Manuver Gabungan Militer Saudi-Pakistan
Latihan militer bersama antara Arab Saudi dan Pakistan dengan sandi "Shehab-2" digelar di pinggiran kota Riyadh. Manuver tersebut menunjukkan upaya kedua negara untuk memperkuat hubungan bilateral di sektor militer.
Dalam pernyataan Humas Militer Pakistan disebutkan bahwa perluasan kerjasama militer Islamabad-Riyadh dan penumpasan terorisme adalah tujuan digelarnya manuver militer bersama yang akan berlangsung hingga 10 Desember 2017 itu.
Manuver militer gabungan bersandi Shehab-1 telah digelar di Pakistan tahun lalu. Pakistan sebagai negara Muslim yang merdeka pada tahun 1947 selalu menjadi perhatian Arab Saudi terutama perhatian kepada perkembangan Wahabi di negara tersebut. Riyadh juga selalu berusaha untuk memperluas hubungannya dengan Islamabad demi menggapai kepentingan-kepentingannya.
Hubungan militer Pakistan dan Arab Saudi memasuki tahap baru menyusul penandantangan kontrak militer pada awal dekade 80-an. Islamabad sepakat bahwa jika Riyadh meminta pengiriman pasukan ke Arab Saudi dengan alasan untuk melindungi keluarga Al Saud, maka Pakistan harus menyanggupinya.
Ketika agresi militer rezim Baath Saddam ke Kuwait, Pakistan telah mengirim sekitar 10,000 pasukan ke Arab Saudi dalam tiga tahap untuk melindungi keluarga Al Saud. Selain itu, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Pakistan mendukung kelompok Taliban di Afghanistan. Dukungan tersebut tidak hanya menimbulkan ketidakamana di Afghanistan, namun juga di seluruh kawasan.
Arab Saudi berusaha menggunakan pasukan Pakistan sebagai "lengan" militernya di kawasan dan untuk melindungi kepentingannya. Upaya itu dilakukan dengan memberikan minyak gratis dan apa yang disebut sebagai bantuan finansial kepada pemerintah Islamabad.
Sebenarnya, masuknya Pakistan ke dalam konflik Arab dan kawasan melalui bantuan Arab Saudi berdampak negatif terhadap citra Islamabad di hadapan suku-suku lokal dan negara-negara Arab dan regional.
Shirin Mazari, seorang pakar politik mengatakan, mengingat adanya konflik kesukuan dan agama di Pakistan, maka keterlibatan Islamabad dalam perseturan negara-negara Arab terutama agresi militer ke Yaman –yang kebanyakan berlatar belakang kesukuan dan agama– akan berdampak sangat negatif terhadap Pakistan. Dalam hal ini, tampaknya Pakistan harus mempertahankan kebijakan netralnya.
Serangan brutal Arab Saudi ke Yaman dan kegagalan para pejabat Riyadh untuk membentuk koalisi anti-Yaman telah mendorong rezim Al Saud untuk memanfaatkan kemampuan militer Pakistan. Namun karena kejahatan mengerikan Arab Saudi di Yaman dan pembunuhan terhadap anak-anak dan perempuan di negara ini, rakyat Pakistan menentang keras partisipasi pemerintah dan militer negara mereka dalam perang di Yaman. Oleh sebab itu, pemerintah Pakistan harus berhati-hati dalam menjalin kerjasama dengan Arab Saudi dalam perang Yaman.
Haidar Alavi, ulama terkemuka Ahlussunnah di Pakistan mengatakan, rakyat Pakistan mengecam keras agresi militer Arab Saudi ke Yaman dan pembunuhan terhadap rakyat tak berdosa negara ini. Rakyat Pakistan, lanjut Alavi, turut merasakan penderitaan dan musibah rakyat Yaman dan tidak ingin berada di samping para penindas mereka. Ulama Pakistan juga selalu memperingatkan pemerintah dan militer negara ini tentang konsekuensi dari keterlibatan perang di Yaman.
Melihat adanya protes luas dari rakyat dan kalangan politisi Pakistan, maka ada kemungkinan bahwa pengiriman pasukan ke Arab Saudi dilakukan dengan dalih untuk melakukan manuver militer bersama di pinggiran Riyadh dan setelahnya akan dikirim ke Yaman.
Yang pasti, karena Arab Saudi telah memberikan bantuan finansial kepada Pakistan, maka pemerintah Islamabad tidak mampu menunjukkan penolakannya atas permintaan Riyadh, namun dalam jangka panjang, penentangan di kalangan masyarakat Pakistan terhadap kebijakan pemerintah tersebut tentunya akan meningkat. (RA)