Tekanan Masif Barat terhadap Rusia
-
Hubungan Barat dengan Rusia diwarnai banyak konflik dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Komite Militer Pakta Pertahanan Altantik Utara (NATO), Jenderal Petr Pavel mengaku memiliki informasi tentang kasus-kasus intervensi Rusia dalam urusan negara-negara anggota aliansi ini termasuk, Amerika Serikat, Jerman, Perancis, dan Republik Ceko.
"Ini bermasalah ketika perluasan pengaruh Rusia telah berubah menjadi campur tangan Moskow dalam urusan internal negara-negara berdaulat," tegasnya pada hari Jumat (16/3/2018).
Januari lalu, Sekjen NATO, Jens Stoltenberg juga memperingatkan interferensi Rusia dalam pemilu di beberapa negara Eropa termasuk dalam krisis Catalonia di Spanyol.
"NATO secara serius akan menyikapi langkah Rusia untuk mencampuri urusan negara lain termasuk di Spanyol," tambahnya.
Tuduhan baru NATO terhadap Moskow sejalan dengan kampanye masif Barat untuk melawan Rusia dalam beberapa hari terakhir, terutama setelah meningkatnya ketegangan antara Rusia dan Inggris. Perdana Menteri Inggris, Theresa May bahkan mengancam akan memboikot Piala Dunia 2018 dengan alasan keterlibatan Rusia dalam kematian mantan agen ganda, Sergei Skripal.
Salah satu isu yang diangkat selama beberapa tahun terakhir, khususnya setelah tuduhan campur tangan Rusia dalam pilpres AS, mengenai klaim keterlibatan Moskow dalam urusan internal negara lain, termasuk pemilu di negara-negara Eropa.
Pemerintah Rusia membantah semua tuduhan itu. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mengatakan tidak ada bukti sama sekali yang mendukung klaim tersebut.

NATO dan Rusia sudah lama terlibat konfrontasi dan konflik di Eropa Timur. Tudingan terbaru Aliansi mencerminkan upaya terkoordinasi Barat untuk mengintensifkan tekanan politik dan militer terhadap Rusia menjelang pemilu presiden pada 18 Maret 2018.
Washington bahkan telah menerapkan undang-undang "Menangkal Musuh Amerika melalui Sanksi" (CAATSA) terhadap Moskow, dengan alasan campur tangan negara itu dalam pilpres 2016.
Pengamat politik Rusia, Paul Sharikov percaya bahwa AS telah menjadikan 'masalah Rusia' sebagai subjek pertarungan politik internal mereka sehingga hal ini memperburuk hubungan bilateral antara Washington dan Moskow.
Rusia juga dituduh mencampuri urusan pemilu presiden Perancis, dan dianggap mendukung lawan Emmanuel Macron, yaitu politisi sayap kanan Marine Le Pen, namun tudingan ini tidak terbukti.
Pada November 2017, Spanyol menuding Rusia menggunakan media sosial untuk mempromosikan referendum kemerdekaan Catalonia. Para pejabat Rusia membantah adanya campur tangan dalam urusan internal Spanyol.
Barat bahkan membuat tuduhan tentang upaya Rusia untuk mempengaruhi publik Inggris sebelum referendum Brexit. Di sisi lain, Barat terutama AS secara langsung melancarkan perang media dan propaganda terhadap pemerintah Moskow dan Presiden Vladimir Putin setiap musim pemilu di Rusia.
Menurut Rajab Safarov, pengamat politik Rusia, persoalan utama AS bukanlah Rusia, melainkan Putin, karena mereka percaya jika Putin tidak ada, kedua negara dengan mudah bisa bekerja sama. Jadi, Washington meluncurkan berbagai perang media dan lainnya untuk menyerang pribadi Putin.
Saat ini, menjelang pelaksanaan pilpres Rusia, Barat dan Amerika mulai meningkatkan aksinya untuk menciptakan ketidakstabilan, memprovokasi massa, dan menjustifikasi sanks-sanksi baru terhadap Moskow. (RM/PH)