Strategi Perang AS Berubah Jadi Bisnis di Afghanistan
Asisten Menteri Luar Negeri Amerika Serikat untuk urusan Afghanistan dan Pakistan mengatakan, Washington sedang berupaya membuka peluang dilakukannya perundingan antara Taliban dengan pemerintah Afghanistan.
Alice Wells, Asisten Menlu Amerika untuk urusan Afghanistan dan Pakistan menyatakan bahwa krisis Afghanistan tidak punya solusi militer. Menurutnya, Amerika membuka sebuah kondisi yang memaksa Taliban berunding dengan pemerintah Afghanistan demi mewujudkan perdamaian dan menghentikan perang.
Amerika berbicara soal perundingan damai Taliban dan pemerintah Afghanistan, padahal pada tahun 2001 negara adidaya dunia itu menginvasi dan menduduki Afghanistan dengan dalih menumpas terorisme dan Taliban. 16 tahun lalu, Amerika dan NATO sebagai tangan Amerika di Afghanistan, bukan saja tidak menumpas Taliban, bahkan bersama Inggris menandatangani kontrak jual-beli keamanan dengan Taliban di Musa Qala, Afghanistan. Sebagai imbalannya, Taliban tidak pernah sekalipun menyerang pasukan Inggris.
Setelah itu, Amerika melangkah lebih jauh dengan membuka kantor politik bagi Taliban di Qatar. Penentangan Hamid Karzai, Presiden Afghanistan kala itu atas pengibaran bendera Taliban di gedung kantor politiknya di Qatar dan pelanggaran kedaulatan serta independensi Afghanistan, menyebabkan kantor politik Taliban di Doha itu akhirnya ditutup.
Baru-baru ini, pemerintah Amerika mengumumkan akan mendukung perundingan damai Taliban dengan Afghanistan, sehingga sekarang Taliban bukan lagi target pasukan Amerika di Afghanistan, dan negara itu berusaha agar Taliban berubah menjadi sebuah organisasi politik resmi di Afghanistan.
Surat kabar Afghanistan, Khaama menulis, tidak diragukan, Amerika Serikat sedang berupaya memberikan bagian kekuasaan di Afghanistan kepada Taliban. Pasalnya, Amerika menanamkan investasi besar di Afghanistan, oleh karena itu mereka ingin agar Taliban berada di dalam pemerintahan dan ikut bersaing memperebutkan kekuasaan dengan kelompok-kelompok lain, sebagai sebuah faksi politik di negara itu.
Proses jual-beli keamanan di Afghanistan penting bagi Amerika, karena negara ini sudah mengubah strateginya di Afghanistan dari perang melawan terorisme dan pemberontak bersenjata, menjadi bisnis. Pandangan keamanan Amerika atas Afghanistan sekarang adalah mengubah negara itu menjadi pangkalan militer terbesarnya di kawasan. Sementara dari sisi bisnis, Afghanistan dijadikan Amerika sebagai pusat eksplorasi sumber alam dan sumber bawah tanah yang masih perawan yang nilainya ditaksir mencapai tiga trilyun dolar.
Untuk mencapai kedua target tersebut, Amerika membutuhkan jaminan keamanan bagi pasukannya yang ada di Afghanistan. Sementara itu, Michael Silver, Direktur American Elements, salah satu perusahaan internasional Amerika yang memproduksi material bertekhnologi canggih, dengan katalog material paling lengkap di dunia, pernah diwawancarai Wall Street Journal soal Afghanistan.
Dalam wawancara itu Silver mengatakan, saya dalam pertemuan dengan Presiden Donald Trump menegaskan bahwa Amerika jangan sampai kalah bersaing dengan negara-negara lain dalam mengeksplorasi sumber-sumber alam yang lebih besar di Afghanistan.
Dengan demikian, statemen Asisten Menlu Amerika untuk urusan Afghanisan dan Pakistan terkait upaya Washington mendorong Taliban berunding dengan pemerintah Afghanistan, pada kenyataannya adalah pesan untuk kelompok itu, bahwa kebijakan Washington bukan memerangi Taliban, tapi mencapai kesepakatan tidak resmi dengan kelompok itu serta memahami kondisi masing-masing dalam kerangka kepentingannya di Afghanistan. (HS)