Reaksi Korut atas Ancaman Terbaru Trump
Korea Utara mereaksi ancaman terbaru Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan menyebut statemen Trump dalam lawatan regionalnya sebagai pemicu perang nuklir.
Surat kabar Korea Utara, Rodong Sinmun yang kerap mewakili pandangan pemerintah negara itu, menganggap lawatan periodik Donald Trump ke kawasan Asia Timur sebagai sikap "meminta-minta" tanpa hasil yang hanya akan berujung dengan meningkatnya eskalasi ketegangan dan pecahnya perang nuklir.
Presiden Amerika dalam kunjungannya ke Jepang dan Korea Selatan, menyebut pemerintah Korea Utara sebagai sebuah pemerintahan diktator. Menurut Trump, kesabaran Amerika dalam menghadapi Korea Utara sekarang sudah habis.
Pernyataan Trump yang disampaikan sebelum bertolak ke Cina itu patut diperhatikan, pasalnya, tujuan terpenting lawatan Presiden Amerika ke Asia Timur adalah untuk meningkatkan ketegangan politik dan militer anti-Korea Utara dan Cina. Penekanan Trump soal habisnya "kesabaran strategis" Amerika dalam menghadapi Korea Utara dapat dibaca sebagai bentuk peringatan untuk Cina.
Amerika berharap Cina bisa menekan Korea Utara agar menghentikan program nuklir dan rudalnya. Sementara Beijing menganggap krisis Korea Utara sebagai masalah Washington dan Pyongyang, dan Cina berulang kali menegaskan, pihaknya tidak bisa melakukan apapun dalam masalah ini dan Amerika harus berunding dengan Korea Utara.
Artinya, dalam pandangan Cina, satu-satunya jalan keluar krisis Semenanjung Korea adalah dialog, dan intervensi regional Trump untuk menekan Pyongyang serta latihan-latihan militer kontinu dengan Korea Selatan atau Jepang, tidak akan membantu penyelesaian krisis, justru semakin meningkatkan ancaman.
Alexey Maslov, pakar Asia Timur di Akademi Sains Moskow menuturkan, manuver militer dan ancaman petinggi Amerika di Asia Timur dilakukan di saat kawasan ini berada dalam situasi sangat buruk dan mungkin saja kendali krisis lepas dari kontrol Cina dan Amerika. Oleh karena itu Rusia dan Cina harus bersiap menghadapi situasi seperti ini.
Tidak diragukan tekanan Amerika atas Korea Utara secara tidak langsung sebenarnya ditujukan untuk Cina sendiri.
Amerika selalu menganggap berlanjutnya pertumbuhan ekonomi dan peningkatan posisi global Cina sebagai ancaman serius bagi kekuatan hegemoninya. Oleh karena itu, Amerika terus menekan Cina dengan berbagai cara, termasuk menyibukkan negara itu dengan masalah-masalah regional sehingga tidak saja menjerumuskan Cina dalam persaingan senjata, tapi juga mencegahnya berkonsentrasi penuh pada urusan ekonomi dan upayanya membuka pasar-pasar internasional yang lebih luas.
John Ikenberry, salah seorang pakar hubungan internasional Amerika mengatakan, semakin dimunculkannya peran Cina dalam krisis nuklir Korea Utara oleh Amerika, membahayakan kepentingan ekonomi dan keamanan Washington sendiri terutama di Tokyo, Seoul dan Beijing. Perimbangan kekuatan ekonomi terus mengalami perubahan dengan cepat dan Amerika cemas, Cina akan mengalahkannya sebagai kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Saat ini, banyak pengamat politik kawasan menanti hasil pertemuan Trump dengan petinggi Cina di Beijing, dan mereka percaya pertemuan tersebut dapat membawa pengaruh positif dan determinan dalam transformasi di Semenanjung Korea. Namun dengan syarat para pemain penting kawasan punya tekad kuat untuk menyelesaikan krisis.
Hingga kini, Cina menganggap Amerika tidak pernah menunjukkan tekad serius untuk menyelesaikan krisis Korea Utara, sebaliknya setiap pemain atas dasar kepentingannya, selalu menjadikan krisis nuklir Korea Utara sebagai sebuah peluang untuk meraih ambisi pribadinya. (HS)