Pesan Rusia untuk Amerika Serikat
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan, Barat mengkhawatirkan kehilangan pengaruh globalnya dan akan melakukan apapun untuk mempertahankan ini. Menurutnya, Barat sedang berjuang untuk mempertahankan supremasi dan sulit menerima munculnya sistem dunia multipolar serta mencegah berkembangnya poros-poros kekuatan baru di dunia, termasuk Rusia.
Lavrov sudah sering berbicara mengenai kebijakan hegemonik Barat, terutama pendekatan unilateral yang diambil oleh Amerika Serikat untuk memaksakan ideologi dan tuntutannya terhadap dunia. Dari perspektif Moskow, intervensi Barat di negara-negara seperti Suriah, Libya dan Irak merupakan upaya langsung mereka untuk memaksakan hegemoni dan nilai-nilainya di tingkat global.
Pemerintah Rusia percaya bahwa sebuah konflik yang tidak begitu baru antara kekuatan hegemonik Barat dan rival-rivalnya sedang berlangsung di tingkat global. Barat selalu menganggap demokrasi liberal sebagai ideologi politik yang paling ideal di dunia, dan bahkan pasca Perang Dingin, seorang pemikir Amerika, Francis Fukuyama berbicara tentang berakhirnya sejarah.
Barat beranggapan bahwa parameter nilai dan tujuan adalah sesuatu yang mereka yakini, sementara negara-negara yang memiliki ideologi lain atau akar peradaban yang berbeda harus menyesuaikan dengan Barat. Mungkin karena alasan inilah mengapa AS memandang Rusia sebagai ancaman terbesar bagi tatanan global dan ingin melawannya, sebab Moskow tidak menerima nilai-nilai Barat sebagai nilai universal, dan mereka mendesak Barat untuk menghormati hukum internasional.
Barat telah meluncurkan propaganda besar dan perang psikologis melawan Rusia. Dalam pandangan Moskow, salah satu aspek terpenting dari kampanye Barat ini adalah tindakan terkoordinasi untuk melawan Rusia serta mencoba untuk membatasi dan melemahkannya.
Lavrov yakin bahwa kampanye anti-Rusia yang diprakarsa oleh Amerika, sangat dahsyat dan belum pernah terjadi sebelumnya, dan tujuan dari tindakan tersebut adalah untuk mencegah kemajuan Rusia.
Dari sudut pandang Kremlin, Washington sedang mengandalkan instrumen sanksi ketika merasa pendekatannya tidak mendapat sambutan. Penerapan sanksi, termasuk Undang-Undang CAATSA terhadap Rusia, merupakan bagian dari kebijakan unilateral Presiden Donald Trump. Meski sanksi ini menyasar sektor ekonomi, tapi ia diterapkan untuk mengejar tujuan politik.
Menurut seorang pengamat Rusia, Vladimir Zakharov, Amerika dengan tindakan barunya ini sebenarnya ingin menunjukkan ketidakmampuan Uni Eropa dan menekan negara-negara Eropa.
Rusia meminta Barat untuk meninjau ulang kebijakan dan tindakannya serta menyeru Dewan Keamanan PBB untuk meningkatkan perannya dalam tatanan global, sehingga tidak menyisakan ruang bagi Barat untuk mencampuri urusan negara lain, yang bertentangan dengan prinsip independensi dan kedaulatan negara-negara dunia. (RM)