Cina Minta AS dan Korut Akhiri Saling Ancam
https://parstoday.ir/id/news/world-i45873-cina_minta_as_dan_korut_akhiri_saling_ancam
Di saat krisis dan ancaman terus membayangi Semenanjung Korea, Departemen Luar Negeri Cina meminta AS dan Korea Utara mengakhiri aksi saling ancam dan tidak membuat kondisi di kawasan Semenanjung Korea semakin kritis.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Okt 13, 2017 17:48 Asia/Jakarta
  • AS - Korea Utara
    AS - Korea Utara

Di saat krisis dan ancaman terus membayangi Semenanjung Korea, Departemen Luar Negeri Cina meminta AS dan Korea Utara mengakhiri aksi saling ancam dan tidak membuat kondisi di kawasan Semenanjung Korea semakin kritis.

Deplu Cina Jumat (13/10) seraya merilis statemen mengisyaratkan penerbangan pesawat pembom AS dan jet tempur Korea Utara di Semenanjung Korea. Deplu Cina menyatakan, kedua pihak harus menjauhi aksi-aksi provokatif, karena bentrokan di Semenanjung Korea akan menimbulkan kerugian besar bagi semua pihak dan perang tidak menguntungkan pihak manapun serta semua pihak harus menahan diri.

Sebelumnya pemerintah Cina meminta Korut menghentikan uji coba rudalnya hingga tercapai sebuah kesepahaman politik. Meski Cina termasuk sekutu Korea Utara, namun Beijing tidak berharap meletusnya perang di kawasan karena eskalasi krisis hanya menguntungkan Amerika dan merugikan negara-negara kawasan khususnya Cina.

Korea Utara memiliki rudal dan senjata nuklir. Dan jika perang meletus, dampaknya sepenuhnya tidak akan jelas. Selain itu, Cina mengejar laju ekonominya di bawah kondisi damai dan keamanan di kawasan Asia timur. Sementara itu, kondisi ini sepenuhnya membuat Amerika khawatir dan negara ini dengan cara apapun berusaha memaksa Cina terlibat di persaingan militer di kawasan.

Rostislav Ishchenko, pengamat politik Rusia mengatakan, “Selama beberapa pekan terakhir, tensi serius antara AS dan Korea Utara terkait uji coba rudal Pyongyang semakin intens dan Washington berulang kali mengancam negara ini dengan serangan militer. AS menilai Korea Utara sebagai musuh optimal dan negara ini juga memiliki senjata nuklir.”

Oleh karena itu, Cina yang mendapat tekanan Amerika untuk mengontrol perilaku Korea Utara, berusaha mencegah semakin parahnya krisis dengan mengajak Washington dan Pyongyang menahan diri. Tapi dikhawatirkan kontrol hal ini juga akan keluar dari tangan Beijing.

Pemerintah Cina tidak menganggap penyelesaian krisis Semenanjung Korea hanya sepihak dan di sisi Korea Utara saja, tapi meyakini AS dan Korea Utara selain harus menahan diri juga harus menerapkan program bersama guna mengakhiri krisis. Hal ini karena menurut perspektif Pyongyang, perilaku AS seperti menggelar manuver perang bersama Korea Selatan dan Jepang serta penempatan sistem rudalnya di Korea Selatan sebagai ancaman bagi keamanan nasional Korea Utara.

Adam Mount, pengamat Amerika mengatakan, “Kebijakan Presiden AS Donald Trump layak untuk dikritik. Pemerintahannya mengalami perbedaan pendapat dalam menyikapi Korea Utara dan sampai kini masih mencari solusi, padahal solusinya tidak ada.”

Kondisi ini mendorong kondisi Semenanjung Korea tidak menentu. Eliot Engel, anggota komisi luar negeri DPR Amerika dari kubu Demokrat seraya mengkritik garis merah tipis Donald Trump terkait ancaman beruntun Pyongyang mengatakan, keamanan AS bukan sekedar bertumpu pada kekuatan militer, tapi juga kredebilitas panglima tertinggi angkatan bersenjata di kasus ini sangat penting dan Trump mempertimbangkan diri saat berbicara terkait transformasi Semenanjung Korea. (MF)