Penempatan Polisi Turki di Idlib Suriah
https://parstoday.ir/id/news/world-i45205-penempatan_polisi_turki_di_idlib_suriah
Kantor Berita Interfax mengkonfirmasikan penempatan polisi Turki di Provinsi Idlib Suriah.
(last modified 2026-06-20T17:21:50+00:00 )
Okt 01, 2017 16:14 Asia/Jakarta

Kantor Berita Interfax mengkonfirmasikan penempatan polisi Turki di Provinsi Idlib Suriah.

Sebuah sumber terpercaya saat diwawancarai Interfax seraya menyatakan bahwa polisi Turki memulai proses penempatan personilnya di Provinsi Idlib menambahkan, saat ini pasukan tersebut belum resmi ditempatkan di provinsi ini, namun aparat kepolisian Turki tengah memulai penempatan pasukannya di Idlib yang termasuk zona penurunan tensi.

Penempatan pasukan polisi Turki di Idlib termasuk kesepakatan bulan Mei lalu, di mana berdasarkan kesepakatan ini bukan saja disetujui pembentukan tiga zona penurunan tensi di kawasan ini, bahkan disepakati pula pasukan Iran, Rusia dan Turki mengawasi tiga zona penurunan tensi di Provinis Idlib. Sementara polisi Rusia bertanggung jawab mengawai wilayah lain.

Namun dalih kehadiran Turki di Idlib baik itu sebelum tercapainya kesepakatan di sidang Astana keenam atau setelahnya, adalah letak Idlib yang berbatasan dengan Turki memiliki nilai strategis yang lebih, seperti adanya jalur strategis Damaskus ke Aleppo dan dari Aleppo ke Lattakia.

Oleh karena itu, Provinsi Idlib sejak awal krisis menjadi target pihak-pihak yang bertikai. Dengan demikian Turki sejak awal senantiasa hadir di provinsi ini untuk mengontrol dan membantu milisi yang mereka dukung. Bahkan terkadang militer Turki sampai menembus wilayah perbatasan seperti kota Harem.

Dengan demikian sebelum kesepakatan Astana, salah satu tujuan jangka pendek Turki menempatkan pasukannya di Provinsi Idlib adalah menjaga posisinya di medan di wilayah ini khususnya eskalasi pertempuran antara pasukan pemerintah Suriah dan milisi bersenjata memicu gelombang pengungsian ke Turki.

Oleh karena itu, kontrol Provinsi Idlib sebagai wilayah yang berbatasan dengan Turki akan mencegah munculnya krisis di Ankara dan juga membendung arus pengungsian dari Suriah ke Turki. Pembentukan titik penghubung untuk mengirim peralatan logistik militer bagi kubu oposisi Suriah juga merupakan tujuan rahasia Turki demi menguasai Idlib.

Namun sepertinya tujuan terpenting Ankara mengontrol Idlib adalah mencegah pengaruh Kurdi dalam bentuk Pasukan Demokratik Suriah (SDF), pasukan yang didukung oleh Amerika Serikat. Khususnya Ankara menilai kian kuatnya Kurdi Suriah akan menjadi ancaman serius bagi keamanan nasional Turki. Dengan demikian sepertinya kesepakatan dialog Astana keenam yang menekankan penempatan pasukan Iran, Rusia dan Turki di Idlib muncul akibat kekhawatiran Damaskus yang masih tatap tidak percaya akan keberadaan militer Turki di wilayahnya.

Sementara itu, faktor yang mendorong ketidakpercayaan tersebut dapat ditelusuri dari penentangan Damaskus atas segala bentuk intervensi militer Turki di Suriah. Hal ini karena Suriah menilai keberadaan militer Turki di wilayahnya bertentangan dengan prinsip mendasar perang kontra terorisme. Lebih dari itu, mengingat masa lalu perilaku Ankara terkait transformasi Suriah, pemerintah Damaskus menilai kehadiran pasukan Turki di wilayahnya sebagai bentuk dukungan tersembunyi kepada kelompok teroris dan milisi bersenjata anti pemerintah.

Namun sepertinya hasil dari dialog Astana, Rusia berhasil mendapatkan jaminan yang diperlukan dari Turki untuk melawan secara serius terorisme dan tidak mendukung kubu anti Suriah. Di sisi lain, baik Moskow maupun Damaskus sampai saat ini masih memiliki keraguan akan perilaku Ankara terkait konstelasi Suriah. Meski ada harapan bahwa Turki komitmen terhadap isi kesepakatan di akhir dialog Astana terkait jaminan gencatan senjata, kedaulatan Suriah dan dilanjutkannya perang melawan terorisme.

Dalam konteks ini, kekhawatiran Damaskus akan kehadiran jangka panjang Turki di wilayahnya akan berkurang, khususnya Turki, Iran dan Rusia menekankan pembentukan zona penurunan tensi tidak akan merusak kedaulatan, independensi, persatuan dan integritas wilayah Suriah.

Meski demikian pemerintah Damaskus masih memiliki keraguan akan penempatan polisi dan militer Turki di wilayahnya, karena sejumlah orang dekat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan masih memiliki keyakinan bahwa Ankara harus melanjutkan dukungannya kepada kelompok teroris dan lagi, ambisi Erdogan untuk memainkan peran di konstelasi regional bukan rahasia. Kecuali jika kini Erdogan memanfaatkan perannya tersebut dalam koridor kepatuhan terhadap kesepakatan dialog Astana keenam dan tidak mendukung kelompok teroris serta kubu anti Damaskus. (MF)