnya perang antara Pyongyang dan Seoul pada 1953. Tapi sebelum memprediksi babak baru konflik senjata di kawasan, harus memahami bahwa selalu ada rantai peristiwa yang menciptakan ancaman riil. Rantai peristiwa ini termasuk langkah-langkah provokatif Amerika, pernyataan konyol dan upaya memberi tekanan."

Dengan demikian, langkah pertama untuk memperbaiki hubungan antara Seoul dan Pyongyang adalah membangun kepercayaan yang bertumpu pada penghentian latihan perang Korea Selatan dengan Amerika dan pada saat yang sama Korea Utara menghentikan program rudal dan nuklirnya.

Realisasi tujuan ini membutuhkan keputusan berani dan tegas dari dua pemimpin Korea demi menepis ancaman di Semenanjung Korea. Tapi penolakan Amerika akan perbaikan hubungan kedua Korea membuat upaya Seoul dan Pyongyang selalu menemui kegagalan sejak tahun 2000.