Nasehat Cina kepada Amerika
Juru bicara Departemen Luar Negeri Cina saat mereaksi periliasan strategi baru keamanan nasional Amerika yang menyebut Beijing sebagai rival, meminta Washington melepas mentalitas era perang dingin dan permainan win-lose.
Hua Chunying menekankan, Amerika dengan melanjutkan pendekatannya telah merusak dirinya sendiri dan pihak lain. Ia juga menjelaskan, Beijing secara tegas akan tetap menjaga kedaulatan nasional, keamanan dan hak meraih kemajuan.
Gedung Putih hari Senin (18/13) merilis dokumen keamanan baru setebal 68 halaman. Di strategi ini ditekankan supremasi AS di tingkat internasional serta pengokohan kemampuan militer negara ini untuk memainkan peran negara adi daya. Dokumen ini menetapkan Rusia dan Cina sebagai ancaman bagi kekuatan, pengaruh dan kepentingan Washington.
Dokumen ini dirilis di saat pengamat Amerika meyakini bahwa kekuatan hegemoni Amerika mulai turun dan kekuatan global mulai berpindah dari Barat ke Timur. Gedung Putih sebelumnya dengan menyadari realita ini di era kepresidenan Barack Obama mulai menfokuskan militer serta kebijakan regionalnya ke Asia Timur khususnya Cina.
Upaya Amerika untuk memblokade Cina di laut mellaui perairan sekitar Cina dan daratan melalui perbatasan India dinilai pemerintah Beijing sebagai kelanjutan pendekatan era perang dingin yang di masa lalu ditujukan kepada Uni Soviet dan kini Amerika mengarahkannya kepada Cina.
Peter Swartz, pengamat politik internasional mengatakan, tujuan operasi pertama Amerika di era perang dingin mencakup upaya menghalangi perang konvensional dan nuklir antara negara ini dengan Uni Soviet. Bedanya Moskow saat itu sebuah kekuatan global, tapi Cina saat ini menganggap dirinya sebagai kekuatan regional dan tidak memutuskan untuk konfrontasi dengan Amerika.
Meski AS berusaha memanfaatkan militer sabagai alat represi di berbagai wilayah dunia termasuk terhadap Cina, namun negara ini juga memiliki alat lain seperti laju ekonomi, posisi tepat militer dan investasi. Sarana tersebut dinilai dapat mengancam hegemoni Amerika di berbagai wilayah dunia. Oleh karena itu, AS sangat khawatir dengan laju ekonomi Cina dan menilainya sebagai ancaman serius bagi kekuatan dominasinya.
Michisita, pengamat internasional mengatakan, "Meski Uni Soviet sebuah kekuatan militer, tapi Cina mengalami kemajuan dari sisi ekonomi dan kinerja ekonomi Beijing lebih unggul dari kinerja ekonomi Uni Soviet. Selain itu, dari sisi pelayaran maritim, Cina juga mampu mempengaruhi 9 hingga 11 jalur pelayaran. Cina kapan pun dapat mempersulit posisi mitra-mitra Amerika seperti Jepang di kawasan."
Bagaimana pun juga, strategi baru keamanan nasional Amerika yang umumnya fokus pada posisi dan kekuatan potensial Cina, menunjukkan bahwa Washington semakin khawatir masa depan transformasi dunia akibat pengaru kekuatan ekonomi dan bahkan militer Cina.
Namun penerapan kebijakan militer dan blokade Cina untuk menyeret negara ini ke bursa persaingan senjata dengan tujuan mencegah berlanjutnya laju ekonomi Cina adalah sebuah isu penting yang mendapat perhatian serius Beijing sehingga negara ini tidak terseret permainan Washington tersebut. (MF)