Terorisme Dalam atau Luar Negeri, Lebih Berbahaya Bagi AS ?
Presiden Amerika Serikat mengklaim bahwa negaranya berhasil meraih kemenangan dalam perang melawan terorisme, khususnya kelompok teroris Daesh.
Donald Trump, Presiden Amerika dalam pertamuan dengan jajaran petinggi militer negara itu mengatakan, kita berhasil membersihkan dunia kita dari terorisme dan para teroris Daesh, secara optimal.
Dengan sekilas memperhatikan rangkaian kekalahan beruntun kelompok teroris Daesh dalam waktu hampir satu tahun terakhir, jelas bahwa kelompok teroris ini, minimal di Irak dan Suriah, sedang berada di ambang kehancuran. Kekalahan terbesar Daesh diterima dari aliansi strategis Iran, Rusia, Suriah dan Irak yang berujung bebasnya beberapa kota penting seperti Mosul dan Aleppo.
Akan tetapi perubahan strategi beberapa pendukung terdahulu Daesh, dalam kelanjutan dukungannya, turut memberikan pengaruh pada tercapainya kemenangan tersebut. Sebagai contoh, perubahan sikap Turki dan Qatar membuat Daesh kehilangan dukungan politik dan dana secara signifikan, sehingga membuka lebar kekalahan total kelompok teroris itu.
Namun demikian, posisi Daesh sekarang yang berada di ambang kehancuran, tidak serta merta berarti bahwa keamanan Amerika semakin kuat. Di sisi lain, bukti-bukti yang ada menunjukkan, seiring dengan semakin pulihnya keamanan di Irak dan Suriah, pertumbuhan kelompok teroris Daesh di negara lain semacam Afghanistan, justru semakin pesat.
Pada saat yang sama, masyarakat Amerika dalam tiga dekade terakhir, semakin terancam bahaya kekerasan dari kelompok-kelompok radikal sayap kanan dan terorisme dalam negeri.
New America Foundation, salah satu kelompok think tank non-partisan Amerika dalam laporannya mengatakan, antara tahun 2001-2015, jumlah warga Amerika yang tewas di tangan kelompok-kelompok ekstrem kanan kulit putih, lebih besar dibanding yang tewas akibat serangan orang-orang yang mengaku Islam.
Contoh terbaru serangan ekstremis rasis kulit putih adalah pembunuhan massal di kota Las Vegas yang menewaskan 59 orang. Akan tetapi pemerintah Amerika seolah enggan menyebut Stephen Paddock, pelaku tragedi berdarah Las Vegas, sebagai teroris dalam negeri atau luar negeri.
Meski bagi puluhan korban tewas serangan teror dan ratusan keluarga mereka, penyebutan teroris atas pelaku tidak terlalu berpengaruh. Tapi poin penting yang harus diperhatikan adalah, keamanan di beberapa wilayah Amerika harus diakui lebih buruk ketimbang lokasi-lokasi perang di benua lain.
Dengan kata lain, meski dana ratusan milyar dolar sudah dikeluarkan dan bertahun-tahun perang melawan terorisme internasional dilakukan Amerika dengan dalih agar peristiwa semacam teror 11 September, tidak terulang kembali, tapi dalam 16 tahun terakhir, warga Amerika yang tewas akibat aksi-aksi teror dalam negeri jauh lebih besar dibanding korban insiden 11 September.
Masalah ini juga membantah klaim politisi Amerika terkait keberhasilan negara itu menangkal bahaya keamanan bagi warganya di dalam negeri. (HS)