Makar Skala Masif Barat Anti-Rusia
-
Kremlin
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, Senin (26/3/2018) menyebut Inggris dan Amerika Serikat sebagai pengelola aksi provokatif Salzburg (mengacu pada insiden keracunan mantan mata-mata Rusia, Sergei Skripal) dan menyatakan, "Untuk masing-masing negara yang terlibat dalam pengusiran para diplomat Rusia, kami akan mengambil keputusan berbeda."
Amerika Serikat sebelumnya mengusir 60 diplomat Rusia yang bermarkas di AS, termasuk 12 pejabat kantor perwakilan tetap Moskow di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tidak hanya itu, 17 negara Uni Eropa, bersama dengan Australia, Kanada dan Ukraina, mengusir sejumlah diplomat Rusia guna mendukung London. Dengan demikian jumlah total diplomat Rusia yang diusir mencapai 100 orang.
Inggris mengusir 23 diplomat Rusia beberapa hari lalu tanpa terlebih dahulu memberikan bukti kongkret untuk mengukuhkan klaimnya anti-Moskow. Rusia, pada gilirannya, selain mengumumkan pengusiran 23 diplomat Inggris juga menutup Pusat Kebudayaan Inggris di Moskow (British Council).
Perdana Menteri Inggris, Theresa May, pasca reaksi yang lebih tegas dari Rusia, mengumumkan bahwa pihaknya akan mengambil langkah lebih lanjut terhadap Moskow.
Dari sudut pandang Moskow, upaya terkoordinasi Barat ini merupakan indikator makar terencana dengan tujuan menekan Rusia dan mengisolasi negara itu di kancah internasional.
Menurut Zacharov, di balik tindakan ini ada orang-orang kuat dan berpengaruh di Inggris dan Amerika Serikat. Dia percaya bahwa NATO berada di balik upaya Uni Eropa dan bahwa organisasi tersebut sedang berusaha mencoreng citra Rusia.
Dmitry Igorchenkov percaya bahwa kasus Skripal hanya alasan untuk memperluas NATO dan meningkatkan sanksi terhadap Rusia. Ditambahkannya, Washington mengatakan Eropa adalah garis terdepan dalam "perang gabungan" melawan Rusia.
Moskow bersikeras bahwa London belum memberikan bukti substantif dari keterlibatan pemerintah atau pejabat pemerintah Rusia dalam insiden keracunan Skripal dan putrinya. Menurut Leonid Rink, seorang ahli kimia, Rusia tidak ada kaitannya dengan insiden keracunan Skripal, dan di sisi lain, Rusia tidak mungkin mengambil tindakan seperti itu dalam situasi yang sensitif seperti pemilihan umum presiden dan menjelang pertandingan sepakbola Piala Dunia.
Pada saat yang sama, tidak boleh dilupakan bahwa Inggris yang menghadapi banyak tekanan karena banyak perdebatan dengan Uni Eropa tentang keluarnya London dari blok tersebut serta meningkatnya kritik di bidang ini, sekarang sedang mencoba keberuntungan untuk membesar-besarkan insiden Skripal guna merangkul kembali Uni Eropa. Kesempatan ini juga digunakan London untuk membenahi hubungannya dengan Amerika Serikat, terutama setelah protes internal meluas atas kunjungan Presiden AS Donald Trump dan pernyataan ofensifnya terhadap Theresa May yang berujung pada pembatalan lawatannya ke London.
Di sisi lain, Barat sekarang menemukan alasan untuk menggulirkan kampanye politik, diplomatik, dan propaganda skala massif anti-Moskow, dan oleh karena itu diperkirakan masyarakat dunia akan menyaksikan lanjutan episode krisis ini dalam skala lebih besar dalam waktu dekat.(MZ)