Misi Anti-JCPOA Nikki Haley
https://parstoday.ir/id/news/world-i43845-misi_anti_jcpoa_nikki_haley
Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Nikki Haley, kembali berusaha menilai kesepakatan nuklir Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) sebagai kesepakatan yang lemah dan pincang, dalam rangka memuluskan upaya politisasi kesepakatan tersebut.
(last modified 2026-06-06T16:42:11+00:00 )
Sep 06, 2017 15:51 Asia/Jakarta

Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Nikki Haley, kembali berusaha menilai kesepakatan nuklir Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) sebagai kesepakatan yang lemah dan pincang, dalam rangka memuluskan upaya politisasi kesepakatan tersebut.

Nikki Haley pada Selasa (5/9/2017) di American Enterprise Institute, dalam sebuah sikap yang bertentangan dengan fakta serta berlawanan dengan perspektif dunia dan juga laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), mengatakan bahwa JCPOA adalah kesepakatan cacat dan terbatas, dan Republik Islam Iran telah berulangkali melanggarnya."

Bersamaan dengan pernyataan itu, Gerard Araud, Duta Besar Perancis untuk Washington dalam cuitannya di Twitter menulis, "Kesepakatan dengan Iran, sepenuhnya hanya terkait masalah nuklir, dan bukan hal lain. Hingga kini Iran telah komitmen dengan kewajibannya sesuai kesepakatan."

Sikap Duta Besar Perancis untuk Washington ini menunjukkan bahwa dunia menentang langkah-langkah anti-JCPOA oleh pemerintahan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat. Selain Perancis, Inggris beberapa waktu lalu juga menyatakan akan tetap komitmen pada JCPOA dan berupaya untuk mendesak pihak lain agar komitmen dengan kesepakatan nuklir tersebut.

Adapun Yukia Amano, Direktur Jenderal IAEA, Kamis pekan lalu dalam laporan kedelapannya pasca JCPOA, kembali menekankan komitmen Republik Islam sesuai kesepakatan. Laporan itu dirilis beberapa hari setelah pertemuan Haley dengan Amano.

Perwakilan Trump di PBB ini telah banyak berupaya menekan Dirjen IAEA agar memperluas jangkauan inspeksi di Iran melebihi poin-poin yang disebutkan dalam JCPOA. Namun dalam laporan kedelapannya, Amano menegaskan kembali bahwa penetapan jangkauan inspeksi bukan di tangan Amerika Serikat. JCPOA merupakan pondasi langkah interaktif dan inspeksi IAEA di Iran. Meski demikian, laporan tersebut tidak menghentikan rezim berkuasa AS untuk menentang dan melanggar kesepakatan JCPOA.

Dalam politik anti-JCPOA, pemerintahan Trump mengacu dua tujuan. Pertama, dengan tidak mempedulikan komitmennya terhadap JCPOA, Washington sedang menggiring Tehran agar melanggar kesepakatan tersebut. Dengan demikian, Iran yang akan menebus biaya keluarnya Amerika Serikat dari kesepakatan. Kedua, Trump dengan dikte-diktenya berupaya mengesankan Tehran sebagai pelanggar kesepakatan, tidak bertanggungjawab dan pengacau keamanan.

Dalam hal ini, Barbara Slavin, analis Atlantic Council, dalam wawancaranya dengan IRNA, mereaksi sikap anti-JCPOA Haley dan mengatakan, "Tujuan Amerika Serikat sangat jelas sekali yaitu memaksa Iran mengambil langkah-langkah yang melanggar JCPOA, dan kemudian menyatakan kepada dunia bahwa Iran yang telah melanggar JCPOA dan bukan Amerika Serikat."

Lebih lanjut dijelaskannya, misi Haley adalah menggiring Trump untuk keluar dari JCPOA dan tujuan pidatonya di American Enterprise Institute adalah mempersiapkan justifikasi penolakan Trump untuk mengakui komitmen Iran terhadap JCPOA.(MZ)