Soal Rohingya, Sekarang India Minta Myanmar Menahan Diri
-
Aung San Suu Kyi dan Narendra Modi
India, setelah dua pekan pembunuhan massal terhadap Muslimin Rohingya di Myanmar berlangsung, baru meminta pemerintah negara itu untuk menahan diri dalam menyelesaikan situasi di negara bagian Rakhine.
Assicoated Press (10/9) melaporkan, Kementerian Luar Negeri India, Ahad (10/9) meminta agar kekerasan di negara bagian Rakhine, barat Myanmar diakhiri dan kondisi di wilayah itu dipulihkan.
Reaksi terlambat India terkait genosida yang terjadi di Myanmar ini muncul setelah pekan lalu, di puncak aksi pembunuhan dan pengungsian paksa ribuan Muslim Rohingya, Narendra Modi, Perdana Menteri India berkunjung ke Myanmar.
Di Yangon, Modi bertemu dengan Aung San Suu Kyi, Pemimpin de facto Myanmar dan menekankan kerja sama dua negara dalam perang melawan para ekstremis dan teroris.
PM India dalam pertemuan itu sama sekali tidak menyinggung genosida dan pembersihan etnis yang terjadi atas etnis Muslim Rohingya.
Putaran kekerasan terbaru militer Myanmar sudah berlangsung 16 hari dan terus berlanjut serta menewaskan lebih dari 400 orang dan memaksa 300 ribu lainnya mengungsi ke Bangladesh.
Para pengungsi yang berada di perbatasan Bangladesh hidup dalam kondisi sangat buruk, bergelut dengan kelangkaan air minum, makanan dan tertutupnya akses kesehatan.
New Delhi menuntut dihentikannya kekerasan di Myanmar, namun pada saat yang sama negara itu menolak menampung pengungsi Muslim Rohingya dan mengusir 40 ribu pengungsi Rohingya dari negaranya.
Partai berkuasa India, Bharatiya Janata Party, BJP yang dikenal anti-Islam, ketika berkuasa di negara itu menerapkan diskriminasi terhadap warga Muslim.
Pembunuhan Muslimin Kashmir wilayah kontrol India oleh militer negara itu, bahkan dalam demonstrasi memprotes genosida Muslim Rohingya beberapa hari lalu, adalah salah satu kebijakan pemerintah New Delhi saat ini. (HS)