Wanita Afghanistan Dipakai Menyelundupkan Narkoba
-
Tentara Amerika dan bisnis narkoba di Afghanistan
Jurubicara Badan Pemberantasan Narkoba Afghanistan mengkonfirmasikan semakin meningkatnya penggunaan wanita dalam menyelundupkan narkoba.
Ahmad Khalid Mowahid, Jurubicara Badan Pemberantasan Narkoba Afghanistan menyebut sejumlah faktor seperti kemiskinan, buta huruf, masalah ekonomi, kurangnya kesadaran dan paksaan dari pihak keluarga menjadi alasan utama mengapa semakin banyak wanita terlibat dalam penyelundupan narkoba.
Menurutnya, pasukan keamanan Afghanistan selama 11 bulan lalu telah menangkap 21 wanita dengan tuduhan penyelundupan narkotika.
Selain sejumlah faktor yang disebutkan oleh jurubicara badan pemberantasan narkoba Afghanistan sebagai sebab mengapa wanita bekerjasama dengan para penyelundup narkoba, harus ditambahkan bahwa fenomena ini menunjukkan produksi narkoba di Afghanistan meningkat tajam dan para mafia berusaha keras untuk mencari solusi baru untuk menyelundupkannya.
Keberhasilan pemerintah Afghanistan menutupi jalur-jalur penyelundupan narkoba menyebabkan para mafia narkoba di Afghanistan menggunakan jalur dan cara-cara baru untuk menyelundupkan narkoba, salah satunya adalah menggunakan wanita.
Masalah ini jelas bukan kesalahan pemerintah Afghanistan, tapi justru menunjukkan tengah dilaksanakannya kebijakan imperialis Amerika dan Inggris di negara ini. Mereka memperluas produksi dan penyelundupan narkoba yang membuat sulit pertumbuhan ekonomi Afghanistan dan di sisi lain, dengan merusak masyarakat negara ini, khususnya para pemuda dengan narkoba, dimana kurang dari dua dekade berhasil menciptakan pecandu lebih dari tiga juta orang. Bila kondisi ini terus berlangsung, ke depannya masyarakat Afghanistan bakal musnah.
Seyed Vahid Hosseini Zohouri, pengamat politik mengatakan, "Amerika dan NATO memanfaatkan geografi Afghanistan untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga produksi narkoba dilakukan langsung tanpa kendala. Mereka memindahkan narkoba ini untuk menjamin kebutuhan obat negara-negara Eropa dan Amerika, sementara masyarakat Afghanistan yang harus membayar upaya ini.
Anatoly Maradasov, analis politik mengatakan, "Alasan perselisihan dan tarik-menarik antara Taliban dan Daesh (ISIS) di Afghanistan kembali pada siapa yang berwenang memproduksi narkoba di provinsi-provinsi Afghanistan, sehingga santapan lezat ini tidak jatuh ke mulut pihak lain."
Bagaimanapun juga melibatkan wanita dalam roda penyelundupan narkoba di Afghanistan hasil dari kehadiran militer Amerika dan Inggris selama dua dekade di negara ini, yang berusaha untuk memusnahkan stabilitas keamanan masyarakat Afghanistan. Narkoba merupakan alat paling penting bagi Amerika dan Inggris dalam upayanya ini dan pemerintah London berusaha menghancurkan masyarakat Afghanistan untuk membalas dendam kegagalan mereka dalam era penjajah Afghanistan.