Nuklir AS, Militer Eropa dan Konfrontasi Lawan Rusia
https://parstoday.ir/id/news/world-i52557-nuklir_as_militer_eropa_dan_konfrontasi_lawan_rusia
Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia dalam Konferensi Perlucutan Senjata PBB di Jenewa, Rabu (28/2) mengatakan, Amerika sedang mempersiapkan negara-negara Eropa untuk menggunakan senjata nuklir guna melawan Rusia. Pasukan Amerika, kata Lavrov, melatih tentara negara-negara Eropa, terkait taktik penggunaan senjata nuklir untuk melawan Rusia.
(last modified 2026-06-27T18:50:07+00:00 )
Mar 01, 2018 15:15 Asia/Jakarta

Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia dalam Konferensi Perlucutan Senjata PBB di Jenewa, Rabu (28/2) mengatakan, Amerika sedang mempersiapkan negara-negara Eropa untuk menggunakan senjata nuklir guna melawan Rusia. Pasukan Amerika, kata Lavrov, melatih tentara negara-negara Eropa, terkait taktik penggunaan senjata nuklir untuk melawan Rusia.

Sejak lama Rusia memprotes berlanjutnya penempatan senjata nuklir taktis Amerika di Eropa. Dalam pandangan  Moskow, penempatan senjata di Eropa ditambah sejumlah langkah provokatif yang bisa memicu perang nuklir oleh anggota NATO dan Amerika, telah menghambat proses perlucutan senjata nuklir di Eropa.

Untuk pertama kalinya, Menlu Rusia secara tegas menyatakan bahwa tujuan pelatihan penggunaan senjata nuklir di Eropa adalah untuk menyerang Rusia. Alasan Lavrov ingin mengubah kondisi berbau ancaman ini adalah penolakan negara-negara Eropa atas penempatan senjata nukir Amerika di benua ini.

Menlu Rusia meyakini, tekanan publik dan partai politik dapat mendesak Amerika menarik senjata nuklirnya dari Eropa. Karena konfrontasi Amerika dan Rusia di timur Eropa semakin menyeret negara-negara Eropa ke dalam perang nuklir yang lebih buruk ketimbang di era pasca perang dingin.

Menlu Jerman, Sigmar Gabriel mengatakan, layaknya perang dingin, kami di Eropa secara khusus berada di ambang persaingan senjata nuklir baru yang berbahaya dan tepat atas alasan ini, kita di Eropa harus memulai program baru untuk mengontrol senjata dan melucuti senjata.

Sergei Lavrov

Saat ini, bom nuklir B61, Amerika sudah ditempatkan di pangkalan udara Jerman, Turki, Belgia, Italia dan Belanda, namun kebijakan ini menuai protes keras dari masyarakat Eropa. Sebelumnya banyak kalangan memperkirakan bahwa seiring dengan berakhirnya perang dingin, Amerika akan menarik senjata nuklirnya dari Eropa.

Akan tetapi, secara praktis, Amerika bukan saja tetap mempertahankan arsenal nuklir taktisnya di Eropa, bahkan menganggarkan biaya besar untuk menjalankan program modernisasi senjata nuklir tersebut. Pada pertemuan petinggi NATO, Mei 2012 di Chicago, seluruh perwakilan negara anggota NATO menyetujui rencana modernisasi dan penggantian bom nuklir Amerika di Eropa, karena mereka dalam pertemuan itu menegaskan bahwa senjata nuklir merupakan bagian penting dari kebijakan pencegahan NATO dan harus dipertahankan.

Igor Korotchenko, editor majalah National Security Magazine percaya, baik Washington maupun Brussels sudah mengkaji skenario perang nuklir terbatas di Eropa.

Program penyebaran senjata nuklir ke negara-negara Eropa yang tidak memilikinya, membuka kesempatan bagi negara-negara itu untuk benar-benar memiliki senjata nuklir. Amerika dengan dalih menjaga keamanan Eropa, yang pada kenyataannya untuk mengontrol dan mengancam Rusia,  bahkan untuk melancarkan serangan nuklir atas negara itu jika sampai terjadi konfrontasi besar di level Eropa antara Rusia dan NATO, bersikeras mempertahankan arsenal bom nuklir B61 miliknya di Eropa. (HS)