Pertemuan Menlu Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa
Pertemuan dua hari para menteri luar negeri Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE) dimulai hari Kamis (7/12), dimana Austria menjadi ketua periodik, diselenggarakan di Wina dengan diikuti 41 negara termasuk Amerika dan Rusia. Agenda utama pertemuan ini adalah sejumlah ancaman keamanan bagi Eropa termasuk ekstremisme, terorisme dan krisis Ukraina.
Saat ini, Eropa menghadapi sejumlah ancaman besar. Ancaman ini dapat dikelompokkan dalam dua kategori; ancaman yang bersumber dari luar Eropa dan dari dalam Eropa sendiri. Ancaman dari luar Eropa yang paling penting adalah ancaman yang berasal dari aksi-aksi kelompok teroris. Contoh gamblangnya adalah sejumlah serangan kelompok teroris Daesh (ISIS) yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir di beberapa negara Eropa. Ancaman yang sejatinya membunyikan lonceng bahaya bagi Eropa.
Menurut Andrei Zaslavski, pakar anti-terorisme, mungkin dalam serangan teroris semacam ini korbannya sedikit, tapi pemberitaan luas akan serangan teroris mencerabut ketenangan masyarakat. Kondisi ini sebenarnya tujuan para teroris.
Sekalipun demikian, tidak boleh dilupakan bahwa Eropa sendiri punya peran langsung dalam pembentukan dan penyebaran kelompok-kelompok teroris. Tapi tantangan terbesar yang di hadapi Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa adalah krisis Ukraina dan masalah lanjutannya berupa penerapan sanksi luar Uni Eropa terhadap Rusia.
Nicolai Topornin, analis politik Rusia meyakini bahwa konflik di timur Ukraina dan upaya menemukan solusi baginya dalam kondisi saat ini merupakan problem baru bagi Rusia, bahkan lebih penting dari hubungan Moskow dan Washington.
Kini Austria menjadi ketua periodik organisasi ini dan para pejabat negara ini, khususnya Sebastian Kurz, Menteri Luar Negeri Austria meyakini perdamaian di Eropa hanya dapat terwujudkan dengan melakukan kerjasama dengan Rusia, bukannya melawan Rusia. Sejatinya, Kurz menyinggung berlanjutnya pendekatan bermusuhan Eropa terhadap Rusia telah terjadi seperti penempatan pasukan dan persenjataan militer di Eropa Timur dengan alasan mencegah kemungkinan aksi serangan Rusia.
Rapor Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa dalam menciptakan keamanan di benua ini tidak terlalu baik. Padahal organisasi ini merupakan organisai terbesar antarnegara atau internasional yang fokus pada masalah keamanan. Aktivitas organisasi ini mencakup kontrol senjata, hak asasi manusia, kebebasan pers dan pelaksanaan pemilu yang bebas.
Namun bila mencermati transformasi 15 tahun terakhir di Eropa, sebenarnya Rusia telah mengajukan sejumlah usulan untuk mereformasi organisasi ini. Rusia menekankan perubahan kewajiban organisasi ini. Menurut Moskow, Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa harus menghapus keterbatasan dan kendala yang menghambat perluasan kerjasama antara negara-negara anggota dan membantu penyelesaian masalah yang di hadapi seluruh negara Eropa. Akan tetapi pengaruh Amerika di organisasi ini membuat tipis harapan akan terjadi perubahan di sana.