Hubungan AS dan Eropa Memburuk, Mengapa?
-
Uni Eropa-Amerika Serikat
Ketua Dewan Eropa, Donald Tusk meminta pemimpin negara-negara anggota Uni Eropa mempersiapkan diri menghadapi skenario terburuk di hubungan dengan Amerika Serikat, karena kebijakan Presiden AS Donald Trump bertentangan dengan nilai-nilai organisasi ini.
Tusk merilis surat terbukanya menjelang sidang anggota dewan ini. Para pemimpin Uni Eropa di sidang yang digelar Kamis dan Jumat akan mengkaji hubungan organisasi ini dengan Amerika Serikat.
Surat Tusk kepada para pemimpin Eropa menguak realita yang tak dapat dipungkiri terkait hubungan Eropa dan Amerika, yakni kian memburuknya hubungan kedua sekutu ini. Hubungan antara Eropa dan AS kini dibayangi kebijakan, keputusan dan langkah Trump yang kerap menimbulkan tensi.
Meski sampai saat ini masih terdapat list panjang friksi antara kedua pihak, namun eskalasi tensi akibat pendekatan dan langkah Trump di bidang perdagangan internasional yang melilit secara langsung kepentingan Eropa khususnya Jerman sebagai negara yang bertumpu pada sektor ekspor, kian membuat runcing sengketa kedua pihak.
Di antara kebijakan Trump adalah menerapkan tarif 10 hingga 25 persen bagi impor baja dan aluminium Eropa. Langkah ini tentu saja membangkitkan kemarahan Eropa dan direspon dengan kebijakan serupa. Setelah dibalas Eropa, ternyata Trump tidak bersedia mundur, bahkan mengancam akan menerapkan tarif 20 persen bagi impor kendaraan dari Eropa.
Perusahaan besar otomotif Amerika mengumumkan bahwa langkah seperti ini akan menambah anggaran sekitar empat hingga lima miliar dolar bagi konsumen kendaraan di Amerika dan menghapus dampak penurunan pajak. Jika Trump merealisasikan janjinya, maka hal ini akan membangkitkan reaksi keras Eropa dan hubungan keduanya akan semakin parah.
Dodalt Tusk mengatakan, "Meski ada upaya tak kenal lelah kami untuk menjaga persatuan Barat, hubungan kedua pihak semakin tertekan akibat kebijakan Trump." Meski para pemimpin Eropa berulang kali meminta Washington tetap komitmen dengan perjanjian internasional, Trump memutuskan keluar dari Perjanjian Iklim Paris dan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).
Kini para pemimpin Eropa sepenuhnya menyadari bahwa friksi antara mereka dengan Amerika bukan hanya di sektor perdagangan. Sejatinya keputusan negatif Trump kini menjadi teladan. Menurut pandangan Trump, tidak ada perbedaan antara sahabat dan musuh Amerika. Ia menyikapi sama semua pihak dan uniknya ini sikap negatif.
Trump ketika mengambil keputusan pada dasarnya tidak pernah mengindahkan struktur hukum internasional. Ia tidak pernah memandang nilai dan ketentuan yang ada. Pendekatan Trump kontradiksi dengan kebijakan Eropa. Oleh karena itu, petinggi Uni Eropa bukan hanya membahayakan Uni Eropa bahkan bagi seluruh Eropa.
Selain itu, friksi Eropa dan AS terkait JCPOA secara praktis menempatkan Brussels dan Washington dalam front yang berbeda. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini mengatakan, bagian besar dari masyarakat dunia cenderung mendukung JCPOA.
Menurut pandangan Eropa, JCPOA membantu perdamaian dan keamanan regional serta internasional, namun Trump dan timnya mengklaim bahwa kesepakatan nuklir dengan Iran tidak menjamin kepentingan dan tujuan Amerika. Mereka menuntut pembatalan JCPOA dan eskalasi represi terhadap Tehran, di sisi lain, menurut prespektif Eropa, kesepakatan nuklir adalah kesepakatan yang sukses dan mereka menghendaki JCPOA tetap dipertahankan. (MF)