Cina dan Kebijakan Perdagangan AS
-
Pertemuan Kelompok 6+1 di Beijing
Perdana Menteri Cina, Li Keqiang menyeru dunia mendukung globalisasi ekonomi. Seruan ini dimaksudkan untuk mempersulit kebijakan perdagangan- protektionisme sepihak Amerika.
Li Keqiang di sidang kelompok 6+1 yang digelar hari Kamis (14/9) dengan dihadiri para direktur perusahaan besar ekonomi dunia di Beijing, mengingatkan bahwa peraturan perdagangan multilateral dunia untuk memajukan proses globalisasi harus didukung oleh seluruh negara, sehingga dengan dukungan tersebut mampu merealisasikan laju perekonomian dunia.
Sidang kelompok 6+1 dimulai sejak hari Rabu (13/9) dan berlangsung selama dua hari.
Selama perundingan ini, ketua Dana Moneter Internasional (IMF), ketua Bank Dunia, sekjen Organisasi Perdagangan Dunia, sekjen Organisasi Buruh Internasional (ILO), dirjen Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dan ketua dewan organisasi stabilisasi keuangan menyampaikan pidato.
Di pertemuan ini, Li Keqiang sebagai tuan rumah dalam pidatonya mengatakan, Amerika Serikat berusaha menjalin perjanjian bilateral dengan berbagai negara dan tidak ingin mengejas perjanjian perdagangan dan ekonomi multilateral. Ia memperingatkan ekonomi dunia masih sangat rentan dan berbagai negara harus mengejar kemajuan ekonomi bersama, menciptakan lapangan pekerjaan, memulihkan kondisi buruh dan tenaga kerja serta mengembangkan sistem asuransi sosial.
Mengingat fokus khusus Cina terhadap isu ekonomi dan upaya total negara ini untuk meraih posisi puncak ekonomi dunia, Amerika Serikat semakin memandang posisi ekonominya terancam. Bahkan Presiden AS Donald Trump berulang kali mengungkapkan ketidakpuasannya atas kondisi ekonomi Amerika dan kebijakan perdagangan Cina.
Oleh karena itu, tidak ada keraguan bahwa pertemuan seperti ini yang digelar oleh Cina dan upaya mengubah sistem ekonomi yang ada oleh Amerika akan menuai reaksi.
Mike Patton, pengamat Forbes di artikelnya menyatakan mengingat perubahan ekonomi global, Cina hingga tahun 2018 akan mengambil alih posisi Amerika Serikat. Dengan kata lain, dalam waktu singkat ekonomi Cina akan lebih penting dari ekonomi Amerika Serikat. Di sisi lain, Amerika juga dengan berbagai metode berencana ingin menunda proses ini.
Melalui perdagangan bebas dengan negara-negara lain, Amerika berusaha mempertahankan posisi puncak ekonomi dunia. Padahal berdasarkan data yang ada, volume produk domestik bruto (PDB) Cina setiap tahun memiliki laju yang stabil. Hal ini menunjukkan bahwa Beijing dalam waktu dekat akan mampu merebut posisi Amerika Serikat.
Mengingat bahwa peningkatan kerja sama dan hubungan ekonomi merupakan salah satu karakteristik globalisasi, Cina berusaha memikat berbagai negara untuk berpartisipasi lebih di bidang ekonomi dengan mengganti kebijakan perdagangan satu arah yang didukung AS dengan kebijakan perdagangan multi. Dengan demikian sistem ekonomi yang didukung Amerika akan rusak.
Ide One Belt-One Road oleh Cina merupakan salah satu gagasan ekonomi dan ditujukan untuk mendorong berbagai negara berpartisipasi di ekonomi bersama. Tapi pastinya hal ini tidak akan dibiarkan oleh Amerika Serikat dan dalam hal ini dibutuhkan solusi serius. (MF)