Tensi Panas AS dan Pakistan
Menyusul eskalasi tensi di hubungan Islamabad dan Washington, Menteri Luar Negeri Pakistan Khawaja Muhammad Asif menuntut pemutusan hubungan militer dengan Amerika Serikat.
Permintaan ini dirilis ketika Departemen Luar Negeri Amerika menghendaki penangguhan bantuan 255 juta dolar kepada Pakistan. Tensi di hubungan Washington dan Islamabad dimulai sekitar satu dekade lalu dan menyusul protes Amerika atas mekanisme kerja sama Pakistan dan Afghanistan.
Mantan Presiden AS, George W Bush pasca serangan 11 September, menekan presiden Pakistan saat itu, Pervez Musharraf untuk berkerja sama dengan Amerika menyerang Afghanistan atau bersanding dengan Taliban, rezim Afghanistan saat itu. Musharraf sendiri terpaksa memilih kerja sama dengan Amerika Serikat.
Namun mengingat Taliban dan partai agama memiliki pengaruh luas di Pakistan, Islamabad tidak mampu memenuhi harapan Amerika di kerja sama tersebut. Saat itu, Amerika terjebak di Afghanistan mengingat negara ini tidak memiliki pemahaman tentang geografi dan budaya nasional Afghanistan. Bush untuk menjustifikasi kekalahan Amerika berani menuding Pakistan sebagai faktor kegagalan militer Washington di Afghanistan. Dengan demikian AS mulai melancarkan serangan udara ke wilayah adat Pakistan demi menekan negara ini.
Sementara itu, Bush menyatakan Pakistan sebagai sekutu non NATO Amerika demi mendorong Islamabad bersedia bekerja sama lebih besar lagi dengan Washington. Di era pemerintahan Barack Obama, represi Amerika terhadap Pakistan semakin keras dan Washington berusaha memanfaatkan paket bantuan finansial dan militer untuk menekan Islamabad.
Reza Parsa analis politik mengatakan, "Amerika dengan pandangan hati-hati mengamati kondisi Pakistan dan menilainya sangat komplek karena terdiri dari radikalis, terorisme, skandal militer, sektarianisme dan potensi kubu radikal menggapai senjata pemusnah massal. Sementara Pakistan juga meyakini jika pesanan dari Washington bagi negara ini semakin rumit dan dijalankan secara detail, maka Islamabad akan menghadapi krisis yang semakin dalam."
Realitanya adalah Pakistan memandang Afghanistan sebagai halaman belakangnya dan daerah strategisnya. Pakistan tidak bersedia melepaskan Afghanistan, bahkan jika harus membayar mahal seperti memutus hubungan dengan Amerika. Dengan memanfaatkan berbagai sarana seperti milisi bersenjata, Pakistan dapat mempengaruhi kondisi politik dan keamanan Afghanistan. Dalam hal ini, pemilihan India sebagai sekutu strategis Amerika di kawasan, membuat Islamabad semakin marah.
Faisal Karimi, dosen Universitas Herat mengatakan, "Dengan sikap keras Presiden Amerika, Donald Trump terhadap Pakistan, negara ini sedikit banyak mengalami keterkucilan politik dan posisinya di kawasan goyang. Oleh karena itu, Pakistan berusaha mengarah ke Rusia terkait perdamaian dengan Taliban demi keluar dari keterkucilan. Hal ini malah semakin meningkatkan sensitifitas Amerika."
Bagaimanapun juga, meski ada friksi mendalam antara Islamabad dan Washington terkait Kabul dan posisi New Delhi, mengingat kebutuhan Amerika bekerja sama dan dukungan Pakistan terhadap militer Amerika di Afghanistan, tensi terbaru antara kedua negara cenderung upaya mereka mamanfaatkan kondisi terhadap oposisi mereka dan menyimpangkan opini publik Pakistan dari isu-isu yang ada khususnya terkait keluarga Nawaz Sharif, mantan perdana menteri Pakistan ketimbang membidik kerja sama militer kedua pihak. (MF)