Mengapa Turki Tolak Gencatan Senjata di Utara Suriah
https://parstoday.ir/id/news/world-i52341-mengapa_turki_tolak_gencatan_senjata_di_utara_suriah
Juru bicara pemerintah Turki, Bekir Buzdag menekankan, operasi militer ranting Zaitun di wilayah Afrin, utara Suriah akan tetap berlanjut.
(last modified 2026-06-14T18:16:20+00:00 )
Feb 26, 2018 15:40 Asia/Jakarta

Juru bicara pemerintah Turki, Bekir Buzdag menekankan, operasi militer ranting Zaitun di wilayah Afrin, utara Suriah akan tetap berlanjut.

Bekir Buzdag juga menyatakan, keputusan Dewan Keamanan PBB untuk menerapkan gencatan senjata 30 hari di Suriah tidak akan berpengaruh pada operasi militer Turki di Afrin. Berdasarkan keputuan Dewan Keamanan, semua pihak yang terlibat konflik harus mempersiapkan peluang masuknya bantuan kemanusian ke berbagai wilayah konflik di Suriah.

 

Perang di Afrin

 

Dewan Keamanan PBB setelah tiga hari terlambat, akhirnya menggelar sidang untuk mengambil voting terkait gencatan senjata di Suriah, termasuk Ghaota Timur dan dengan suara bulat, anggota dewan menyetujui gencatan senjata 30 hari di Suriah. Meski demikian, petinggi Ankara seraya menolak segala bentuk gencatan senjata, masih tetap menabuh genderang perang.

 

Sebelumnya sejumlah elit politik regional mengkonfirmasikan tragedi kemanusiaan jika perang di Afrin terus berlanjut. Misalnya Hoshyar Abdullah, pengamat dan wakil Kurdi di parlemen Irak baru-baru ini mengatakan, PBB harus melawan intervensi militer Turki di Afrin, karena Ankara senantiasa merusak keamanan Afrin dan berusaha menerapkan tujuannya di kawasan ini di bawah kebungkaman internasional.

 

Terkait hal ini, Eldar Khalil, pengamat Suriah dan petinggi Kurdi Suriah mengatakan, "Kurdi di Afrin menekankan tekad mereka untuk menggagalkan rencana Turki di Aleppo dan membela Afrin."

 

Selain menolak gencatan senjata 30 hari, petinggi Ankara juga menentang segala bentuk perundingan dengan Suriah guna mengakhiri pembantaian warga sipil Suriah. Operasi militer Turki dengan sandi "Ranting Zaitun" di kota Afrin terhadap kekuatan Kurdi Suriah dimulai sejak 20 Januari 2018. Sejak operasi militer ini digelar, sedikitnya 171 warga sipil tewas dan 458 lainnya terluka.

Pengamat Suriah, Hoshyar Abdullah

 

Poin penting dari kehadiran militer Turki di wilayah Suriah adalah klaim melawan teroris. terkait hal ini, Mullat Makdad, pengamat internasional mengatakan, "Turki tengah melawan terorisme dengan memanfaatkan teroris. Kami sepenuhnya menentang kehadiran Turki di Suriah dan menilanya sebagai bentuk penjajahan. Dalam hal ini, kami juga menentang kehadiran militer Amerika di wilayah Suriah. Kami yakin bahwa setiap intervensi di kota Afrin melanggar kedaulatan Suriah dan kami meminta sekutu kami mencegah langkah Turki."

 

Sejatinya maksud dari pengamat Suriah tersebut adalah upaya Turki membantu milisi Front al-Nusra yang tercatat sebagai salah satu kelompok teroris yang aktif di wilayah Suriah.

 

Mengingat pergerakan ilegal militer Turki di wilayah Suriah harus dikatakan bahwa para pemimpin Turki tengah mengaktifkan arus yang tanpa diragukan lagi akan membuat hubungan dua negara tetanggi ini yakni Damaskus dan Ankara selama beberapa tahun kedepan akan tetap renggang. (MF)